Hidayatullah.com–Negara tidak akan mampu membendung derasnya arus informasi dan gegap gempita teknologi yang akan kian moncer di masa mendatang. Untuk itu, tidak ada jalan lain untuk mewaspadai efek negatif dari arus ini, selain menjadikan keluarga sebagai tameng utama.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah, Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI, di Jakarta, Jumat (10/6).
Siklus ilmu pengetahuan terapan seperti teknologi dan rekayasa sistem informasi di masa mendatang, tidak bisa dielakkan lagi, kian mengalami perkembangan yang dahsyat. Sisi negatif dari fenomena ini, imbuh Abu, jelas ada, sehingga negara dengan segala perangkatnya tidak bisa diharapkan untuk mampu membendungnya.
“Ini adalah tantangan dan menjadi tanggungjawab setiap keluarga muslim,” tukas Abu.
Dalam pada itu, lanjut Abu, keluarga Muslim mestinya segera bersiap diri sedini mungkin memasuki era yang penuh tantangan kelak itu.
Paling tidak ada 3 poin penting yang harus dihidupkan dan menjadi perhatian setiap muslim agar tegak dengan nilai-nilai Islam yang luhur dan berkeadaban.
Pertama, hendaknya setiap keluarga muslim berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam dan menerapkannya di lingkungan keluarga dan lingkungnnya tempat ia berada. Ajaran Islam, lanjut Abu, sejatinya adalah akhlak Al-Qur’an yang dimiliki setiap muslim.
Kedua, hendaknya keluarga muslim selalu menggiatkan kegiatan dakwah Islam kepada segenap khalayak dan menghilangkan sama sekali fanatisme golongan yang dapat mengikis semangat persatuan umat.
“Jangan sampai ashbabiyah (fanatisme golongan, red) yang dominan. Kita patut berbangga hanya karena Allah, karena Islam, karena Rasulullah, karena Al Qur’an dan Sunnah, jangan karena kelompok,” terang pria kalem ini.
Ketiga, lanjut Abu, setiap muslim hendaknya senantiasa mengupayakan diri bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) setiap saat dengan ibadah-ibadah fardu. Juga memperbanyak ibadah sunnah, seperti menegakkan sholat malam (sholatul lail), berdzikir.
“Kita tidak bisa mengharapkan negara membendung pengaruh negatif dari derasnya arus informasi dan teknologi. Justru benteng pertahanan itu ada pada keluarga kita. Mari kita membangun peradaban Islam yang luhur itu dari keluarga,” pungkasnya.*