Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Segera Tinggalkan Mall, Mari Kembali ke Masjid!

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 Agustus 2013 09:32 9:32 am
Ahmad
Dipublikasikan 1 Agustus 2013 09:32
Bagikan
Tinggalkan mall-mall, dan segera kembali ke masjid
Bagikan

MENJELANG akhir Ramadhan, umat Islam umumnya berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan (mall). Bahkan, jauh-jauh hari, rencana belanja itu sudah ditetapkan sedemikian rupa, sehingga suasana belanja pun terasa sangat antusias dan meriah.

Seolah tidak ada waktu belanja lagi, mall-mall tampak penuh sesak. Pengunjung dan pembeli pun harus rela berjalan dengan suasana yang sangat sumpek dan berdesak-desakan. Tetapi, semua itu tidak mengurangi semangat berbelanja. Ditambah dengan iming-iming diskon dan lain sebagainya, mall pun menjadi tempat favorit mengisi akhir-akhir Ramadhan.

Sementara itu, kian menuju akhir Ramadhan, masjid yang semestinya dimakmurkan dengan i’tikaf dan berbagai kegiatan ibadah lainnya, justru semakin lengang, sepi. Semangat awal Ramadhan seolah lenyap tanpa jejak.  

Inilah yang ironis. Justru di 10 malam terakhir di banyak para malaikan Allah turun dari langit mendoakan hamba-hambanya yang sujud, yang menangis dengan linangan air matanya, yang keningnya merapat ke lantai dan tangan-tangan mereka menengada ke langit guna meminta ampunan, justru  waktu paling mulia ini banyak ditinggalkan karena banyak hati-hati manusia masih tertambat di mall.

Padahal Rasulullah Muhammad berkali-kali meminta kita menghindari pasar dan mall.  “Negeri yang paling dicintai Alalh adalah masjid-masjidnya.” (HR. Muslim).

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Banyak kaum Muslim sering lalai dan tak memiliki management waktu. Seharusnya belanja dilakukan sebelum masuknya hari-hari istimewa di penghujung Ramadhan, justru di saat hari-hari penuh berkah mereka sibuk menghadiri mall-mall dan meninggalkan tempat-tempat yang paling disukai Allah dan para malaikatnya, yakni masjid.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS: An Nuur [24]: 37).

Kemuliaan Hanya ada di Masjid

Suasana tersebut tentu berbanding terbalik dengan masa umat Islam di zaman Rasulullah. Di masa itu, umat Islam sangat antusias memakmurkan masjid, lebih-lebih di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Dorongan keyakinan akan janji Allah begitu kuat, sehingga para sahabat tidak pernah meninggalkan masjid, kecuali memang jika ada udzur syar’i. Umat Islam kala itu benar-benar ingin meraih keutamaan-keutamaan yang Allah berikan hanya apabila umat Islam memakmurkan masjid.

Sebuah hadits memberikan penjelasan tentang keutamaan berangkat ke masjid. “Ada tiga (kelompok) manusia yang berada di dalam jaminan Allah Ta’ala; (pertama) orang yang berangkat ke salah satu masjid Allah; (kedua) orang yang keluar berperang di jalan Allah; dan (ketiga) orang yang berangkat menunaikan ibadah haji.” (HR. Imam Abu Nu’aim).

Selain itu, Allah akan memberikan ampunan kepada orang yang shalat berjama’ah di masjid. “Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu ia menyempurnakan wudhunya, kemudian berangkat melaksanakan shalat wajib, lalu ia mengerjakannya bersama orang-orang atau jama’ah atau di masjid, niscaya Allah akan mengampuni baginya dosa-dosanya.” (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i).

Tidak saja itu, Allah bahkan akan memberikan balasan jannah. “Barangsiapa berangkat ke masjid dan pulang (darinya), niscaya Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal di jannah (surge) setiap kali pergi dan kembali (darinya).” (HR. Baihaqi).

Dengan demikian, dapat dipahami dengan jelas, mengapa Rasulullah dan sahabat serta umat Islam kala itu, sangat ‘lengket’ dengan masjid. Bahkan, karena begitu lengketnya, tidak ada seorang sahabat pun yang absen dalam shalat jama’ah, kecuali Rasulullah bisa mengetahui ketidakhadirannya.

Termasuk jika ada sahabat yang tidak bisa mengikuti dzikir usai shalat, Rasulullah pun bisa mengetahui. Itulah kasus yang pernah dialami oleh Tsa’labah, sahabat Nabi yang karena tidak memiliki baju kecuali di badan yang dipakai secara bergantian dengan istrinya, sehingga setiap usai shalat Tsa’labah harus segera pulang, karena istrinya di rumah sedang menanti pakaian yang dikenakannya untuk mendirikan shalat.

Sungguh luar biasa tradisi umat Islam memakmurkan masjid di zaman Nabi. Jadi, seorang Muslim tidak semestinya meninggalkan masjid apalagi jika tanpa alasan syar’i. Karena hanya masjid-lah satu-satunya tempat yang Allah limpahkan keberkahan dan kemuliaan.

Oleh karena itu, siapapun, sejauh masih bisa melangkah ke masjid, maka wajib hukumnya shalat di masjid. Pernah suatu ketika, ada seorang sahabat buta bertanya kepada Nabi apakah dirinya diperbolehkan shalat di rumah karena kondisinya yang buta. Nabi menjawab, selama mendengar suara adzan berkumandang, maka wajib hukumnya datang ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Apalagi, bagi kaum Muslimin yang rumahnya dekat dengan masjid, jelas tidak ada tawaran lagi, kecuali harus shalat di masjid. Rasulullah bersabda, “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, selain (shalat) di dalam masjid (HR. Addarqathani).

Bukti Keimanan

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah [9]: 18).

Ayat tersebut secara eksplisit menunjukkan bahwa, hanya orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, artinya orang yang benar-benar beriman secara haq yang tergerak hatinya untuk memakmurkan masjid-masjid Allah. Dengan kata lain, memakmurkan masjid adalah bukti keimanan seorang Muslim.

Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk masjid maka saksikanlah bahwa dia beriman karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat Al-Taubah ayat 18: ““Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Nah, masihkah kita masih ingin berlama-lama dan bersibuk-sibuk di mall-mall yang sesungguhnya tempat paling kurang disukai Rasulullah?*/Imam Nawawi

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:10 hari ramadhani'tikafmallmanagemen waktumasjid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ya Walikota, Ya Wali Santri
Tulisan selanjutnya Sembilan Amalan Menggoda 10 hari terakhir Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?