KITA masih saja sering menilai sesuatu hanya dari fisik semata. Padahal banyak sekali contoh sesuatu yang berwujud seringkali hanya fatamorgana, sementara sesuatu yang ghoib itu sangat lah nyata.
Seperti di dalam dunia bisnis. Di jaman now ini aset ghoib jauh lebih mahal nilainya dibanding dengan asset fisik. Fakta ini bisa kita lihat dari nilai valuasi atau harga jual 2 perusahaan besar Gojek dan Maskapai Garuda Indonesia.
Dalam nilai terakhir saham kedua perusahaan, valuasi perusahaan Gojek sudah dihargai oleh para investornya senilai Rp 75 triliun. Sementara nilai valuasi perusahaan maskapai Garuda Indonesia hanya Rp 6 Triliun. Itu artinya valuasi Gojek 12 kali lipat lebih berharga dibanding Garuda.
Valuasi adalah harga jual sebuah perusahaan. Biasa dinilai dari kemampuannya menghasilkan laba, potensi keberlansungan perusahaan di masa depan, dan nilai asset fisik. Terakhir dikurang nilai hutang perusahaan.
Aset Gojek hanya sebuah aplikasi, ya hanya aplikasi. Tapi dihargai lebih mahal dari aset Garuda Indonesia yang berupa ratusan pesawat Boeing dan Airbus. Walau sebuah aplikasi, Gojek dapat menjangkau ratusan juta pelanggan dan jauh dari apa yang bisa dijangkau Garuda Indonesia.
Inilah bukti aset ghoib atau intangible asset yang tidak berwujud ini lebih mahal dari aset fisik atau tangible asset.
Contoh lain misalnya. Toyota dan Boeing, dua perusahaan besar dunia ini memiliki aset fisik berupa ratusan pabrik seluas puluhan kali lapangan sepakbola. Namun nilai vaulasi Facebook yang memiliki aset hanya aplikasi di handphone ini lebih berharga dan bernilai Rp 4000 Triliun, atau puluhan kali lipat di atas nilai valuasi Toyota dan Boeing.
Sebenarnya bagi seorang Muslim, tak perlu melihat contoh di atas untuk melunakkan logika di otaknya untuk mempercaya hal-hal ghoib itu jelas. Yakin bahwa balasan dan pertolongan Allah itu ada dan Surga dan neraka bukanlah sekadar ajaran penghibur dan alat untuk menakut-nakuti. Karena salah satu ciri orang bertakwa adalah beriman kepada sesuatu yang ghoib.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
”Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan.” (QS Al-Baqarah [2]: 3).
Kembali bicara tentang aset ghoib atau intangible asset. Mari simak data yang lumayan mencengangkan ini. Pada tahun 1975, sumbangan intangible asset¬ terhadap kesuksesan sebuah bisnis hanya 17%. Pada tahun 2015 ini sudah tembus 84%.
Baca: Pengelolaan Aset Waktu
Data itu dengan segera mendedahkan sebuah fakta bahwa dalam kesuksesan bisnis, betapa kekuatan yang tidak kasat mata ternyata lebih punya pengaruh. Dan dalam alam ini tidak bisa hanya terpaku dengan hukum materi.
Bagi seorang Muslim, iman kepada yang ghoib adalah syarat fundamental dalam Islam. Keimanan ini berarti percaya seyakin-yakinnya (haqqu al-yaqiin) bahwa ada entitas di luar dunia indrawi. Entitas ini adalah sesuatu yang nyata, bukan sekadar ajaran filosofis abstrak ataupun perumpamaan.
Jadi, sepatutnya sebagai seorang Muslim. Jangan orientasikan sukses hidup hanya dalam ruang yang kasat mata. Karena sesuatu yang berupa materi duniawi biasanya hanyalah relatif dan semu.
Mari kita yakin bahwa sesuatu yang ghoib itu lebih baik, terutama janji Allah yang tidak selalu berwujud fisik. Dan tidak lelah untuk menyelaminya di dalam Kitab suci-Nya melalui terus mentadabburi dan hadir di dalam majelis ilmu tentang firman-firmanNya.*/Rofi Munawwar