MANUSIA dengan tugas abadinya sebagai khalifah sekaligus abdullah dituntut untuk benar-benar mengisi kehidupan ini sesuai dengan tuntunan syariah-Nya.
Tidak berlebihan jika kemudian atas dasar ingin menetapi syariat Allah dan Rasul-Nya kemudian dikatakan, “Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah jihad, atau hidup adalah pilihan.”
Ya, perjuangan, jihad, dan pilihan untuk hidup dari hasil bekerja yang halal. Bukan yang haram, meski atas dasar dan alasan apapun.
Tetapi, di masyarakat umum disebutkan, “Cari yang haram saja sudah susah, apalagi yang halal,” sehingga sebagian dari umat Islam merasa tidak bersalah tetap di dalam pekerjaan haram dengan dalih darurat, atau daripada tidak mendapatkan pekerjaan.
Tetapi, apakah fakta adalah sebuah kebenaran? Tentu tidak. Kebenaran dalam Islam tidak bergantung pada fakta maupun situasi sosial-politik.
Kebenaran tetaplah kebenaran. Oleh karena itu, penting umat Islam memahami kenapa kita diperintahkan untuk berpegang teguh pada tali (agama) Allah.
Jika, cara berpikir kita dalam menjalani hidup ini didasarkan pada Al-Qur’an tentu cara melihat fakta dan kehidupan tidak seperti kebanyakan orang.
Baca: Pekerjaan Kasar Andalkan Otot lebih Mulianya Asalkan Halal
Misalnya, dalam hal mencari pekerjaan halal. Sejatinya, tidak ada alasan bagi siapapun yang mengatakan bahwa mencari pekerjaan halal sulit. Hal ini, karena bekerja yang halal adalah perintah Allah.
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (١٠)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10).
Bekerja hakikatnya adalah bagaimana mendapatkan karunia Allah yang ditebarkan di muka bumi ini. Dengan demikian, mendapatkan pekerjaan halal bukanlah hal yang sulit. Hanya saja, apakah diri ini benar-benar punya kemauan atau tidak.
Berdagang, bercocok tanam, beternak, membuat kerajinan tangan, dan mengajar anak-anak yang belum bisa membaca, berhitung dan lain sebagainya adalah sumber-sumber pekerjaan yang halal.
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah).
Dengan demikian, hendaknya kita tidak pernah meyakini bahwa rezeki itu adalah hal-hal yang didapat semata-mata karena kepandaian diri, tetapi lebih karena rahmat Allah. Dan, tak satu pun manusia yang lahir ke bumi, melainkan telah ditetapkan rezekinya.
Oleh karena itu, jangan goyah dan dapatkanlah rezeki yang Allah tetapkan itu dengan cara-cara yang halal.
Ibn Mas’ud pernah menyapaikan ucapan Nabi, “Mencari rezeki yang halal itu adalah wajib bagi setiap orang Islam.”
Di sini kita bisa belajar dari sosok Abdurrahman bin Auf, meski sudah tidak punya apa-apa lagi, beliau mau menekuni dunia perdagangan, hingga dengan sabar dan ulet, akhirnya menjadi Muslim yang sangat kaya raya.
Dengan menekuni pekerjaan halal, maka bukan saja rezeki halal lagi baik yang akan kita dapat, networking pun yang didapatkan pun akan baik.
Dengan kata lain, pekerjaan yang halal seperti memiliki sinyal kuat yang mencari dan menangkap gelombang cahaya Allah, sehingga senantiasa mengarah pada partner dan kolega bisnis atau pun pekerjaan yang halal dan baik.
Menariknya, pekerjaan yang halal tidak saja menjadikan kehidupan lebih tentram, lelahnya pun dalam bekerja dalam pekerjaan yang halal dibalas dengan pengampunan dosa dari sisi Allah Ta’ala.
“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani).
Bahkan ada hadits yang menyebutkan ada pengampunan dosa yang tidak bisa ditebus dengan shalat, sedekah atau haji.
“Sesungguhnya di antara dosa yang tidak bisa ditebus dengan pahala shalat, sedekah atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.” (HR. Thabrani).
Subhanallah, bahkan siapa yang benar-benar mencari dan menekuni pekerjaan halal, baginya dicatat sama dengan mereka yang berjihad di jalan Allah.
“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” (HR. Ahmad).
Dengan demikian, mari bersyukur kepada Allah jika sudah dimudahkan mendapatkan pekerjaan yang halal sekalipun kecil ujroh (gaji)-nya. Sebab dalam pekerjaan halal ada keberkahan, ampunan dan kemuliaan di sisi-Nya. Bagi yang masih dalam keraguan terlebih pekerjaan yang tidak halal, berhijrahlah, sungguh rezeki diri sudah dijamin dan pasti akan bisa didapat dengan lebih nikmat, tentram dan bahagia melalui pekerjaan yang halal. Wallahu a’lam.*