Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Saintek

Badai Matahari Bisa Ganggu Satelit Komunikasi di Bumi

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 9 Juni 2011 08:34
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Suar (debu) surya yang tidak lazim berhasil diamati observatorium ruang angkasa NASA. Disinyalir, badai matahari itu bisa menyebabkan gangguan pada satelit komunikasi dan energi di Bumi selama beberapa hari ke depan atau lebih.

Ledakan keras dari Matahari telah melepaskan badai radiasi pada tingkat yang tidak pernah disaksikan sejak 2006, dan kemungkinan akan mengantar pada aktivitas badai geomagnetik, Rabu waktu AS atau Kamis WIB esok, demikian National Weather Service.

“Yang satu ini sedikit dramatis,” kata Bill Murtagh, koordinator program di Pusat Peramalan Cuaca Ruang Angkasa NWS seraya menggambarkan surya suar M-2 (berukuran medium) yang memuncak pada pukul 1.41 pagi waktu Amerika Serikat bagian timur atau 05.41 GMT.

“Kami melihat suar awal muncul dan itu tidak sebesar itu tetapi kemudian muncul erupsi yang berkaitan dengan itu — kami mendapat radiasi partikel energi yang mengalir masuk dan kami mendapati injeksi massa korona yang besar,” kata dia.

“Anda bisa melihat semua material meledak dari Matahari sehingga cukup luar biasa untuk dilihat.”

Baca Juga

Lithium Air Laut
China Temukan Cara Baru Menambang Lithium Air Laut
7 dari 10 Warga Malaysia Ingin Medsos Dilarang untuk Anak di Bawah 14 Tahun
Warisi Generasi Old, Milenial Akan jadi ‘Generasi Terkaya dalam Sejarah’
Minum Air Zamzam Sembuhkan Sakit dan Kuatkan Hafalan
Ilmuwan Menemukan Koridor Tersembunyi di Piramida Agung Giza Mesir

Observatorium dinamika Matahari milik NASA yang diluncurkan tahun lalu dan menghasilkan gambar-gambar dan video berdefinisi tinggi mengenai peristiwa itu, digambarkan sebagai “mengagumkan secara visual,” tetapi ditegaskan bahwa erupsi tidak secara langsung mengarah ke Bumi. Pengaruhnya diharapkan minim.

“Partikel-partikel awan besar membesar dan jatuh kembali seolah menutupi satu area hampir separuh dari permukaan Matahari,” kata NASA dalam satu pernyataan.

Murtagh mengatakan para analis cuaca ruang angkasa melihat dengan teliti untuk melihat apakah peristiwa itu akan menyebabkan benturan medan magnet Matahari dan Bumi yang jauhnya kira-kira 93 juta mil (150 juta kilometer).

“Sebagian dari tugas kami di sini adalah memantau dan menentukan apakah peristiwa itu diarahkan Bumi karena pada dasarnya material yang meledak keluar adalah gas berisi gabungan medan magnet,” kata dia.

“Dalam satu hari atau lebih dari sekarang. kami memperkirakan beberapa dari material itu menabrak kita dan menciptakan satu gelombang geomagnetik,” katanya.

“Kami tidak mengharapkannya menjadi benar-benar dahsyat tetapi itu bisa menjadi semacam badai bertingkat moderat.”

Pusat Peramalan Cuaca Ruang Angkasa mengatakan peristiwa itu “ditaksir menyebabkan tingkat aktivitas badai geomagnetik G1 (kecil) hingga G2 (sedang) besok, 8 Juni, mulai jam 18.00 GMT (Jumat WIB pukul 1 dini hari).”

Setiap aktivitas badai geomagnetik kemungkinan akan tuntas dalam 12-24 jam.

“Badai radiasi Matahari mencakup kontribusi yang signifikan dari proton energi tinggi, yang pertama muncul sejak Desember 2006,” kata NWS.

Sebanyak 12 satelit dan pesawat ruang angkasa memantau heliosfer dan satu instrumen khususnya dalam orbiter peninjau bulan milik NASA yang mengukur radiasi dan dampaknya.

“Tentu saja selama (dua tahun) hidup misi ini, peristiwa itu adalah yang terpenting,” kata Harlan Spence, peneliti utama pada teleskop sinar kosmik untuk pengaruh radiasi atau CRaTER.

“Ini sungguh menarik karena ironisnya saat kami mengembangkan misi pada awalnya kami pikir kami akan meluncurkan lebih dekat ke Matahari paling banter saat partikel Matahari besar ini muncul,” kata Spence kepada AFP.

“Sebagai gantinya kami meluncur ke dalam orbit Matahari bersejarah, minimal membutuhkan waktu sangat lama untuk bangun,” kata dia.

“Ini menarik dan penting karena menunjukkan Matahari kembali kepada keadaan yang lebih aktif.”

Badai geomagnetik yang dihasilkan bisa menyebabkan beberapa gangguan dalam kisi-kisi tenaga satelit-satelit yang mengoperasikan “global posotioning system” dan perangkat lain, dan bisa mencipta beberapa perubahan rute penerbangan di seluruh kutub, kata Murtagh.

“Biasanya itu tidak akan menyebabkan masalah besar, itu hanya membutuhkan pengelolaan,” kata dia.

“Bila anda terbang dari Amerika Serikat ke Asia, terbang di atas Kutub Utara, ada lebih dari selusin penerbangan setiap hari,” kata dia.

“Selama badai radiasi besar ini beberapa maskapai penerbangan akan mengubah rute penerbangan menjauhi wilayah kutub demi alasan keamanan demi memastikan mereka bisa terus berkomunikasi.

“Orang-orang yang mengoperasikan satelit juga akan mengawasi hal ini karena badai geomagnetik bisa bertentangan dengan satelit-satelit dalam berbagai cara, baik satelit itu sendiri maupun sinyal yang datang dari panel penerima (receiver).”

 Aurora borealis (cahaya utara) dan aurora australis (cahaya selatan) kemungkinan akan juga bisa dilihat dalam beberapa jam terakhir pada tanggal 8 atau 9 Juni, demikian NASA.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Teriakan Safia: Saksi Mata Perempuan Korban Bosnia
Tulisan selanjutnya Qadhafi Tak Ciut Nyali Meski Diserang Bertubi-tubi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Terbaru

  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Saintek

Para Ilmuwan Lakukan Deteksi Autisme pada Rambut

9 Januari 2023 20:30
Saintek

Tantangan Teknologi, Banyak Orang Oversharing dan Umbar Aib di Media Sosial

26 Desember 2022 14:00
Saintek

(Video) Kuasa Allah, Ilmuwan Berhasil Merekam Tumbuhan yang Bernapas

23 Desember 2022 15:10
Saintek

Selandia Baru akan Siapkan Undang-undang agar Facebook dan Google Membayar Berita

5 Desember 2022 11:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?