PARA peneliti Australia mendorong ibu-ibu yang memiliki anak-anak kecil menghindari segala bentuk aktivitas berbasis layar (tablet, smartphone, dan lain-lain) untuk mengurangi tingkat kecemasan, yang umumnya kecemasan ibu sudah tinggi karena kesibukannya dan terganggunya saat tidur malam.
Satu studi yang diterbitkan dalam jurnal, Plos, kemudian dilansir oleh AFP dan FMT News, Rabu (25/5/2016), telah meneliti jumlah waktu yang dihabiskan untuk kegiatan berbasis layar dengan risiko bertambahnya kecemasan. Wanita berusia antara 25 dan 34 umumnya mengalami risiko tertinggi, karena kelompok usia ini lebih banyak terhubung ke internet dan jaringan sosial.
Para peneliti dari Deakin University mempelajari 528 ibu di Australia dengan usia rata-rata 37 dan dengan anak-anak berusia antara dua sampai lima tahun. Hampir 30% dari mereka menunjukkan tanda-tanda kecemasan.
Para ibu diberi kuesioner, meminta mereka menyebutkan berapa jam menghabiskan aktivitas menggunakan layar (TV, komputer, smartphone, tablet, dan lain-lain) selama waktu luang mereka dan pada akhir pekan. Tingkat kecemasan mereka untuk minggu sebelumnya diukur menggunakan skala yang telah ditetapkan untuk kriteria kecemasan.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan jelas antara jangka waktu yang lama dihabiskan di komputer atau perangkat genggam dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Terlebih lagi, tingkat kecemasan diketahui meningkat dengan setiap jam yang dihabiskan menggunakan perangkat tersebut. Namun, penelitian ini tidak menemukan hubungan antara menonton TV dan gejala kecemasan.
Para peneliti juga menemukan bahwa latihan fisik tidak mengurangi efek negatif dari teknologi baru tersebut. Bahkan ibu-ibu yang melakukan banyak latihan fisik, tetapi juga menghabiskan waktu yang lama pada perangkat komputer atau genggam, tetap berisiko lebih tinggi terhadap kecemasan.
Sungguh ini merupakan suatu yang sulit untuk mengubah perilaku terhadap populasi yang memiliki keterbatasan waktu yang ketat tersebut. Namun, para peneliti menyarankan para ibu bisa mencoba “detoks digital” dengan membatasi waktu layar mereka.
Bahkan bisa diciptakan sebuah tantangan di antara kalangan dengan mendorong keberanian para ibu mematikan perangkat tersebut.
Para ilmuwan menyarankan para ibu “beristirahat” terhadap gaya hidup yang menyita banyak waktu di depan layar, dengan pergi berjalan-jalan atau melakukan beberapa kegiatan peregangan, misalnya. Atau juga menetapkan batas waktu maksimum menggunakan perangkat genggam tersebut, antara 20 sampai 30 menit, kemudian beralih ke aktivitas lain atau beristirahat.
Akhirnya, untuk mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kualitas hidup keluarga, para ahli merekomendasikan menghindari menggunakan perangkat layar saat di tempat tidur, pada waktu makan, di perjalanan atau kunjungan, atau ketika berlibur.*