HARI Jumat 04 Nopember 2016 lalu, memberikan bukti gerakan Aksi Damai Bela Quran atau juga populer dengan Aksi Damai 411, satu yang paling fenomenal dan akan menjadi catatan sejarah penting bangsa dan rakyat Indonesia di masa depan.
Hampir satu juga kaum Muslimin bersatu dalam barisan bersama menuntut tegaknya hukum dan keadilan dengan leretan yang rapi dan satu komando yang diikuti, tanpa saling kenal, tanpa koordinasi yang memadai. Tetapi, semua tertib, semua patuh dan semua dalam satu tujuan, menjalankan aksi menuntut keadilan terhadap penista agama secara damai. Sungguh sebuah syiar yang sangat mengagumkan.
Namun, tidak ada jalan tol dalam perjuangan. Begitu pun dalam masalah penegakan hukum yang diupayakan kaum Muslimin. Mungkin sebagian besar umat, termasuk dalam aksi damai 411 pekan lalu, bak menelan pil pahit. Tetapi tidak mengapa, itu adalah jalan yang harus ditempuh, kita harus tetap sabar, terus mengawal demi tegaknya kebenaran atas konstitusi NKRI.
Dalam mengawal (baca memperjuangkan) kebenaran, dibutuhkan sikap sabar dan tsabit (teguh). Na’im Yusuf dalam bukunya “Seberapa Berani Anda Membela Islam?” mengutip perkataan Al-Khawwash, “Sabar adalah teguh menjalankan hukum-hukum Al-Qur’an dan Sunnah.” Sabar diartikan juga dengan memohon pertolongan kepada Allah, sehingga tidak banyak mengeluh.
Seperti itulah yang dilakukan oleh umat Islam yang dipimpin Habib Riziq, tidak ada perintah untuk melakukan perlawanan, karena komitmen pada niat, yakni menuntut tegaknya keadilan dengan aksi damai. Saat tembakan terus didentumkan, doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala. Seandainya tidak sabar, maka kerugian besar akan semakin dialami oleh umat Islam.
Demikianlah sabar sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan, yakni dengan menguatkan mental yang positif dan aktif. Tidak mudah terprovokasi dan juga tidak mengandalkan amarah dalam segala urusan, terutama urusan baik nan mulia.
Na’im Yusuf menambahkan, “Seseorang yang bertindak ceroboh saat menghadapi kesulitan dan takut ketika ditimpa kemalangan tidak termasuk laki-laki yang jujur.”
Dan, Imam Ghazali dalam Khuluq Al-Muslim menulis, “Allah akan mengangkat derajat orang yang sabar, yang tidak pernah khawatir, dan tidak ada sesuatu pun yang membuatnya khawatir.”
Dengan demikian, dalam upaya mengawal kebenaran, sabar sangat diperlukan. Jangan tergesa-gesa, sehingga menjadi tidak jernih cara berpikir dan mudah emosi hati dalam melihat kenyataan yang tidak disukai. Demikianlah Rasulullah memberikan keteladanan, terutama kala dakwah di Makkah selama 13 tahun; teror, kekerasan dan ancaman menjadi ‘menu’ yang harus dihadapi dengan lapang dada.
Jelas ini tidak mudah, tetapi justru di sinilah balasan berupa kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar menjadi suatu balasan yang amat indah tak terhingga.
وَاصْبِرُواإِنَّاللَّهَمَعَالصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal [8]: 46).
Selanjutnya adalah tsabit (teguh). Menurut Na’im Yusuf, tsabit adalah keinginan kuat yang tetap dan terus-menerus. Ia merupakan tingkat tertinggi dalam kebulatan tekad. Dan, lebih lanjut tsabit bisa mencakup beberapa sikap.
Di antaranya; 1) sabar menanggung penderitaan dalam kesulitan dan cobaan, 2) tegar dalam pertempuran, pantang menyerah, dan tidak melarikan diri, 3) teguh memegang iman tanpa ragu dan bimbang, 4) keteguhan hati dalam memegang kebenaran dan iman disertai argumen dan dalil yang jelas, 5) konsisten melakukan amal sholeh tanpa tawar-menawar dan cari muka, 6) ketenangan hati dan jiwa, 7) cermat dan tidak tergesa-gesa.
Dengan demikian, keteguhan (tsabit) akan memberikan dampak kekuatan luar biasa dalam upaya menegakkan kebenaran di setiap medan jihad.
يَـٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَءَامَنُوٓاْإِذَالَقِيتُمۡفِئَةً۬فَٱثۡبُتُواْوَٱذۡڪُرُواْٱللَّهَڪَثِيرً۬الَّعَلَّكُمۡتُفۡلِحُونَ
وَأَطِيعُواْٱللَّهَوَرَسُولَهُۥوَلَاتَنَـٰزَعُواْفَتَفۡشَلُواْوَتَذۡهَبَرِيحُكُمۡۖوَٱصۡبِرُوٓاْۚإِنَّٱللَّهَمَعَٱلصَّـٰبِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 45-46).
Kisah keteguhan hati ini di antaranya ada pada sosok Imam Ahmad bin Hambal. Beliau rela dipenjara dan disiksa karena konsistensinya mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk sebagaimana anggapan kaum Mu’tazilah.
Namun, salah satu muridnya berkata kepada Ahmad bin Hambal. “Wahai guru, Allah telah berfirman, ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu’.” (QS. An-Nisa [4]: 29).
Mendengar itu, beliau menjawab, “Hai Marwazi, keluar dan lihatlah, apa yang kamu lihat!”
Muridnya pun segera keluar menuju halaman istana, terlihat kumpulan manusia yang tak terhitung banyaknya. Mereka membawa kertas di tangan, mendekap pena dan tempat-tempat tinta dengan lengan-lengan mereka.
Lalu sang murid bergegas masuk dan berkata, “Aku melihat banyak sekali orang membawa kertas dan pena. Mereka menunggu dan akan menulis apa yang akan engkau katakan.”
Mendengar itu, Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Aku rela mengorbankan diriku asalkan mereka tidak tersesat (tetap di dalam kebenaran).”
Demikianlah sikap yang harus umat Islam tempuh dalam mengawal tegaknya kebenaran. Tidak bisa tergesa-gesa dan tidak bisa dengan amarah. Perlu sabar dan keteguhan hati. Semoga Allah kuatkan hati kita dalam melatih diri menjalani kunci utama menegakkan kebenaran, sehingga kita layak mendapatkan kemuliaan hidup dunia-akhirat yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam.*