Oleh: Fahmi Salim
Hidayatullah.com | LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA. Alangkah beruntungnya, orang-orang yang mendapat panggilan Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2020, di saat ujian Pandemi Covid 19 masih belum berakhir. Pelaksanaan ibadah haji tak seperti biasanya, hanya seribu orang yang diperbolehkan untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5 ini. Pemerintah Arab Saudi sengaja membatasinya.
Sebanyak 70 persen jamaah adalah ekspatriat yang bermukim di Arab Saudi. Mereka yang dipilih kebanyakan para petugas kebersihan dan kesehatan, yang belum pernah berhaji. Di antara mereka, menurut Dr, Endang Jumali, Lc, MA Konsul Jenderal Urusan Haji di Jeddah, ada 13 warga negara Indonesia. Seleksinya ketat. “Saya saja perwakilan negara tidak diterima,” ungkapnya seperti disampaikannya dalam program Ngaji Syari’e (NGESHARE), “Ngaji Dulu, Alim Kemudian”.
Mereka yang diterima, langsung didatangi petugas kesehatan Arab Saudi, dan ditest kesehatannya, kemudian dibawa untuk karantina selama 5 hari. Mereka adalah orang-orang yang beruntung mendapat karunia Allah. Sementara, banyak calon jamaah haji yang tidak bisa berangkat tahun ini. Tidak ada sikap terbaik kecuali bersabar dan berbaik sangka dengan ketentuan Allah. Semoga Allah memudahkan pelaksanaan ibadah haji di tahun depan.
Pelakanaan wukuf di Arofah bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 31 Juli 2020. Inilah hari yang begitu istimewa, hari perlombaan untuk meraih ampunan Allah. Arofah adalah hari yang disebutkan oleh Rasululloh shallalahu alaihi wa sallam dalam hadist riwayat Muslim, sebagai hari terbanyak yang Allah bebaskan hamba-hamba-Nya dari daftar penghuni neraka. Allah Azza wa Jalla mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata, “apa yang mereka inginkan? “. Inilah saat doa kita paling mustajab.
Moment spiritual seperti ini tak akan mungkin terlupakan bagi orang-orang yang meninggalkan negerinya untuk berhaji dengan penuh ketaatan, Seperti kisah Dr. KH. Amir Faishol Al Fath, yang bisa disapa Abi Amir yang juga menjadi tamu dalam program NGESHARE.
Beliau mendampingi ibundanya yang sudah sepuh untuk melaksanakan ibadah haji tahun 2019 lalu. Karena keyakinannya yang kokoh, sang bunda yang berusia 80 tahun ini kuat untuk berjalan kaki ke masjidil haram, yang jaraknya sekitar 4 km dari penginapan. Setiap hari, ia pulang pergi berjalan kaki sekitar 8 km demi meraih pahala ibadah di masjidil haram, yang tak mungkin mampu dilakukannya jika berada di Indonesia.
Wukuf di Arafah menjadi puncak dari ritual ibadah haji. Tidak sah ibadah haji tanpa wukuf di Arafah. Wukuf yang secara bahasa artinya, berdiam. Maknanya, berdiam mengistirahatkan tenaga dan pikiran dari urusan dunia untuk menapaki kesadaran spiritual, sekaligus melakukan transformasi ruhani menjadi manusia, yang sadar, darimana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan pergi. Wukuf juga merupakan refleksi pusaran hidup manusia bahwa manusia kelak akan dikumpulkan di padang mahsyar. Saat berada di Padang Arofah, setan begitu marah dan tersudutkan. Allah Azza membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya, bagi siapa saja yang memohon kepada-Nya.
Menurut Abi Amir, Arofah mengingatkan kita pada kisah Nabi Adam alaihissalam, yang bertemu dengan Hawa setelah sekian tahun terpisah. Adam dan Hawa terbujuk rayuan Iblis untuk memakan buah yang terlarang di Surga. Allah menurunkan keduanya di bumi di tempat yang jauh terpisah. Kemudian, Allah mengampuni keduanya. Ampunan inilah, yang kita panjatkan dalam doa-doa kita selama berada di Arofah.
