Hidayatullah.com–Karyawan Facebook disebut telah sering menghapus berita politik konservatif dalam daftar trending situs tersebut, tulis situs berita teknologi Gizmodo pada Senin (09/05/2016) dalam sebuah laporan yang memicu sejumlah protes di media sosial sebagaimana dikutip laman dailymail.co.uk.
Seorang mantan karyawan Facebook, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Gizmodo bahwa karyawan Facebook “secara rutin menekan berita yang menarik bagi pembaca konservatif,” menurut Gizmodo, selain itu mereka juga menambahkan berita lain yang dibuat-buat ke dalam daftar trending.
Facebook mengatakan kepada Reuters pada hari Senin bahwa ada “pedoman ketat di tempat” untuk menjaga netralitas dan mengatakan bahwa pedoman ini tidak melarang setiap outlet berita untuk muncul di “trending topics”.
Meski begitu, Facebook tidak menanggapi secara langsung untuk pertanyaan tentang apakah benar karyawan telah menekan berita yang cenderung konservatif.
“Pedoman ini tidak mengizinkan adanya penekanan dalam perspektif politik. Juga tidak mengizinkan memprioritaskan satu sudut pandang (pemikiran) di atas yang lain atau satu outlet berita di atas outlet berita yang lain,” kata seorang jurubicara Facebook.
Laporan ini menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna media sosial, ditambah adanya komentar dari beberapa jurnalis dan komentator yang mengkritik Facebook akan adanya dugaan ketimpangan.
“Selain memicu penganiayaan terhadap sayap kanan, ini adalah kunci pengingat dari bahaya Silicon Valley yang mengendalikan konten,” cuit wartawan Glenn Greenwald (@ggreenwald) di Twitter.
“Well, pergilah ke neraka, Facebook,” cuit Kyle Feldscher (@Kyle_Feldscher), seorang reporter di Washington Examiner, agen publikasi yang cenderung konservatif.
“Bagi siapa saja yang peduli tentang kebebasan pers, ini adalah hal yang menakutkan,” kata Bloomberg Editor Bill Grueskin (@BGrueskin), dengan memberikan tautan berita dari situs Gizmodo ini.
“Mantan Pekerja Facebook” dengan cepat menjadi salah satu trending topics sepuluh teratas di Twitter wilayah Amerika Serikat setelah tulisan Gizmodo dipublikasikan.
The Conservative Political Conference Action (CPAC), salah satu kelompok dilaporkan telah diblokir dari daftar trending Facebook, mengatakan akan terus memantau bagaimana klaim terhadap Facebook terungkap.
“Jika kita bisa memastikan bahwa tuduhan itu benar dan akurat, hal itu akan mengecewakan,” kata Direktur CPAC Komunikasi Ian Walters, yang menambahkan bahwa ia sensitif terhadap fakta yang klaimnya belum juga dikonfirmasi.
Sebuah posting di pusat bantuan Facebook mengatakan bahwa bagian trending dari situs medsos tersebut “menunjukkan topik yang baru-baru ini menjadi populer di Facebook.” Di antaranya “keterlibatan (pemakaian), ketepatan waktu, Halaman yang Anda sukai dan lokasi Anda”, karena beberapa faktor itulah yang menentukan tren apa yang muncul untuk setiap pengguna Facebook.
Pengguna Facebook bisa juga secara manual menghapus topik tertentu dari daftar trending mereka.
Sementara itu di Indonesia, beberapa pengalaman pengguna media sosial, mengaku sering dikecewakan Facebook jika memosting berita terkait bahaya homoseksual atau LGBT.*/Karina Chaffinch