USAI pengajian berakhir, Hasna tampak medekati sahabatnya, Hanum. Kepada karibnya itu, Hasna mengaku hatinya sedang hancur berkeping. Dirinya tak menyangka jika persahabatannya yang telah dijalin selama bertahun-tahun dengan Hilma, rusak gara-gara fitnah yang disebar oleh Hilma yang juga sahabat dekatnya tersebut. Hasna merasa kecewa dengan sikap Hilma. Tutur manis Hilma selama ini menurut Hasna berseberangan dengan perilakunya di belakang.
Masih menurut Hasna, Hilma pula yang menjadi biang gosip yang menceritakan keburukan kawan-kawannya yang lain. Entah apa yang terjadi, selama ini Hasna mengaku berusaha menjaga parasaan Hilma yang beberapa kawan lainnya justru merasa kurang cocok bergaul dengannya.
Mencintai Saudara Muslim
Kisah di atas hanya ilustrasi semata. Tak terkait dengan nama siapapun. Meski demikian tak jarang cerita serupa terjadi dalam perkawanan di antara para Muslimah.
Konflik yang terjadi di tengah persahabatan adalah hal yang lumrah terjadi. Namun bukan berarti seorang Muslimah lalu merasa gampang mengatasinya. Tak sedikit pertengkaran dan permusuhan hebat terjadi justru gara-gara hal yang dianggap sepele. Membuka aib saudara, menceritakan kekurangan teman, bergunjing, hingga menjadi penyebab pertikaian di antara sahabat.
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR al-Bukhâri dan Muslim]
Cinta bukanlah sekedar perasaan apalagi ucapan pemanis bibir semata. Cinta adalah ungkapan hati yang membutuhkan tindakan nyata. Sebagaimana seseorang mencintai dirinya, suami/istri, dan anak-anaknya maka seperti itupula hendaknya perlakuan orang tersebut kepada sahabatnya. Pun demikian dengan perkara yang dibenci. Apa-apa yang dibenci jika terjadi pada diri dan keluarganya maka sepantasnya ia juga menghindarkan hal yang sama kepada orang lain.
Bagi orang beriman, hal di atas menjadi pondasi dasar dalam memupuk ukhuwah dan persahabatan.
Meski diakui, hal itu tak semudah membalik telapak tangan tentunya. Olehnya, apapun persoalannya hendaknya ia menyelesaikan masalah itu dengan cara yang baik. Melibatkan Allah dalam setiap urusan tanpa harus mencari kambing hitam atau saling membuka aib di antara sahabat. Dalam suasana demikian, setiap yang bersengketa juga agar bermawas diri, menahan hati agar tak terjerumus ke permasalahan yang lebih jauh. Sebab suasana hati yang sedang labil seringkali justru memudahkan syetan untuk menghasut mereka.
Ironisnya, terkadang ibadah ritual seorang Muslim tak berdampak kepada perilaku akhlak dan muamalah dengan orang lain. Akibatnya, orang itu tampak rajin beribadah tapi tak mampu menjaga lisannya. Mulai dari menceritakan keburukan dan aib orang lain hingga merasa dengki terhadap kebahagiaan orang lain. Alih-alih ikut bahagia, ia bahkan berharap kebahagiaan itu hilang dari orang lain. Persis seperti Abu Jahal yang hasad kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw).
Sebagai umat Islam, sepantasnya berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti teladan Nabi dan para sahabatnya. Berbagai kisah mengagumkan tentang ukhuwah islamiyah tercatat dalam sejarah.
Sebut misalnya, saling mempersaudarakan di antara sahabat Anshar dari Madinah dengan Muhajirin dari Makkah. Tanpa ada pertalian darah dan nasab, mereka sudah mendemonstrasikan keimanan mereka dengan saling membantu dan berkorban demi saudara-saudaranya seiman.
Jika belum sanggup membahagiakan sahabat dan saudara, setidaknya pantang bagi orang beriman untuk menyakiti dan menyusahkan saudaranya. Sebab Allah mencintai orang-orang beriman yang saling mencintai sesama mereka dan berada dalam barisan shaf yang rapi dan kokoh.
Untuk itu jika pengertian “selingkuh” selama ini hanya dipahami sebatas salah satu pihak suami atau istri yang berbuat serong atau berkhianat. Maka sejatinya istilah tersebut bisa dipakai untuk seseorang yang mengaku mencintai sahabatnya tapi justru berkhianat di belakang. Layaknya kisah Hasna di atas yang merasa dikhianati oleh Hilma, sahabatnya sendiri.
Selanjutnya pintu taubat tentunya terbuka lebar-lebar kepada siapa saja yang bertaubat kepada Allah. Tentu saja ia harus memohon maaf dan meminta keridhaan sekiranya ia telah mengambil hak saudaranya. Bukan sebaliknya, misalnya malah asyik mengompori sahabatnya untuk saling bermusuhan.
Mari mengambil teladan dari kehidupan Nabi. Bukankah hidup jamaah itu terasa kian nikmat. Di sana orang-orang lalu saling menasihati dan mengingatkan untuk kebaikan. Terakhir semoga Allah berkenan menutupi dan mengampuni aib-aib setiap orang beriman kelak.*/Ummu Aziz, guru di sekolah Islam, Depok Jawa Barat