Ibadah haji adalah ibadah yang penuh dengan simbol dan merupakan nipak tilas perjalanan Nabi Ibrahim alaihisssalam bersama putranya, Ismail dan istrinya Hajar. Dimulai saat Ibrahim meninggalkan keduanya di sebuah padang tandus, Bakkah, yang saat ini bernama Makkah.
Di tempat itulah, Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya bersama bayi Ismail, hanya dibekali sedikit kantung makanan berisi kurma dan wadah air. Saat Hajar melihat suaminya meninggalkannya, ia pun membuntutinya, dan berkata, “wahai nabiyulloh Ibrahim, hendak kemana kau pergi dan meninggalkan kami di lembah tak berpenghuni ini?”. Berkali-kali, Hajar bertanya, “kenapa engkau meninggalkan kami di lembah tak berpenguni ini?”. Namun Nabi Ibrahim tak menoleh dan tak menjawabnya. Akhirnya, Hajar bertanya,” Allah kah yang menyuruhmu melakukan ini? “ “ya.” jawab Ibrahim, “kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami,” ungkap Hajar.
Dengan berat hati Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya, seraya berdoa untuk kesejahteraan, dan keselamatan keluarga yang ditinggalkannya sebagaimana diabadikan dalam surat Ibrahim ayat 37, yang artinya. “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam tanaman di dekat rumah engkau yang dihormati. ya rabb kami agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepadanya, dan beri rizkilah mereka dari buah buahan, mudah mudahan mereka bersyukur”.
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim beserta keluarganya menghadapi berbagai ujian hidup yang berat, yang kemudian diabadikan dalam prosesi ibadah haji dan ibadah qurban. Ketika selesai meninggikan bangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyeru umat manusia untuk berhaji. Ibrahim tak tahu bagaimana seruan bisa menyebar ke berbagai penjuru dunia. Namun, Allah menegaskan bahwa tugas Ibrahim hanya menyeru, Allah lah yang menyampaikannya. Terbukti, jutaan orang selalu berbondong-bondang untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS Al-Hajj: 27).
Seruan ibadah haji seperti termaktub dalam ayat 26-37 surat Al-Hajj, menurut Abi Amir sesungguhnya seruan persiapan jihad, karena ayat-ayat yang termuat dalam surat Al-Hajj, digandengkan dengan tema jihad mulai ayat 38-41. Fakta ini sangat menarik bukan? Bahkan kalau saya tarik benang merahnya fakta Qur’ani itu selaras dengan sejarah perjuangan bangsa kita melawan kolonial.
Bukankah dahulu, para pejuang menggelorakan jihad untuk mengusir penjajah Belanda sepulang melaksanaan ibadah haji. Sebut saja, misalnya Syekh Yusuf Makassari, Mufti Kesultanan Islam Banten di era Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah berhaji pada tahun 1649 dan bermukim di Haramain selama 20 tahun mendalami ilmu-ilmu Islam, bersama Sultan memimpin pertempuran melawan VOC hingga ditangkap lalu diasingkan tahun 1684 ke Srilanka sebelum dipindah ke Cape Town, Tanjung Harapan di Afsel.
Dari Srilanka tempat transit jamaah Haji Nusantara, buku-buku dan paham jihad Syekh Yusuf dibawa pulang ke Nusantara hingga mengobarkan semangat juang di seluruh nusantara. Pangeran Diponegoro, saat diasingkan Belanda, satu-satunya permintaan adalah bisa dibolehkan pergi Haji. =
Perang Jawa (1825-1830) dan pemberontakan-pemberontakan petani sepanjang paruh kedua abad 19 dipelopori oleh para pemuka agama dan haji. Ini membuat pemerintah bukan hanya menganggap haji sebagai urusan penting, melainkan penuh kewaspadaan.
