Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tekno

Pembuat Aplikasi Sholat Diduga Jual Data untuk Memata-mati Kegiatan Harian Umat Islam

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 12 Januari 2021 10:22 10:22 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 12 Januari 2021 10:22
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Aplikasi sholat populer lainnya diduga menjual data lokasi pengguna ke perusahaan teknologi yang memiliki hubungan dengan militer AS, lapor Middle East Eye (MEE). Sebuah aplikasi sholat dijual perusaan Prancis ke militer untuk melacak kegiatan harian kaum Muslim.

Situs web teknologi Vice’s Motherboard melaporkan pada hari Senin (11/01/2021) bahwa Salaat First menjual data lokasi pengguna ke Predicio, sebuah perusahaan Prancis yang sebelumnya merupakan bagian dari rantai pasokan data kompleks yang melibatkan kontraktor pemerintah AS yang bekerja dengan FBI, ICE, dan Bea Cukai dan Border Protection.

Motherboard melaporkan bahwa ia memperoleh kumpulan data besar dari pergerakan pengguna aplikasi yang mentah dan akurat dari seorang sumber.  Dikatakan sumber itu “prihatin” bahwa informasi sensitif semacam itu berpotensi melacak Muslim menjalani kehidupan sehari-hari mereka dan dapat disalahgunakan oleh mereka yang membeli dan memanfaatkan data tersebut.

“Dilacak sepanjang hari memberikan banyak informasi, dan seharusnya hal itu tidak digunakan untuk melawan Anda, terutama jika Anda tidak menyadarinya,” kata sumber itu.

Menurut situs teknologi, Salaat First ditemukan telah menjual data pengguna di Android – di mana aplikasinya telah diunduh lebih dari 10 juta kali.  Hicham Boushaba, pengembang aplikasi, tidak menanggapi permintaan wawancara Middle East Eye tetapi mengatakan kepada Motherboard bahwa pengumpulan data hanya dimulai jika aplikasi diunduh di Inggris, Jerman, Prancis, atau Italia.

Baca Juga

Beginilah Zionis Mempersiapkan Remaja dan Pelajar jadi Generasi Tentara Siber
Sejumlah Kementerian Zionis Diserang Hacker Dunia  
Kecerdasan Buatan Tetap Terbatas Gunakan Sumber Daya yang Ada
Tak Dapat F-35, Turki Luncurkan KAAN, Pesawat Siluman Generasi ke-5
PP Muhammadiyah Luncurkan Aplikasi MASA

Baca: Laporan: Militer AS Membeli Data Lokasi yang Diambil dari Aplikasi Populer ‘Muslim Pro’

Boushaba mengonfirmasi bahwa aplikasi tersebut mengirimkan data lokasi pengguna ke Predicio, tetapi mengatakan dia “memutuskan untuk mengakhiri perjanjian” pada 6 Desember menyusul skandal yang melibatkan aplikasi ibadah Muslim populer, Muslim Pro.

Motherboard melaporkan bahwa sementara kebijakan privasi Salaat First di situsnya menyebutkan Predicio – menurut versi kebijakan yang diarsipkan dari Agustus 2020 – aplikasi itu sendiri tidak berisi salinan atau tautan ke kebijakan privasi, melanggar kebijakan Google Play Store.

Seorang juru bicara Google memberi tahu Motherboard bahwa “Play Store melarang penjualan data pribadi atau sensitif yang dikumpulkan melalui aplikasi Play. “Kami menyelidiki semua klaim yang terkait dengan aplikasi yang melanggar kebijakan kami, dan jika kami mengkonfirmasi adanya pelanggaran, kami mengambil tindakan,” katanya.

Predicio secara singkat menghapus situs webnya setelah laporan hari Senin dan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa “tidak mendukung kasus penggunaan pemerintah, komersial, atau pribadi yang bertujuan untuk menggunakan data intelijen bisnis untuk mengidentifikasi etnis, agama, atau kelompok politik untuk pelacakan manusia atau identifikasi orang dalam bentuk apa pun”.

Pengawasan terhadap Muslim

Salaat First adalah yang terbaru dari rangkaian aplikasi yang ditujukan untuk Muslim yang telah ditemukan telah menjual data mereka ke perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemerintah AS.  Pada bulan November, Muslim Pro, yang memiliki hampir 100 juta unduhan di seluruh dunia, diungkapkan oleh Motherboard telah menjual datanya ke perusahaan data X-Mode, yang kemudian menjual informasi tersebut kepada militer AS.

Baca: Khatam Qur’an Setiap Hari Berjamaah dengan Aplikasi E-Murojaah

Berita itu memicu kecaman internasional dan menghidupkan kembali perdebatan tentang program pengawasan massal pemerintah AS terhadap Muslim setelah “perang melawan teror”. Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi hak-hak sipil Muslim terbesar di AS, menyerukan penyelidikan kongres terhadap kemungkinan pengawasan Muslim Amerika dan memperingatkan anggota kelompok agama untuk berhenti menggunakan aplikasi tersebut.

Kami meminta Kongres untuk melakukan penyelidikan publik menyeluruh tentang penggunaan data pribadi pemerintah untuk menargetkan komunitas Muslim di sini dan di luar negeri, termasuk apakah data ini digunakan untuk secara ilegal memata-matai target Muslim Amerika,” kata direktur eksekutif nasional CAIR Nihad Awad di November.

Pada hari Senin, Senator AS Ron Wyden, yang kantornya telah melakukan penyelidikan terhadap industri pialang data, mengatakan kepada Motherboard bahwa Google dan Apple “perlu melarang semua pialang data yang curang dan menipu ini dari toko aplikasi mereka”.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aplikasi shalatdatamata-mataMuslimsalaat first
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sidang Putusan Gugatan Praperadilan HRS, Polisi Larang Pengerahan Massa di PN Jaksel
Tulisan selanjutnya Semangat Meningkatkan Pelayanan Halal Berbasis Teknologi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Tekno

Google Sudah Lewat, Gen Z Cari Berita dan Informasi di TikTok

16 November 2023 14:45
IptekesTekno

Ratusan Nomor Telepon Terindikasi Penipuan Online Diblokir Pemerintah

16 November 2023 14:32
IptekesTekno

Kemenag Kembangkan Layanan Chatbot Al-Qur’an dengan Teknologi Artificial Intelligence

21 September 2023 20:49
pinjaman online
Tekno

Masyarakat Digital Mandiri Berdaulat dengan Platform Komunitas

28 Februari 2023 12:37
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?