SIAPAPUN tak menyangkal, bahwa uang adalah hal yang sensitif. Seringkali pertikaian dan percekcokan yang terjadi di ranah rumah tangga disebabkan oleh uang. Bahkan banyak rumah tangga yang hancur akibat persoalan uang.
Salah satu contoh kasus adalah apa yang dialami rumah tangga Yusuf dan Asti. Asti sering menggerutu ketika sang suami, Yusuf, setiap bulan menyalurkan uang kepada keluarga orangtuanya. Yusuf memberikan uang untuk keperluan sehari-hari kedua orangtuanya dan membiayai sekolah adiknya yang paling kecil.
Di awal pernikahan, sampai memiliki satu anak pun sebetulnya Asti tahu persis bahwa Yusuf adalah tulang punggung keluarga orangtuanya. Asti pun berusaha memahami dan mengikhlaskannya. Namun, sejak kehadiran buah hati mereka yang kedua, Asti merasa kebutuhan rumah tangganya semakin menggelembung. Asti pun mulai mempersoalkan kebiasaan Yusuf.
Kasus ini juga terjadi pada banyak pasangan rumah tangga lain. Tidak hanya terjadi di pihak suami, kadang istri pun melakukan hal yang sama.
Berasal dari Keluarga
Siapapun tak dapat menghapus jejak bahwa sebelum menikah dan membina kehidupan berumahtangga, setiap manusia lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Seorang lelaki atau perempuan dibina untuk menanggung beban tanggung jawab hidup, dalam keluarga.
Mengingat semua ini tentu kita juga tak dapat melupakan peran orangtua dalam merawat dan mendidik baik diri kita sendiri maupun pasangan. Dibalik peran tersebut, tentu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua dan keluarga hingga kita dapat menjelma menjadi sosok yang sekarang.
Pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua tentu tidak ada yang berpamrih. Namun, tentunya kita semua tahu bahwa semakin hari orangtua kita semakin berkurang tenaganya bahkan ada yang memasuki kondisi renta. Bila bukan kita yang menanggung atau meringankan beban tersebut, lalu siapa lagi?
Pemahaman tentang hal ini harus benar-benar dimiliki oleh siapapun yang akan menikah, bahwa apapun yang terjadi pada hari ini, tak dapat terlepas dari pengorbanan orangtuanya dan apa yang pernah dilewati oleh pasangan dalam keluarganya. Sehingga bila nanti hadir tuntutan untuk berbagi penghasilan dengan keluarga pasangan, tidak akan timbul rasa keberatan.
Komitmen untuk saling menerima apa adanya juga sangat penting untuk ditumbuhkan sedari awal pernikahan diniatkan. Ada beberapa pasangan yang mungkin berasal dari keluarga yang berkecukupan sehingga tak ada himbauan untuk meringankan beban ekonomi keluarga setelah menikah. Namun, tak jarang pasangan justru lahir dari keluarga yang kurang berada, sehingga dia yang kita pilih untuk mendampingi hidup, masih harus berbagi penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Menyikapi keadaan perekonomian keluarga pasangan yang seperti inilah kesiapan kita untuk menerimanya apa adanya teruji. Dikala kondisi keuangan masih “aman-aman” saja, mungkin kita masih tersenyum lepas padanya saat berbagi. Namun, di kala keuangan tengah sulit, masihkah kita melapangkan dada untuk tidak menyesali pilihan yang jatuh padanya?
Selanjutnya, kita tentu menyadari sejak awal pernikahan dilangsungkan, kita tidak hanya menikah dengan seseorang yang kini ada di sisi. Namun, kita juga menikahi keluarganya dan segenap kondisi yang terjadi dalam keluarganya. Saat ijab kabul terucap, detik itu pula kita menjadi bagian dari kehidupan keluarganya. Nah, dengan demikian, detik itu pula beban yang menggelayuti pasangan dan keluarganya adalah beban yang mau tidak mau harus turut kita ditanggung.