Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Menjadi Majikan yang Baik Seperti Nabi [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 November 2015 04:48 4:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 November 2015 07:45
Bagikan
Pembantu rumah tangga yang melarikan diri berkumpul di kantor Tenaga Kerja di Riyadh, Arab Saudi [ilustrasi]
Bagikan

Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

DI SELA menunggu jadwal keberangkatan pesawat menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saya bertemu dengan seorang TKW asal Ngawi yang duduk di deretan kursi yang sama.

Karena sebelumnya istri saya sudah sempat mengobrol dengan dia, saya pun juga tidak mau kalah, saya ikut terlibat pembicaraan dengan “pahlawan devisa” satu ini.

“Ibu ini mau ke mana ?” “Mau ke Singapura, Pak. Saya kerja di sana.” “Oh, kerja di Singapura. Berarti harus bisa bahasa Inggris dong ?” “Iya betul, kalau g bisa, g bakal diberi izin kerja di sana. Saya di sana kerjanya ngasuh orangtua,” katanya dengan suara datar.

Setelahnya, saya bertanya kembali, “Bagaimana perlakuan majikan di sana? Apa ada TKI yang mengalami perlakuan tidak mengenakkan, seperti disiksa dan sebagainya?” Dia mengatakan dengan polosnya, “Alhamdulilah, kalau di sana relatif sepi dari perlakuan yang tidak menyenangkan. Tapi tinggal dan kerja di sana, harus disiplin. Tak boleh tidur siang. Kalau misalnya majikan datang jam berapapun harus menyiapkan makan biarpun jam 1 dini hari.”

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Penuturannya kali ini membuat saya kaget, bagaimana seorang pekerja yang mempunyai hak beristirahat, tapi harus bangun sebelum waktunya.

“Lho, memangnya g ada kontrak kerja, kok sampek larut malam tetap kerja terus?” “Ya ada si, tapi memang begitu kondisi di sana. Mau gimana lagi. Selain itu, jangan coba-coba curi waktu. Kalau misalnya ada pembantu yang curi waktu dengan tidur siang, wah bisa dihukum oleh sang majikan. Tapi hukummnya g berat kok, paling g dikasih makan satu hari.” Kalimat terakhir ini membuat saya lebih terperanjat, “….paling tidak dikasih makan satu hari.” Ibu ini masih menggunakan kata “paling” yang seakan tidak jadi masalah karena kesalahan terletak pada diri pembantunya sendiri.

Meski bukan ibu ini yang mengalaminya sendiri, tapi melihat ketabahannya lewat cerita dan pengalaman yang ia sampaikan, membuat saya menghela nafas panjang. Kok masih begitu sabarnya dengan mengatakan “paling hanya tidak diberi makan satu hari.” Pertanyaan lain di otak saya pun bermunculan, ‘bukankah dengan tidak memberi makan sudah termasuk kezaliman dan bantuk sikap yang tidak berperikemanusiaan plus melanggar Hak Asasi Manusia?’ tapi saya tahan untuk tidak mengungkapkannya.

Islam mengajarkan kepada tiap majikan untuk memberi upah seorang pekerja sebelum keringatnya kering yang memberi ilustrai bahwa menghargai keringat orang bekerja merupakan sebuah kelaziman. Miris sekali, hanya mencuri waktu untuk istirahat sejenak saja, seorang pembatu “diembargo” makan.

Tirulah Nabi

Setelah berbincang dan diakhiri dengan kata “paling”nya ibu tadi, ingatan saya tertuju pada biografi seorang sahabat yang sekaligus menjadi pelayan Nabi bernama Sayidina Anas bin Malik.

Diterangkan dalam biografinya, Anas mengabdi sebagai pelayan Nabi tidak kurang dari dua puluh tahun lamanya. Anas menuturkan pengalamannya, “Tidak pernah Nabi menegur aku kenapa aku tidak melakukan ini dan itu atau menegur aku karena meninggalkan pekerjaan yang ini dan itu.”
Masih dalam penuturan kesaksiannya pula, Anas berkata, “Aku melayani Nabi selama dua puluh dan selama itu aku tidak pernah dihardik oleh beliau, tidak pernah mengalami pemukulan meski sekali, dan tidak pernah bermuka masam kepadaku.” Kesaksian Anas ini merupakan lambang keramahtamahan seorang majikan kepada pembantunya sekaligus memberikan pelajaran penting kepada setiap majikan, khususnya majikan Muslim, agar berhati-hati dalam memperkerjakan pembantunya.Mencemoohnya saja sudah tergolong perbuatan tercela apalagi sampai pada taraf menyiksa, menghantam, menyiram dengan air panas, menyeterika, tidak memberi makan, seperti yang acap dialami oleh “pahlawan devisa” dari Tanah Air selama ini.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menurunkan sebuah riwayat dari Sayidina Abu Mas`ud Al-Badriy. Abu Mas`ud mempunyai pengalaman soal pembantu. Suatu kali, ia pernah menyambuk budaknya dengan cemeti karena suatu pelanggaran. Setelah menyambuk, beliau mendengar ada suara yang berbunyi, “Ketahuilah wahai Aba Mas`ud, bahwa Allah lebih mampu melakukan apa yang telah engkau lakukan tadi kepada pelayanmu.” Ternyata suara itu muncul dari lisan Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Sejak mendengar teguran Rasul, Abu Mas`ud tidak pernah lagi memukul budaknya. Dalam sebuah riwayat yang lain, Abu Mas`ud berkata, “Wahai Rasulullah, dia (si budak) kumerdekakan karena Allah.” Maka Rasul berkata, “Seandainya engkau tidak memerdekakannya, niscaya api neraka akan menyentuh dan menghanguskan dirimu.” (HR. Muslim)

Memukul seorang Muslim apalagi Muslimah, meski “derajatnya” sebagai pembantu atau budak, tidak mendapat tempat dalam Islam.

Artinya, Islam begitu menghormati sosok pelayan yang melayani kebutuhan sang majikan: membersihkan rumah, mencuci pakaian, menjaga anak-anak, menjaga rumah, dan sebagainya. Tentu, tidaklah pantas memperlakukannya dengan tidak senonoh.

Penuturan ibu TKI seperti tersebut di atas patut pula untuk dibandingkan dengan pengalaman lainnya tentang seseorang di masa rasul yang pernah bertanya kepada beliau, “Berapa kali kami harus memaafkan pembantu yang bekerja pada kami?” Rasul diam sejenak lalu mengatakan, “Maafkanlah pembantumu sebanyak tujuh puluh kali setiap harinya.” * (BERSAMBUNG)

Penulis pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang. Pengasuh Grup Qolbun Salim. Tulisan pernah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:khadimmajikanPembantupembantu rumah tangga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Al-Ghazālī dan Kemunduran Sains [1]
Tulisan selanjutnya Al-Ghazālī dan Kemunduran Sains [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?