Hidayatullah.com– Pemerintah melakukan modifikasi cuaca dengan menebarkan sebanyak 25,6 ton (25.600 kilogram) NaCl atau garam sejak Jumat hingga Senin (03-06/01/2020).
Operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) itu dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Pada sepanjang Senin kemarin, BNPB dan BPPT menebarkan 6.400 kg NaCl.
“Penyemaian material TMC bertujuan untuk mengalihkan potensi awan hujan sebelum hujan lebat masuk ke wilayah Jabodetabek,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo dalam siaran persnya di Jakarta kutip hidayatullah.com pada Selasa (07/01/2020) pagi.
BPPT melaporkan, penyemaian berdasarkan data pertumbuhan awan yang didominasi faktor adveksi awan, yaitu di wilayah barat daya, barat dan barat laut wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi atau Jabodetabek.
Menurut pemerintah, pertumbuhan awan tampak pada pagi hingga sore. Dari operasi TMC yang berlangsung pada Senin (06/01/2020), BPPT melakukan 4 sorti dengan menggunakan pesawat jenis CN 295 dan Casa 212-200.
“Area semai mencakup barat daya – barat – barat laut Jabodetabek,” sebutnya.
Berdasarkan laporan TMC pada Senin sore (06/01/2020), hujan berhasil diturunkan di perairan barat laut dan barat daya Jabodetabek.
Operasi teknologi modifikasi cuaca sejak Jumat-Senin (03-06/01/2020) untuk mempercepat penurunan hujan agar hujan turun sebelum mencapai wilayah Jabodetabek.
Penebaran garam tersebut dilakukan melalui 16 sortie penerbangan dengan menggunakan pesawat CN-295 dan 8 Casa 212-200 yang masing-masing melakukan 8 sortie penerbangan.
“Hujan berhasil diturunkan di wilayah perairan sehingga hujan yang masuk di daerah Jabodetabek berkurang baik durasi maupun intensitasnya,” sebut Kepala BPPT Hammam Riza kutip Antaranews, Selasa (07/01/2020).
Adapun penyemaian awan untuk mempercepat penurunan hujan tersebut wilayah-wilayah di barat, barat daya dan barat laut Jabodetabek, yakni meliputi Perairan Barat Pandeglang, Barat Daya Pandeglang, Selat Sunda, dan Perairan Timur Lampung hingga Sebagian wilayah Teluk Jakarta.
Menurut Hammam, pertumbuhan awan-awan didominasi dari wilayah Upwind dari Jabodetabek. Menurutnya, pertumbuhan awan cukup besar dan masih terjadi hujan dikarenakan wilayah sekitar target merupakan daerah konvergensi angin sehingga menyebabkan pertumbuhan awan cukup cepat, dan kemudian masih memicu hujan-hujan masih terjadi di wilayah Jabodetabek namun dengan intensitas yang masih tidak terlalu tinggi untuk bisa menyebabkan banjir.
Pantauan hidayatullah.com pada Senin sore (06/01/2020), hujan deras sempat mengguyur wilayah Jakarta Timur sekitar pukul 17.00 WIB, beberapa menit kemudian hujan berhenti dan langit berangsur cerah. Pada Selasa (07/01/2020) subuh, hujan sempat mengguyur wilayah Kota Depok, Jawa Barat beberapa saat lamanya. Semalam langit cerah di daerah ini.
Menyikapi potensi cuaca ekstrem sepekan ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya, seperti banjir bandang, longsor, angin kencang atau pun angin puting beliung.*