Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?

Mahmud
Terakhir diupdate: 10 April 2026 09:00 9:00 am
Mahmud
Dipublikasikan 10 April 2026 09:00
Bagikan
Masjid Al-Aqsha
Bagikan

“Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani)

Hidayatullah.com | Patut disyukuri adanya kabar bahwa Masjidil Aqsha sudah dibuka kembali sehingga umat Islam di sana bisa menjalankan ibadah kembali di masjid ini. Hanya saja, satu fakta yang belum terwujud hingga saat ini adalah mereka masih berada dibawah bayang-bayang penjajahan. Khutbah kali ini berjudul “Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?”

Khutbah Pertama         :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى بَابًا إِلَى السَّمَاءِ، وَمَوْطِنًا لِلْأَنْبِيَاءِ، وَأَرْضًا لِلْمَلَاحِمِ وَالْفِدَاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَنَاصِرُ الْمُرَابِطِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُتَّقِينَ الَّذِي أَمَّ بِالْأَنْبِيَاءِ فِي لَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ.  قال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ.

Sidang Jum’at Rahimakumullah,

Baca Juga

Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa
Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

Marilah kita meneguhkan hati dalam takwa kepada Allah SWT. Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan kesungguhan menjaga perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap keadaan. Dengan takwa, Allah menjanjikan jalan keluar dari segala kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka.

Di tengah ujian dunia, takwa adalah benteng yang menguatkan jiwa, meneguhkan langkah, dan menjaga kita dari kelalaian. Maka jangan biarkan cinta dunia dan takut mati melemahkan iman, tetapi jadikan takwa sebagai cahaya yang menuntun hidup kita.

Hari ini kita menyaksikan Masjid Al‑Aqsha, kiblat pertama umat Islam, masih berada dalam cengkeraman penjajahan. Peringatan ini harus menggugah hati kita bahwa takwa bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membela kehormatan umat dan rumah Allah.

Dengan takwa, kita bersatu dalam doa, amal, dan dukungan bagi saudara-saudara kita di Palestina. Mari kita jadikan keteguhan iman sebagai senjata, doa sebagai perisai, dan amal saleh sebagai bekal, agar Allah SAWT segera membebaskan Al‑Aqsha dan memuliakan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Ma’asyiral Musyulimin Rahimakumullah,

Hari ini, dari atas mimbar yang mulia ini, kita memalingkan wajah dan hati kita menuju sebuah tanah yang tidak pernah sepi dari keberkahan, namun juga tidak pernah sepi dari tetesan darah para syuhada. Itulah Al-Aqsha, tanah yang disebut Allah dalam Al-Qur’an sebagai bumi yang diberkahi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra [17]: 1)

Al-Aqsha bukan sekadar nama geografi. Ia adalah barometer iman umat ini. Jika ia mulia, maka mulialah kita. Jika ia terjajah, maka ada yang luka di jantung tauhid kita. Saat ini, kiblat pertama kita sedang terhimpit, sementara kita sering kali masih terbuai dalam tawa yang tak bertepi. Maka muncul pertanyaan reflektif: “Di manakah posisi hati kita saat saudara seiman kita sedang meregang nyawa?

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Sejarah mencatat sebuah teladan emas tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap terhadap penderitaan saudaranya. Al-Hafiz Abu Syamah dalam kitabnya “Ar-Raudhatain fi Akhbar ad-Daulatain” (II/143) mengisahkan tentang Al-Malik al-Adil Nuruddin Zanki; pahlawan yang hidupnya diwakafkan untuk membela Islam.

Suatu hari, ketika tentara Salib sedang mengepung wilayah Dimyath, Nuruddin Zanki menghadiri majelis hadits. Saat itu dibacakan hadits yang memiliki keistimewaan “musalsal bit-tabassum” (setiap perawinya harus tersenyum). Sang guru hadits meminta Nuruddin untuk tersenyum agar sanadnya sempurna sesuai tradisi ahli hadits.

