Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juni 2026 11:22 11:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juni 2026 11:30
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ahmad Rohim

Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, manusia modern justru menghadapi paradoks yang menggelisahkan. Hidup semakin mudah, tetapi hati semakin gelisah. Informasi semakin melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Manusia mampu menjelajahi ruang angkasa, namun sering tersesat dalam ruang batinnya sendiri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar manusia modern bukan lagi sekadar kemiskinan materi, melainkan kemiskinan makna. Banyak orang memiliki pekerjaan, penghasilan, dan hiburan yang cukup, tetapi tetap merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. Mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” atau “Mengapa hidup terasa kosong meski segala kebutuhan terpenuhi?”

Kondisi tersebut oleh Viktor Frankl disebut sebagai existential vacuum atau kekosongan eksistensial, yaitu keadaan ketika manusia kehilangan tujuan hidup dan tidak menemukan makna yang mendalam dalam keberadaannya. Frankl menegaskan bahwa kebutuhan paling mendasar manusia bukan sekadar mencari kesenangan atau kekuasaan, melainkan mencari makna hidup.

Dalam masyarakat modern, krisis makna semakin menguat karena beberapa faktor. Pertama, materialisme yang menjadikan harta sebagai ukuran utama keberhasilan. Kedua, individualisme yang melemahkan ikatan sosial dan spiritual. Ketiga, derasnya arus digital yang membuat manusia terhubung secara virtual, tetapi sering terasing secara emosional. Keempat, melemahnya peran agama sebagai sumber orientasi hidup.

Baca Juga

Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Amerika dan Perang Salib Baru?

Akibatnya, banyak orang hidup dalam siklus yang berulang: bekerja, memperoleh uang, mengonsumsi hiburan, lalu mengulanginya kembali tanpa tujuan yang jelas. Mereka sibuk menjalani hidup, tetapi tidak memahami untuk apa hidup itu dijalani. Di sinilah muncul berbagai problem psikologis seperti kecemasan, depresi, kesepian, dan kehilangan arah hidup.

Al-Qur’an telah jauh lebih dahulu mengingatkan bahwa manusia yang berpaling dari petunjuk Allah akan mengalami kesempitan jiwa. Allah berfirman:

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesulitan ekonomi atau penderitaan fisik. Kehidupan yang sempit juga dapat berupa hati yang kosong, jiwa yang gelisah, dan hilangnya makna hidup meskipun secara lahiriah seseorang tampak sukses.

Sesungguhnya krisis makna muncul ketika manusia melupakan tujuan penciptaannya. Dalam pandangan Islam, manusia tidak diciptakan secara kebetulan. Kehadirannya di bumi memiliki misi yang jelas. Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ibadah dalam ayat ini tidak terbatas pada ritual. Ia mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dalam rangka penghambaan kepada Allah. Ketika bekerja, mengajar, berdakwah, meneliti, memimpin, bahkan ketika tersenyum kepada sesama, semuanya dapat menjadi bagian dari ibadah apabila diniatkan untuk mencari ridha-Nya.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan wahyu dan pandangan modern yang sekuler. Dunia modern sering menjadikan manusia sebagai pusat segala sesuatu (human-centered). Sedangkan Al-Qur’an menjadikan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan (God-centered). Ketika manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai tujuan akhir, ia akan terus merasa kurang. Namun ketika Allah menjadi tujuan utama, kehidupan memperoleh arah yang jelas dan stabil.

Karena itu, jalan keluar dari krisis makna bukan sekadar motivasi atau terapi psikologis, meskipun keduanya dapat membantu. Solusi yang lebih mendasar adalah kembali kepada wahyu sebagai sumber orientasi hidup. Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum atau kitab ibadah, tetapi juga kitab makna yang menjelaskan siapa manusia, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Allah menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia:

“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Ma’idah: 15).

Ketika manusia kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui tilawah, pemahaman, tadabbur, dan pengamalan, ia akan menemukan kembali peta kehidupan yang selama ini hilang. Ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar mengejar kesuksesan dunia, melainkan perjalanan menuju Allah.

Maka, tantangan terbesar umat manusia pada abad ini bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kekurangan makna. Dunia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, tetapi juga membutuhkan manusia yang mengenal Tuhannya. Dunia membutuhkan inovasi, tetapi juga membutuhkan hikmah. Sebab kemajuan tanpa petunjuk dapat melahirkan kekosongan, sedangkan kemajuan yang dibimbing wahyu akan melahirkan peradaban yang berkeadaban.

Di tengah kebisingan dunia modern, Al-Qur’an mengajak manusia kembali mendengar suara fitrahnya. Dan di tengah krisis makna yang semakin meluas, wahyu tetap menjadi kompas yang menunjukkan arah pulang.

Catatan Kaki

  1. Viktor Frankl memperkenalkan konsep existential vacuum (kekosongan eksistensial) dan will to meaning (kehendak untuk menemukan makna) sebagai inti logoterapi.
  2. Krisis eksistensial dalam masyarakat modern sering dikaitkan dengan melemahnya sumber-sumber makna tradisional, meningkatnya pilihan hidup, dan berkurangnya orientasi religius sebagai pedoman hidup.
  3. Kehilangan makna hidup berhubungan dengan kecemasan, kehampaan, depresi, dan berbagai bentuk krisis eksistensial yang mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
  4. Logoterapi menegaskan bahwa manusia dapat menemukan makna melalui karya, pengalaman, dan sikap terhadap penderitaan, serta bahwa kehidupan tetap memiliki makna dalam berbagai keadaan.
  5. Kajian akademik tentang logoterapi menunjukkan bahwa pencarian makna merupakan kebutuhan fundamental manusia dan memiliki dimensi spiritual yang signifikan dalam kehidupan manusia.
Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Pilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
Tulisan selanjutnya perang skala penuh Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram

Berita
9 Agustus 2026 06:00
Paus Leo XIV akan Bertemu Penyintas Korban Pencabulan Pendeta di Prancis
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Ajak Masyarakat Shalat Berjamaah, Pemerintah Johor Kenalkan Semarak Maghrib dan Isya’
Ukraina Tidak akan Pernah Bergabung dengan NATO, Kata Mantan Jenderal Ternama

Terbaru

  • Dari Kaltim ke Maroko, Dua Hafidz Ini Wakili Indonesia di MTQ Internasional
  • Untuk Kesekian Kalinya, Istri Netanyahu Dituduh Aniaya ART
  • Suriah akan Ubah Pangkalan Militer Rusia Jadi Pusat Pelatihan Bersama
  • Gandeng ICMI dan BRIN, Pemprov Maluku Tegaskan Pentingnya Kebijakan Berbasis Riset
  • Genosida ‘Israel’ Sebabkan Ribuan Muslimah Gaza Keguguran
  • Sita Kontainer Tujuan ‘Israel’, Malaysia Tegaskan Larangan Berhubungan dengan Zionis
  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi

Mungkin Anda Juga Suka

Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Kajian

Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh

24 Juni 2026 14:35
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?