BAGI seorang Muslim, iman yang benar adalah iman yang mampu menggelorakan semangat dalam jiwa. Iman yang benar ialah iman yang tidak sekedar menyatakan kata yakin dengan penuh keyakinan.
Sebab lebih dari itu, ia sanggup mendorong pemiliknya untuk berbuat amal kebaikan dan bersabar atasnya. Sebagaimana iman mampu menahan pemiliknya dari rayuan hawa nafsu yang menggelincirkan.
Iman tersebut dikatakan nafi’ (bermanfaat) ketika ia tidak diam begitu saja, tanpa ada keinginan untuk berbuat amal shaleh. Iman disebut berfungsi jika mengalirkan motivasi yang deras untuk terus bermujahadah (all out) dalam sebuah kebaikan, hingga tiba masanya orang itu mendaki puncak tertinggi amal shaleh seorang Muslim, yaitu jihad (berperang) di jalan-Nya.
Menurut Syeih Abdurrahman Nashir as-Sa’di Rahimahullahu, ayat berikut ini bukan sekedar berita yang menceritakan tentang adanya pertarungan abadi antara orang beriman versus orang kafir. Namun ia juga perintah yang wajib dilaksanakan bagi setiap orang beriman.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (Surah an-Nisa [4]: 76).
As-Sa’di mengingatkan, hendaknya setiap Muslim selalu menyadari kandungan ayat di atas. Jika selama ini orang-orang kafir begitu bergairah menabuh genderang perang melawan umat Islam. Mereka bersemangat dan bersabar melakukan keburukan dan kemaksiatan. Ibaratnya, antara haq dan bathil sampai hari kiamat tak akan bertemu.
Di antara mereka sampai berani dan rela mengorbankan apa yang dimiliki. Mulai dari waktu, fikiran, tenaga, bahkan hingga harta dan nyawa sekalipun. Lalu bagaimana dengan kita sebagai umat Islam.
Adakah di antara kita yang benar-benar telah mengurus agama ini? Adakah kita berani mengklaim jika hidup yang hanya sebentar ini benar-benar telah kita habiskan dalam memperjuangkan agama dan kebenaran?
Di satu sisi boleh jadi kita lantang berteriak menyatakan keyakinan terhadap syariat Islam. Namun di saat yang sama terkadang kita seolah “ragu” dengan kebenaran tersebut. Hal ini terbukti dengan realitas di tengah umat Islam sekarang.
Alih-alih memperjuangkan agama dan dakwah. Menegakkan shalat berjamaah lima waktu saja terkadang kita masih enggan dan bermalas-malasan di rumah. Seribu satu alasan lalu dimunculkan untuk menutupi kemalasan tersebut.
Rahasia kelemahan setan
Ayat di atas membantah asumsi bahwa setan itu musuh yang kuat dan sulit dikalahkan. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh Allah Ta’ala, Zat yang menciptakan bumi dan langit serta seluruh apa yang ada di dalamnya. Mufassir Imam at-Thabari Rahimahullahu lalu menjelaskan permasalahan tersebut.
Menurutnya, umat Islam jangan terjebak dengan anggapan setan itu musuh yang kuat. Sebab itu pukulan awal yang justru langsung menohok pertahanan iman seseorang.
Setan menjadi semakin kuat sebab terlanjur kita bersikap inferior terhadapnya. Lebih dulu merasa lemah atau sejak awal merasa tidak bisa menghadapinya.
Kondisi demikian malah semakin membuat setan leluasa mengerjai orang tersebut.
Menurut Imam at-Thabari, tak lain karena kekuatan orang-orang beriman itu bersandar langsung kepada Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.
Jauh-jauh hari Allah telah memberi busyrah (kabar gembira) kepada para hamba-Nya. Siapa saja diantara mereka yang menolong agama Allah, niscaya Allah tak segan menolong dia pula. Kebalikan dari pengikut musuh-musuh Allah, mereka hanya mampu mengais harapan dari tipuan setan dan kekuatan iblis saja. Padahal setan dan iblis notabene juga makhluk ciptaan Allah yang sangat lemah dan hina di hadapan kemuliaan Sang Khalik (Sang Pencipta).*/Masykur Abu Jaulah