Surat-surat dari ulama Haramain yang dibawa oleh jamaah haji Nusantara ke tanah air telah memompa semangat juang jihad mengusir penjajah Belanda. Sehingga memaksa pemerintah kolonial mengeluarkan Resolusi 1825 membatasi kuota haji, dan Ordonansi Haji 1859 sebagai bentuk kerisauan mereka. Begitu pula, para pejuang kemerdekaan, seperti Haji Samanhudi, Kyai Achmad Dahlan, dan Kyai Hasyim Asya’ari. Kekuatan tauhidnya makin kokoh, setelah berhaji. Ibadah haji bukan untuk meraih gelar apalagi status sosial, tapi menyempurnakan puncak kesadarannya sebagai hamba Allah untuk menebar kebaikan dan menegakan misi perubahan sosial dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar.
Karena itulah, berhajilah mengikuti napak tilas perjalanan Nabiyulloh Ibrahim dengan mengikuti teladannya. Jika ingin menjadi orangtua mulia dan terhormat, seorang ayah harus meneladani kekuatan iman Nabi Ibrahim dan seorang istri harus meneladani ketaatan dan kesabaran Hajar. Begitu pula, seorang anak harus meneladani Ismail dalam pengorbanan, pengabdian dan kesabarannya. Tak ada ketaatan yang agung, kecuali ketaatan hanya kepada Allah Penguasa semesta ini. Begitulah yang diwariskan keluarga mulia ini, yang telah melahirkan generasi para nabi, sehingga nabi terakhir Muhammad alaish-sholatu wassalam.
Ibadah haji memberi pesan bahwa ketaatan terhadap syariat Islam, tak boleh ditawar-tawar. Kata Abi Amir, jangan berusaha menghindari syariat Islam dengan berbagai alasan. Saatnya, seluruh hidup kita harus dipersembahkan dalam totalitas penghambaan, berupa ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Kemudian, Allah telah menyempurnakan agama ini, maka cukuplah bagi kita dengan teladan yang telah diwasikan oleh Rasululloh. Teladan dalam segala hal, teladan sebagai ayah, suami, sahabat, tetangga, pebisnis hingga pemimpin politik.
Ibadah haji mengandng banyak rahasia dan hikmah, yang kadang akal manusia tak mampu untuk mencernanya. Ibadah haji dimulai dengan meluruskan niat saat berada di miqat. Di sinilah, kita mulai mengenakan ihram, kain putih tak berjahit untuk menutup tubuh. Inilah persiapan menjadi tamu Allah yang menyadarkan kita tentang persiapan saat menghadap Allah setelah peristiwa kematian.
Pakaian Ihrom juga memberi pesan bahwa Allah tak akan melihat pakaian keduniawian kita, baik berupa harta, pangkat, kedudukan maupun keturunan. Ihram adalah sebuah simbol penanggalan semua ego kita. Saat berhadapan dengan Allah, tak lagi dibutuhkan pernak-pernik keduniaan yang kita kejar selama ini. Makna inilah yang harus dihayati oleh para jamaah haji.
Saat ini, mereka tengah menyempurnakan prosesi ibadah haji. Sementara yang tidak berhaji pun, tengah menjalankan ibadah qurban yang juga sama-sama napak tilas perjalanan Nabiyullah Ibrahim. Setelah idul adha, masih ada hari-hari tasyriq, tanggal 11-12 dan 13 Dzulhijjah, yang masih dibolehkan untuk melakukan ibadah qurban. Ini termasuk hari-hari istimewa untuk selalu mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya. “Ingatlah Allah di hari-hari berbilang,” (QS. Al-Baqarah: 103).
Tasyriq adalah hari-hari teragung untuk selalu berzikir dan bersyukur dengan semua nikmat Allah, salah satunya berupa hidangan daging kurban. Di hari-hari inilah selepas shalat, kita membasahi lisan kita dengan doa dan takbir. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahilhamdu. Semoga Allah Ta’ala menerima semua amal ibadah kita.WAllahu Ta’ala ‘alam.*
Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI.
Artikel ini hasil kerjasama program Ngaji Syari’e (NGESHARE), “Ngaji Dulu, Alim Kemudian”. Tayangan lengkapnya di link ini:https://youtu.be/NSnB9EaQOPA