Ramadhan memang telah berlalu, tapi apakah segenap ibadah yang sudah diamalkan sebulan Ramadhan harus ikut berlalu? Di sinilah letak perbedaan antara orang yang ibadahnya musiman dengan yang penuh ketulusan tidak pernah membeda-bedakan bulan.
Hidayatullah.com | KHUTBAH Jum’at kali ini membahas bagaimana agar amalan yang sudah ditanam sepanjang bulan Ramadhan bisa terus kontinu atau istiqamah di segala bulan hingga bersua kembali dengan bulan suci berikutnya. Memang berat, tetapi disitulah ujiannya orang yang ingin lulus dari madrasah Ramadhan menjadi insan-insan yang bertakwa.
Khutbah Pertama :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَعَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ إِدْرَاكِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَبُلُوغِ شَهْرِ شَوَّالٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْعَرْضِ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَامَ وَقَامَ، وَأَفْضَلُ مَنْ دَعَا إِلَى الِاسْتِقَامَةِ عَلَى الدَّوَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْإِكْرَامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ الزَّادُ الْأَبْقَى، وَهِيَ الثَّمَرَةُ الْعُظْمَى الَّتِي خَرَجْنَا بِهَا مِنْ مَدْرَسَةِ الصِّيَامِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Sidang Jum’at Rahimakumullah,
Kita tahu bahwa tujuan disyariatkannya puasa Ramadhan adalah membentuk hamba Allah yang bertakwa sepanjang hayat. Maka, melalui mimbar ini, khatib tidak jemu mengingatkan agar nilai takwa ini terus kontinu sepanjang hayat. Ia merupakan sebaik-baik bekal untuk menyongsong kehidupan akhirat. Dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat selamanya, maka orang yang cerdas adalah yang menyiapkan bekal terbaiknya untuk menghadapi kehidupan abadi.
Hari ini, di bawah naungan langit Syawal yang masih bening, kita merasakan suasana yang berbeda. Gema takbir yang beberapa waktu lalu menggetarkan angkasa mungkin mulai memudar, namun getaran iman di dalam dada seharusnya tetap menyala. Kita tidak lagi berada di bulan Ramadhan, namun kita tetap berada di bumi Allah yang sama.
Kita sering kali terjebak dalam pola pikir “kontrak ibadah”. Seolah-olah hubungan kita dengan Allah hanyalah kontrak kerja selama 30 hari yang berakhir begitu Idul Fitri tiba. Namun, ketahuilah bahwa Allah tidak menginginkan ketaatan yang bersifat musiman. Allah menginginkan hamba yang Rabbani, bukan hamba yang Ramadhani.
Sebagaimana perkataan Imam Bisyr Al-Hafi rahimahullah saat ditanya tentang kaum yang rajin ibadah di bulan Ramadhan namun meninggalkannya setelah itu, beliau berkata:
بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ لَا يَعْرِفُونَ للهِ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang saleh adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathā’ifu al-Ma’ārif, 396).
Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah,
Syawal adalah pembuktian. Jika Ramadhan adalah masa latihan (training), maka Syawal dan bulan-bulan setelahnya adalah masa pertandingan yang sesungguhnya. Apakah nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kedermawanan yang kita pupuk kemarin masih bersemi? Ataukah ia layu begitu saja saat godaan dunia kembali memanggil?
Salah satu indikasi utama diterimanya amal shaleh kita adalah kemudahan untuk melakukan ketaatan berikutnya. Sebagaimana kaidah yang disebutkan para ulama:
ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” (Ibnu Rajab, Lathā’ifu al-Ma’ārif, 394).
Jika hari ini di bulan Syawal, langkah kaki kita masih ringan menuju masjid, lisan kita masih basah dengan zikir, dan mata kita masih enggan melihat yang haram, maka bergembiralah. Itu adalah tanda bahwa Allah telah menerima Ramadhan kita dan sedang membimbing kita menuju jalan istiqamah.
Allah SWT memerintahkan kita untuk konsisten beribadah tanpa batas waktu melalui firman-Nya:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini/ajal.” (QS. Al-Hijr [15]: 99). Beribadah kepada Allah itu sepanjang hayat, bukan musiman sesaat. Selama nyawa masih dikandung badan, maka tidak ada kata pensiun untuk pengabdian.
