Hidayatullah.com | SEORANG anak perlu ditanya oleh guru atau orang tuanya. Tentang masa depan dan cita-citanya. “Nak, kamu nanti ketika besar ingin berbuat apa?” Tidak hanya ditanya “Nak, kamu nanti besar ingin menjadi apa?”
Banyak anak bisa menjawab atau berkata ingin jadi apa. Tapi belum tentu memahami dan bisa menjawab ingin berbuat apa, dari peran yang dicitakannya.
Pada era disrupsi saat ini, ketika berbagai sistem hidup dan informasi dapat berubah serta berkembang dengan begitu cepatnya. Anak perlu dilatih menghadapi berbagai kemungkinan dan dibekali kemampuan untuk dapat berperan di mana saja yang dibutuhkan. Karena banyak saat ini kita menemukan, seorang sarjana bidang tertentu, namun tidak hanya berperan linear di bidang yang menjadi jurusannya.
Banyak sarjana hukum yang menjadi pengusaha, sarjana teknik yang menjadi guru, sarjana ekonomi yang menjadi petani, sarjana pendidikan yang menjadi guru ngaji, hingga yang bukan sarjana saja bisa menjadi menteri. Bahkan tidak sedikit juga sarjana yang di usia dewasanya masih nganggur dan bingung, ingin berbuat atau menjadi apa.
Baca: Muliakanlah Anak-Anakmu!
Hal tersebut tidak menutup kemungkinan pada era disrupsi saat ini. Ketika seseorang dinilai dan berperan bukan lagi hanya karena latar belakang lulusannya, namun yang utama karena ilmu, kemampuan, keterampilan, pengalaman atau kapabilitasnya. Siapa saja bisa menjadi apa saja, dan berbuat apa saja, selama ia memiliki kemampuan dan niat yang besar untuk melakukan apa yang ingin diperbuatnya.
Sehingga seorang anak perlu ditanya dan disiapkan untuk apa dia di masa depan. “Nak, nanti kamu besar ingin berbuat apa?” Agar ia memiliki filosofi dan pandangan yang lebih luas serta rinci tentang kehidupan beserta tantangannya. Sebab bisa jadi seorang anak tidak mendapatkan atau menjadi apa yang dicitakannya saat kecil. Tapi ia tetap bisa berbuat dan melakukan apa yang diimpikannya.
Jika ingin dapat membantu dan mengobati banyak orang sakit, ia tidak hanya harus menjadi dokter. Ia tetap bisa membantu orang sakit sebagai pengusaha, dengan kemampuan hartanya.
Jika ingin merubah dan memperbaiki masyarakat, ia tidak hanya harus menjadi seorang pemimpin atau presiden. Ia tetap bisa merubah masyarakatnya menjadi lebih baik, dengan mendidik serta menyiapkan generasinya, sebagai seorang guru di rumah, di sekolah, di pesantren atau di masyarakatnya.
Baca: Perbanyak Kasih Sayang pada Anak agar Kita Makin Disayang Allah
Maka seorang anak perlu dididik sejak kecil atau mudanya. Kita ceritakan tentang sosok-sosok orang bermanfaat dan kisah-kisah hebat tentang perbuatannya. Sehingga terbangun apa yang harus dibuat dan dicitakan untuk masa depannya. Minimal kita harus menanamkan agar ia menjadi seorang yang baik, entah apapun nanti peran atau profesinya. Sebab peran atau profesi itu tidak lepas dari takdir Allah dan ikhtiar manusia. Banyak alternatif jalan kehidupan, dan kita yakin apa yang Allah pilihkan lebih baik dari apa yang kita pilih atau inginkan.
Orang yang baik, yaitu seorang yang jujur, adil, disiplin, rajin, ramah, peduli, yang merupakan watak utama seorang muslim yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Saat ini kita tidak kekurangan orang yang pintar, namun kita lebih butuh orang yang pintar dan menjaga amanah serta akhlaknya.
Orang yang baik, adalah orang yang paling bertaqwa dan bermanfaat bagi yang lainnya, dimanapun ia berada dan menjadi apa pun ia. Lebih bagus lagi jika ia dapat menjadi orang baik dan dapat berbuat atau melakukan banyak manfaat serta berperan sesuai dengan apa yang dicitakannya.*/Bambang Galih S