Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Tafsir Ayat Ahkam: Agama di Sisi Allah hanya Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Maret 2023 16:01 4:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Maret 2023 15:00
Bagikan
Bagikan

Hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Selain itu, bagi Allah tidak diterima alias tertolak

Hidayatullah.com | AYAT yang akan kita bahas ini adalah ayat dalam Surat Al Imran [3]: 19, yang isinya menjelaskan bahwa hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Selain itu, bagi Allah tidak diterima alias tertolak. Di bawah ini bunyi suratnya;

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 19)

Hakekat Agama

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

1)  Kata (الدِّيْنَ) pada ayat di atas mempunyai banyak arti ketundukan, pembalasan, perhitungan. Ini mirip dengan firman Allah,

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

“Pemilik hari pembalasan.”  (QS. Al-Fatihah [1]: 4)

Banyak orang yang mengartikan (الدِّيْنَ) adalah agama. Maka pengertian agama adalah sebagai ketundukan dan kepatuhan terhadap ajaran ajaran Tuhan (yang diyakininya) serta menyakini bahwa amal perbuatannya di dunia akan di perhitungan pada hari kiamat dan dibalas, jika baik dibalas dengan pahala, dan jika buruk di balas dengan siksa.

2). Ayat di atas menunjukkan bahwa satu-satu agama yang di ridhai di sisi Allah adalah Islam, bukan yang lainnya. Dan barangsiapa memeluk agama selain Islam, maka amalnya tertolak sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran [3]: 85).

3). Agama Islam di sini mencakup seluruh ajaran yang di bawa oleh seluruh nabi dan rasul. Sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad ﷺ.

Maka seluruh ajaran nabi sebelumnya telah dihapus dan diganti dengan ajaran dan syariat yang di bawa Nabi Muhammad. Oleh karenanya para pengikut Nabi Musa dan isa yang hidup setelah kdatangan Nabi Muhammad, jika masih mengikuti ajaran Nabi Musa dan Isa serta tidak beriman dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad, maka amalan mereka tertolak dan di akhirat dimasukkan ke dalam neraka.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi;

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi dan Nashrani, mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya (yaitu agama Islam, pent.), kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153).

4). Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat di atas dengan fathah pada (اِنَّ) menjadi (ان)

Yang berarti bahwa Allah, malaikat, dan orang-orang berilmu bersaksi bahwa agama yang di ridhai dan diterima di sisi Allah hanya Islam.

Perpecahan Ahlul Kitab

Penjelasan selanjutnya adalah makna “Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab”

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ

“Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 19)

Maksudnya;

1). Tidaklah orang-orang yang diberi kitab (Ahlul kitab) dari kalangan Yahudi dan Nasrani berselisih diantara mereka kecuali karena dua hal;

a) Setelah datang kepada mereka pengetahuan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul akhr zaman.

b) Terdapat kedengkian diantara mereka sendiri karena kepentingan dunia.

2). Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud ayat di atas bahwa orang-orang Nasrani berselisih seteah datang kepada mereka penjeasan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan Nabi Isa adalah seorang nabi dan rasul.

3) Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kedengkian dan perpecahan diantara umat Islam karena ada kepentingan dunia di balik itu.

4) Firman-Nya,

وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

“Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Maksudnya bahwa setelah datang keterangan dan ilmu tentang kenabian Nabi Muhammad, kemudian mereka kafir terhadapnya, maka sesungguhnya Allah Maha cepat  perhitungan-Nya.

Dialog Dengan Ahlul Kitab

فَاِنْ حَاۤجُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗوَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْ ۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِ

“Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, ‘Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’ Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang buta huruf, ‘Sudahkah kamu masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali-Imran [3]: 20)

1) Ayat di atas memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengakhiri perdebatan dengan ahlul kitab jika mereka masih mendebat tentang ke-Esaan Allah dengan alasan yang dibuat-buat.

2) Firman-Nya,

فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

“katakanlah, ‘Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.”

1. Kata (وَجْهِي) artnya wajahku. Dan yang dimaksud denagan wajah disini seluruh tubuh, karena wajah mewakili anggota tubuh yang lain. Seseorang jika menanyakan orang lain tidak yang tidak hadir dalam pertemuan, dia akan mengatakan “ dia tidak kelihatan wajahnya.”