Responnya membuat hadirin terhenyak. Beliau beliau menolak. Wajahnya penuh kesedihan dan beliau berkata dengan penuh ketegasan:

إِنِّي لَأَسْتَحْيِي مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَرَانِي مُتَبَسِّمًا وَالْمُسْلِمُونَ مُحَاصَرُونَ بِالْفِرَنْجِ

“Sesungguhnya aku benar-benar malu kepada Allah Ta’ala jika Dia melihatku sedang tersenyum, sedangkan kaum muslimin sedang dikepung oleh tentara Salib.”

Allahu Akbar! Perhatikanlah, wahai hamba Allah. Nuruddin Zanki tidak sedang di garis depan perang saat itu, beliau di majelis ilmu. Namun, saking tingginya empati dan rasa malunya kepada Allah, beliau merasa bahwa tersenyum adalah sebuah “dosa rasa” di tengah duka umat. Beliau merasa malu jika Allah mendapatinya bersenang-senang saat saudaranya menderita.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Rasa malu yang ditunjukkan Nuruddin Zanki adalah bentuk nyata dari sabda Nabi Muhammad saw.:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam.” (HR. Muslim).

Jika Al-Aqsha terjajah dan Gaza terbakar, namun kita masih bisa tertawa terbahak-bahak dalam kelalaian hiburan tanpa sedikit pun rasa sesak di dada. Jika engkau tidak merasa sedih karena musibah yang menimpa saudaramu, maka tangisilah dirimu sendiri, karena sesungguhnya imanmu sedang sakit.

Ma’asyiral Musyulimin,

Kesedihan Nuruddin Zanki bukanlah keputusasaan. Kesedihan itulah yang mendorongnya mempersiapkan pasukan terbaik dan menyatukan umat. Beliau adalah orang yang memesan mimbar indah untuk diletakkan di Al-Aqsha saat masjid itu masih dijajah, karena beliau memiliki Yaqin (keyakinan mutlak) akan pertolongan Allah.

Lantas, apa yang kita persembahkan? Apakah doa kita sudah cukup sungguh-sungguh? Rasulullah saw. bersabda:

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit serta bumi.” (HR. Hakim)

Jangan biarkan lisan kita kering dari mendoakan mereka. Jangan biarkan tangan kita pelit dalam membantu ekonomi mereka. Dan jangan biarkan hati kita menjadi batu yang tidak lagi memiliki rasa malu kepada Allah.

Mari kita merenung; jika Nuruddin Zanki malu tersenyum karena pengepungan satu kota, betapa besarnya seharusnya rasa malu kita yang menyaksikan kiblat pertama dinistakan puluhan tahun, namun masih begitu “asyik” dalam kelalaian.Semoga Allah membangkitkan rasa cemburu (ghirah) di hati kita untuk membela agama-Nya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua           :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ. اِتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ingatlah prinsip yang dipegang teguh oleh para salaf saleh. Dalam riwayat Thabrani ditegaskan sabda nabi:

مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” Kembalinya Al-Aqsha dimulai dari kembalinya kita kepada Allah. Dimulai dari rasa peduli yang menghujam, dari sujud-sujud panjang di malam hari, dan dari komitmen untuk tidak diam di hadapan kezaliman.

Doa     :

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِينَ فِي فَلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ.

اللَّهُمَّ حَرِّرِ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى مِنَ الظَّالِمِينَ، وَارْزُقْنَا فِيهِ صَلَاةً قَبْلَ الْمَمَاتِ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al AqshaHeadlinekhutbah Jumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Survei Terbaru: Mayoritas Warga Amerika Tak Lagi Dukung Israel
Tulisan selanjutnya Gegara Rapat Daring Keberadaan Komandan dan Petempur Hizbullah Terlacak Mossad

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

sakit
Berita

Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien

Berita
9 Juli 2026 13:41
Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran

Terbaru

  • Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
  • PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
  • Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
  • Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump
  • Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan
  • Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran
  • Anggota Uni Eropa Bahas Larangan Impor Produk Pemukiman Yahudi Israel
  • Amerika Serikat Longgarkan Ekspor Item Militer, Chip AI dan Satelit Komersial ke UEA
  • Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah
  • Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Oase Iman

Khotbah Jumat:  Dua Anugerah Agung, Ramadhan dan Al-Quran

14 Maret 2025 09:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?