11. BUNDAAR, seorang ahli hadits, termasuk orang yang berbakti kepada kedua orangtua. Tentang beliau ini, az-Zahabi berkata, “Ia mengumpulkan hadits di negeri Bashrah dan tidak berkelana demi berbakti kepada ibunya.”
Abdullah bin Ja’far bin Khaaqaan al-Marwazi berkata, “Aku pernah mendengar Bundaar berkata, ‘Aku ingin keluar -maksudnya pergi menuntut ilmu-, lalu ibuku mencegah. Maka aku pun mematuhinya, kemudian aku mendapat keberkahan padanya.”
12. Al-Ashmu’i berkata, “Seorang laki-laki dari kalangan Arab Badui pernah bercerita kepadaku. Ia berkata, ‘Aku pernah keluar untuk mencari orang yang paling durhaka dan orang yang paling berbakti. Maka aku pun mengitari kampung-kampung, hingga akhirnya aku sampai kepada seorang tua yang di lehernya terdapat tali yang terikat dengan sebuah timba yang ditarik oleh unta di hari yang sangat panas saat itu. Sementara di belakangnya ada seorang anak muda, di tangannya terdapat tali dari cambuk melingkar yang ia pukulkan kepadanya, padahal punggungnya telah robek disebabkan tali itu. Lalu aku berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada orang tua yang lemah ini? Tidakkah cukup penderitaannya karena lilitan tali ini sehingga engkau memukulnya?”
Anak muda itu berkata, “Kendati demikian dia adalah ayahku.” Aku berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membalasmu dengan satu kebaikan pun.” Ia berkata, “Diam, sebab beginilah yang telah ia perbuat dengan ayahnya, dan demikian pulalah yang telah diperbuat ayahnya terhadap kakeknya”. Maka aku pun berkata, “Inilah orang yang paling durhaka.”
Kemudian aku pun terus berkeliling, hingga aku sampai kepada seorang anak muda, di atas lehernya terdapat sebuah gerobak yang berisi seorang tua, seolah-olah seperti seekor anak burung. Setiap saat ia meletakkannya di hadapannya, lalu menyuapkannya makanan sebagaimana anak burung yang disuapkan induknya. Lalu aku berkata, “Siapa ini?” Anak muda itu berkata, “Ayahku, ia telah pikun dan sayalah yang mengasuhnya.” Maka aku pun berkata, “Inilah orang Arab yang paling berbakti.”
13. Adalah Thalaq bin Habiib termasuk ahli ibadah dan ulama, dan ia mencium kepala ibunya dan tidak pernah pernah berjalan di atas lantai rumah, sedangkan ibunya ada di bawah; karena memuliakannya.
14. ‘Aamir bin Abdullah bin az-Zubeir pernah berkata, “ketika Ayahku meninggal, maka selama setahun penuh aku tidak pernah memintakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali permohonan maaf untuknya.*
Dari buku Wahai Keluargaku, Jadilah Mutiara yang Indah karya Dr. Ahmad Umar Hasyim dkk.