Begitu juga dengan jika wajah seseorang ditutup maka orang lain sulit untuk mengenalnya. Hal itu karena wajah adalah yang paling menonjiol dari sisi luar seseorang.

2. Memasrahkan atau mengahdapkan wajah adalah istilah yang sudah popuer di dalam Al-Quran dan Sunnah diantaranya,

a) Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚاِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ”Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Anam [6]: 74).

b) Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).

Di dalam hadits Al-Bara bin Azib bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا فُلَانُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا

Dari al-Barra’ bin Azib berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Hai fulan, jika engkau mendatangi kasurmu, maka panjatkanlah doa: “Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, dan kuhadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap-harap cemas kepada-Mu, sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat keselamatan selain kepada-Mu, saya beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus).”Maka sekiranya engkau meninggal di malam hari, maka engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau bangun pagi harinya, maka engkau peroleh pahala.”(HR. Al-Bukhari, 6934).

3. Kata (وَمَنِ اتَّبَعَنِ) “Dan orang-orang yang mengikutiku.” Menunjukkan bahwa di dalam beribadah dilakukan secara jamaah, tidak sendiri karena pada dasar Islam ditegakkan secara berjamaah.

Allah berfirman,

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

“Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”  (QS. Asy-Syura [42]: 13).

Juga firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”  (QS. Ali-Imran [3]: 103)

1. Ayat 20 dari surah Ali Imran di atas mirip dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

  قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad, tidak sendiri dalam berdakwah tetapi para pengikutnya juga berdakwah. Berarti berdakwah dilakukan secara berjamaah.

3)  Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْ ۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚ

”Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang buta huruf, ‘Sudahkah kamu masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk.”

Ayat di atas memerintahkan Nabi Muhammad untuk membuka dialog kembali, dan memberikan kesempatan kepada dua kelompok sekaligus yaitu Ahlul Kitab dan Al-Ummiyun (orang-orang musyrikin) untuk berpasrah kepada Allah dengan masuk ke dalam agama Islam. Jika mereka masuk Islam berarti mereka mendapatkan hidayah dari Allah. Jadi masuk Islam itu hidayah dari Allah, bukan karena keinginan diri karena jika Allah tidak menggerakkan hatinya, dia tidak aka nada keinginan masuk Islam. Allah berfirman;

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-Anam [6]: 125)

5). Dalam sejarah disebutkan bahwa Rasulullah sangat semangat dalam mendakwahkan manusia agar masuk Isla. Di antaranya mengirim surat kepada para raja, dan kelompok kelompok manusia baik dari bangsa Arab maupun non Arab.

Bahkan beliau sampai berdakwah kepada anak Yahudi yang pernah membantu Rasulullah, sebagaimana yang terdapat di dalam hadits Anas bin Malik bahwa :

  كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ

“Seorang remaja Yahudi yang pernah membantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jatuh sakit, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjenguknya, dan duduk di dekat kepalanya, dan beliau mengatakan : “ Masuk Islamlah ! Maka anak tersebut menoleh kepada bapaknya yang juga sedang berada di dekatnya, maka Bapaknya mengatakan : “ Ikutilah ajakan Abu al-Qasim Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka anak tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar seraya bersabda : “ Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api  neraka.”  (HR: Bukhari, 1356 ).*/Dr Ahmad Zain an-Najah, MA, Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agama IslamHeadlineislamPilihan Redaksitafsir ayat ahkam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kuwait akan Beri Sanksi Warga dan Ekspatriat yang Makan dan Minum di Depan Umum selama Ramadhan
Tulisan selanjutnya Kepala Densus 88 Anti-Teror Kunjung PP Muhammadiyah, Ada Apa?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

UNESCO Mengakui Dondang Sayang hingga Silat sebagai Warisan Budaya Malaysia

Berita
5 Juli 2026 13:55
Ratusan Ribu Orang Padati Teheran, Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Terbaru

  • Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
  • Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
  • ‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania
  • PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
  • Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
  • Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
  • Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
  • Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
  • Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
  • Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?