Hidayatullah.com-Belum lama ini, data jutaan pengguna Facebook disalahgunakan Cambridge Analytica untuk sasaran kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Orang-orang jadi beranggapan Facebook tidak bisa menjaga privasi data penggunanya.
Terkait kebocoran data itu, pakar teknologi informasi (information technology/IT), Ismail Fahmi, menjelaskan, pemanfaatan data ini untuk memanipulasi informasi yang sampai ke pengguna lewat antara lain iklan di Facebook.
“Kalau di Amerika, iklan lebih banyak pro Trump dan jelek-jelekkin Hillary misalnya. Jadi kayak adu domba. Jangan sampai mereka berhasil mengadudomba kita. Jangan sampai upaya mereka membuat suasana keruh itu berdampak pada kita,” ujarnya mengingatkan saat dihubungi hidayatullah.com Jakarta, Rabu (28/03/2018).
Baca: Inilah Semua Data Pribadi Anda yang Disimpan Facebook dan Google
Untuk mencegah kasus serupa terjadi pada pengguna Facebook di Indonesia, ia menegaskan, harus ada penggalakan edukasi kepada publik untuk tidak menyebarkan informasi-informasi berharga di internet.
Kalau di luar negeri, tuturnya membandingkan, edukasi literasi sudah diberikan di sekolah.
“Itu sangat penting untuk menyadarkan mereka bahwa yang mereka taruh di media sosial suatu saat dengan mudah bisa diketahui dan diambil orang. Ini kesadaran yang enggak ada di kita,” ucapnya.
Baca: Facebook Dinilai Tak Adil, AILA Beralih ke Medsos Buatan dalam Negeri
Karena itu, kata dia, program pendidikan khusus mengenai internet, siber, teknologi harus segera dibuat. Sebab banyak anak kecil sekarang ini yang sudah memegang handphone.
Kalau mengandalkan regulasi pemerintah untuk menjaga data di Facebook, menurutnya, posisi pemerintah lemah. Karena yang bisa pemerintah lakukan hanya mengimbau atau menganjurkan Facebook untuk menjaga data pengguna Indonesia.
“Kalau memaksa itu agak susah juga. Selama ini, kan, pemerintah mencoba untuk memaksa Facebook bayar pajak, masih susah, kan?” ujarnya.
Baca: Pahami Sejarahmu: Google Sudah jadi Kontraktor Intelijen Sejak Awal
Menurutnya, kasus penyalahgunaan data Facebook sekarang ini bisa jadi momentum yang bagus bagi umat Islam untuk membuat platform sendiri.
“Kita, kan, mayoritas Islamnya banyak ya. Mulailah paling enggak punya platform sendiri. Enggak harus persis Facebook,” katanya.
Nantinya dalam platform itu, kata dia, umat Islam, pesantren, dan banyak ormas Islam bisa membangun jaringan ekonomi, informasi, dakwah, dan lain sebagainya.* Andi