SUATU hari al-Hasan al-Bashri, seorang tabi’in pernah ditanya tentang makna “qurrata a’yun” dalam doa yang sering dibaca. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai qurrata a’yun, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Imam al-Hasan lalu menjawab: “Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratu a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.”
Lebih jauh Ikrimah menambahkan, bukan kegagahan rupa yang menjadikan pandangan mata itu teduh, namun keteduhan itu diperoleh dengan ketaatan seorang hamba dan orang-orang yang dicintainya. Selain menjadi harapan melihat ketaatan dari orang-orang yang dicintai, mereka juga pada dasarnya adalah objek dakwah yang paling dekat.
Sayyid Quthb pernah menerangkan, keluarga memiliki hak yang paling besar memperoleh dakwah dari seseorang dan hendaknya amanah itu ditunaikan sebelum ia dimintai pertanggungjawaban kelak.
Allah mengingatkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS: at-Tahrim [66]: 6).
Tak heran, Nabi terkadang bersedih hati acap kali bayangan ibunda Aminah terlukis kembali dalam ingatannya.
Dalam riwayat lain, Nabi sampai tergugu ketika menyaksikan kematian Abu Thalib yang begitu tragis. Meski dengan gigih Nabi sudah berusaha menuntun pamannya berucap kalimat syahadat. Tapi itulah yang terjadi dalam kisah Abu Thalib. Sang paman justru memilih mati dalam keadaan kufur.
Perkara inilah yang sangat menggelisahkan Nabi. Sebab Nabi sangat paham, apalah arti sebuah kebaikan jika tak berbalut dengan keimanan kepada Allah. Nabi menyadari jika pundaknya memikul amanah dakwah kepada Abu Thalib, sosok pengganti kedua orangtuanya.
Berkah keturunan yang baik
Anak shalih adalah harta yang tak ternilai harganya. Ia tak bisa disanndingkan dengan jenis kekayaan apapun di dunia ini. Boleh dijamin setiap orangtua sepakat dengan ungkapan tersebut. Siapapun dia, tanpa memandang status sosial, pendidikan, serta kekayaan. Mereka semua punya keinginan yang sama, mendamba lahirnya anak dan keturunan yang shalih. Sebab anak yang shalih itu selain berguna di dunia, ia juga bisa menjadi bekal tabungan orangtua di hari Kiamat kelak.
Suatu kebaikan yang meregenerasi tentu lebih utama daripada amalan yang terputus. Semakin langgeng suatu amalan makin banyak pula orang yang mencicipi kebaikan itu.
Olehnya, mufassir ternama Syeikh Abdurrahman as-Sa’diy dengan terang menyatakan, sesungguhnya doa meminta keturunan yang baik bukan ditujukan kepada orang lain. Sebab sejatinya pahala kebaikan tersebut niscaya berpulang kepada orangtua yang berdoa itu sendiri.
Hal ini sebagaimana dikuatkan dalam hadits Rasulullah, “Jika seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalannya, kecuali pada tiga perkara. Sedekah jariyah (yang mengalir), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya.” (Riwayat Muslim).*/Masykur Abu Jaulah