Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Kebahagiaan Ukhrawi atau Duniawi yang Kita Cari?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Februari 2012 08:05 8:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Februari 2012 08:05
Bagikan
Bagikan

“MENGEJAR MIMPI”, atau “mencari kebahagiaan”, begitu kalimat atau perkataan yang sering familiar terdengar selama ini. Ada yang mencari dan mengejar kebahagian dengan cara bekerja keras menumpuk harta, karena pada harta yang berlimpah itulah mereka yakin terdapat kebahagiaan. Ada pula dari mereka yang mengejar kebahagiaan melalui tahta dan kekuasaan. Sehingga beragam cara pun kemudian mereka lakukan untuk memperoleh tahta dan kekuasaan tersebut, dengan anggapan bahwa melalui kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak hal, sehingga kekuasaan kemudian diidentikkan dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup.

Bahkan ada yang lari dari rumah dan menghindar dari ikatan keluarga dengan alasan mencari kebahagiaan dan kebebasan. Serta masih banyak lagi sangkaan-sangkaan lain mengenai kebahagiaan hakiki, yang mana sesungguhnya semua itu hanyalah daya khayali—akal fikir mereka semata tentang kebahagian. Lantas, apa sebenarnya yang disebut dengan bahagia (sa’adah)?

Kebahagiaan dalam Islam

Pembahasan semacam ini menjadi sangat penting, sebab, ungkapan “mencari” atau “mengejar” kebahagiaan menggambarkan kepada kita bahwa kebahagiaan itu seolah-olah tidak menetap dan selalu berubah-ubah. Paham yang sedemikian juga menggambarkan bahwa kebahagiaan yang ingin dialami itu bagaikan sesuatu yang berada di luar dan terpisah dari diri manusia itu sendiri sehingga manusia harus berusaha untuk mendapatkannya.

Yang cukup menarik, banyak yang beralasan, kebahagiaan itu dicari, diperjuangkan dan kemudian dinikmati hasilnya. Inilah yang menyebabkan arti kebahagiaan bagi setiap orang menjadi tidak selalu sama, karena kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai ketercapaian atas sesuatu yang diinginkan, kesuksesan atau kesempurnaan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Mengenai makna kebahagiaan, sebenarnya telah banyak dibahas oleh para ulama dan cerdik-pandai. Sebut saja Prof. Dr Al-Attas, dalam karyanya “The Meaning and Experience of Happiness in Islam” mengemukakan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidaklah merujuk pada entitias jasmani manusia, bukan pada jiwa hewani dan badan manusia, dan bukan pula ia suatu keadaan akal-fikir manusia yang akali belaka. Akan tetapi kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang Mutlak, yakni keyakinan kepada Allah ta’ala.

Di sini tampak dengan tegas bahwa Al-Attas menyatakan bahwa kebahagiaan itu bersifat ruhani, artinya tidak jasmani dan duniawi belaka, melainkan kebahagiaan itu hanya dapat dicapai melalui iman. Hal ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Al-Kindi. (baca: Ad-Dirasat an-Nafsiyyah ‘inda al-Ulama’ al-muslimin).

Al-Kindi mengemukakan bahwa kebahagiaan sejati bagi manusia bukanlah kenikmatan yang bersifat inderawi ataupun duniawi belaka. Tetapi berupa kenikmatan yang bersifat Ilahiah dan ruhaniah, yang dapat dicapai manusia jika dalam keadaan suci dari noda syahwat serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Di samping makna kebahagiaan yang disampaikan oleh Al-Attas dan Al-Kindi di atas, Ibnu Thufail secara lebih tegas lagi mengemukakan pendapatnya mengenai kebahagiaan hakiki tersebut. Ia menyatakan bahwa kebahagiaan terbesar adalah melihat wajib al-wujud, pencipta segala yang ada, yakni Allah Subhanahu Wata’ala, yang kesempurnaan-Nya tidak berakhir, dan keindahan-Nya tidak berujung. Dialah di atas segala kesempurnaan dan keindahan. Semua kesempurnaan dan keindahan di dalam wujud bersumber dari-Nya dan terpancar dari sisi-Nya. (baca: Hayy bin Yaqdzan). Tegasnya, bahwa terdapat pertalian yang sangat erat antara kebahagiaan hakiki dengan iman atau keyakinan seseorang. Sehingga disebutkan dalam rumusan Al-Attas bahwa iman di sini merujuk kepada ‘perjanjian azali’ yang telah dimaterai oleh manusia dengan penciptanya pada Hari Alastu sebagaimana yang telah diabadikan dalam al-Qur’an, surat al-A’raf, 7:172.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Attas, Al-Kindi maupun Ibnu Thufail mengenai kebahagiaan memiliki makna yang sama, yakni kebahagiaan tidaklah merujuk kepada kenikmatan inderawi atau jasmani manusia yang bersifat duniawi belaka. Akan tetapi kebahagiaan adalah suatu kenikmatan abadi di atas segala kenikmatan duniawi yang diperoleh melalui iman, keyakinan diri akan Hak Allah Ta’ala. Ia juga tidak berubah dalam kalbu manusia. Ia merupakan hakikat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup, yang kesemuanya bermula dari ilmu dan bersumbu pada satu poros yaitu cinta Allah (mahabbah).*/Amin Hasan, penulis adalah Penulis adalah Alumni PKU-IV ISID-Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tinggalkan Andalusia karena Enggan Dijadikan Khatib
Tulisan selanjutnya MUI Makin Seriusi Penutupan Lokalisasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel

Berita
20 Oktober 2026 19:37
Jihad Santri di Era Modern
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Terbaru

  • Jihad Santri di Era Modern
  • Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
  • Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan
  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000
  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?