Jamaah Jum’at yang Berbahagia,
Bagaimana cara kita menjaga agar api amal tetap menyala di bulan Syawal ini? Pertama, Segera laksanakan Puasa Syawal. Ini adalah jembatan spiritual yang paling nyata. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Puasa ini bukan sekadar mengejar pahala setahun, tapi merupakan pernyataan cinta kepada Allah bahwa kita masih merindukan suasana ibadah meski Ramadhan telah pergi.
Kedua, Menjaga amalan yang sedikit namun rutin. Jangan paksakan volume ibadah yang sama persis dengan Ramadhan jika memang tidak mampu, namun jangan tinggalkan sama sekali. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim)
Jika kemarin kita khatam Al-Qur’an berkali-kali, minimal di bulan Syawal ini jangan ada hari tanpa membaca Al-Qur’an, walau hanya satu halaman atau satu ruku’.
Ketiga, Mewaspadai tipu daya setan yang telah lepas. Iblis dan bala tentaranya telah kembali dari belenggu. Target utama mereka adalah menghancurkan “benteng taqwa” yang kita bangun di bulan Ramadhan. Mereka akan membisikkan rasa malas dan perasaan “sudah cukup shaleh”. Ingatlah, perjuangan melawan hawa nafsu adalah jihad yang tidak pernah selesai hingga nafas terakhir.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari kita jadikan Syawal ini sebagai momentum peningkatan, bukan kemunduran. Jangan biarkan sajadah kita merindu sentuhan dahi kita di sepertiga malam. Jangan biarkan kotak amal merindu kedermawanan kita. Dan jangan biarkan mushaf Al-Qur’an kembali berselimut debu karena tidak disentuh.
Semoga Allah SWT mengokohkan hati kita di atas ketaatan dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah sampai akhir hayat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّايَ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ. اِحْرِصُوا عَلَى دَوَامِ الطَّاعَةِ وَلُزُومِ الْجَمَاعَةِ.
Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah,
Syawal sudah berjalan hampir sepekan. Masih ada sisa waktu bagi kita untuk membuktikan bahwa kita adalah alumni Ramadhan yang sukses. Jangan sampai kita menjadi orang yang digambarkan dalam istilah Al-Qur’an:
كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Seperti wanita yang mengurai kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.” (QS. An-Nahl [16]: 92).
Dalam kitab “Mawsūʿatu al-Tafsīr al-Maʾtsūr” (12/660) diceritakan kisah terkait ayat ini yaitu tentang seorang perempuan Quraisy bernama Rithah bint ʿAmr ibn Saʿd ibn Ka’b ibn Zayd Manāt ibn Tamīm, yang dijuluki Jaʿr. Ia digambarkan sebagai wanita yang kurang waras, memiliki kebiasaan aneh: membuat alat pintal besar, lalu memerintahkan para budaknya untuk memintal benang dari pagi hingga tengah hari. Namun, ketika siang tiba, ia justru menyuruh mereka merusak kembali semua hasil pintalan itu. Inilah yang menjadi kebiasaan buruknya; membangun lalu meruntuhkan, bekerja lalu membatalkan.
Kisah ini menjadi peringatan tentang orang yang tidak konsisten. Amal yang dilakukan tanpa kesinambungan akan hilang sia-sia, sebagaimana benang yang dipintal lalu diurai kembali. Hal ini sangat relevan dengan kondisi sebagian orang setelah Ramadhan: mereka rajin berpuasa, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an selama bulan suci, tetapi setelah Ramadan berlalu, semua amal itu ditinggalkan. Sama seperti wanita yang merusak pintalannya, mereka meruntuhkan sendiri hasil jerih payah ibadahnya.
Oleh karena itu, setelah sebulan kita memintal benang ketaatan, janganlah kita urai kembali dengan kemaksiatan di bulan Syawal ini. Mari kita tutup khutbah ini dengan memohon ketetapan hati kepada Sang Pemilik Hati.
Doa :
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَدُعَاءَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ المستقيمين عَلَى هُدَاكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(MBS)




