Oleh: Zainal Arifin
KASIH sayang adalah sebuah keniscayaan yang mengiringi kehidupan umat manuisa di muka bumi ini. Sejarah penciptaan manusia dari awal hingga detik ini tidak dapat dipisahkan dari rasa kasih sayang.
Adanya regenerasi kehidupan manusia dari zaman ke zaman juga merupakan bukti eksistensinya rasa saling menyayangi antara individu satu dengan lainnya. Lalu, mengapa masih banyak orang yang menderita jika di antara mereka telah saling berkasih sayang?
Fenomena kehidupan modern menunjukkan adanya erosi dalam saling berkasih sayang, sehingga norma-norma kehidupan yang hakiki sering terabaikan.
Ambilah contoh maraknya peperangan atau agresi militer yang telah membinasakan dan menyengsarakan banyak orang termasuk bayi dan anak-anak yang tidak berdosa. Belum lagi kezaliman yang diperagakan para pemimpin sehingga mengakibatkan rakyatnya hidup menderita di bawah garis kemiskinan. Diperparah lagi dengan ulah generasi muda yang sebagian besar telah terjebak dalam mazhab hedonis, sehingga menjadikan kasih sayang sekedar dalih untuk mereguk kesenangan dan kenikmatan dunia semata.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tradisi saling berkasih sayang yang diperagakan setiap generasi manusia banyak yang hanya beraroma kesenangan dan kenikmatan dunia saja. Dengan kata lain, ada banyak orang yang mendefinisikan kasih sayang sebatas ungkapan rasa cinta pada lawan jenis walau itu hanya sesaat.
Bahkan, sebagian besar mereka menjadikan seks sebagai klimaks dari drama percintaan dalam kehidupannya.
Pertanyaannya, bolehkah disebut saling menyayangi jika apa yang mereka lakukan menimbulkan penderitan atau kehancuran bagi orang lain? Bukankah kasih sayang itu wujud dari kepedulian terhadap diri dan sekitarnya sehingga terjaganya kelestarian suatu populasi yang ideal?
Coba cermati pergaulan bebas yang semakin marak terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia.
Penyimpangan akan makna kasih sayang tampak kasat mata akibat ulah seks bebas pada saat datangnya momentum peringatan hari kasih sayang itu sendiri.
Berita beredarnya coklat berhadiah kondom di sejumlah tempat perbelanjaan umum menjelang Valentine’s Day merupakan fakta yang tidak dapat ditutupi lagi.
Sebagaimana penelusuran Radar Bogor yang menemukan penjualan coklat berhadiah kondom tidak hanya di apotek, tetapi juga di kios-kios kecil dan minimarket (JPNN, 14/2/2013). Bahkan, di Pontianak, Kalimantan Barat, penjualan kondom menjelang valentine’s day tahun lalu meningkat sampai 500 persen dari hari-hari biasanya (Okezone, 13/2/2013).
Dari uraian tersebut, wajar apabila upaya penanggulangan HIV/AIDS di negeri ini sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal, bahkan jumlah kasusnya meningkat.
Mengutip data dari Kementerian Kesehatan yang mencatat pada semester pertama 2013 dari Januari hingga Juni terdapat 1.996 penderita yang baru terinfeksi HIV/AIDS pada kelompok usia 15-24 tahun. Jumlah tersebut sudah lebih dari separuh infeksi baru HIV/AIDS usia 15-24 tahun yang tercatat di meja Kemenkes pada 2012 yakni 3.661 kasus.
Koordinator Pelaporan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Djadjat Sudrajat mengatakan jumlah tersebut hanya yang tercatat atau diketahui saja. Penderita yang tidak terdeteksi diperkirakan masih lebih banyak lagi (Metrotvnews, 25/11/2013).
Fakta-fakta yang telah disebutkan di atas merupakan gambaran jika bentuk apresiasi rasa kasih sayang beberapa dekade belakangan ini, khususnya di Indonesia, semakin jauh meninggalkan kaidahnya.
Selain tidak sesuai dengan norma-norma agama maupun budaya, perilaku saling berkasih sayang dengan atas dasar kesenangan dan kenikmatan sesaat tersebut, sangat tidak mencerminkan etika saling berkasih sayang sebagaimana tuntunan sebenarnya, sehingga sangat rentan menimbulkan konflik sosial berkepanjangan.*/bersambung