Hidayatullah.com | PADA saat ILC TV One tayang terakhir, selasa (15/12/2020), mantan anggota DPR RI Fahri Hamzah sempat menyebutkan istilah sombong. Ia menyampaikan hal ini, dalam satu rangkaian penjelasannya ketika menilai sikap pemerintah.
Istilah sombong adalah bahasa sehari-hari publik, yang diujarkan anak-anak hingga orang dewasa, baik dalam konteks pengujaran biasa, maupun dalam konteks normatif agama. Namun ketika kata ini diujarkan dalam konteks politik dan negara, istilah ini menjadi “istimewa”.
Istimewa karena pilihan diksi “sombong”, boleh jadi sebagai bentuk penghalusan dari istilah yang lebih ekstrim seperti dzalim atau tiran misalnya. Dan sekaligus sebagai sindiran yang tajam (satire).
Kata seperti ini jarang diujarkan dalam kamus politik, barangkali karena memang kesombongan adalah bagian yang melekat (embedded) dari kekuasaan. Sehingga tidak perlu lagi diucapkan. Seperti udara dan kehidupan manusia, seperti juga bahasa dan manusia. Keduanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sehari-hari manusia, sehingga nyaris tidak disadari keberadaannya.
Penulis kira, hal yang sama terjadi pada diksi sombong. Karena sejatinya kekuasaan membuat kita menganggap gampang semua urusan. Dengan kekuasaan pula kita dapat menghegemoni semua yang ada di sekitar kita. Kita ingin mengendalikan setiap peristiwa dan keadaan, agar orang-orang tahu dengan kekuasaan yang kita miliki.
Demikian kira-kira, dasar pikiran bahwa kata sombong tidak lagi menjadi relevan dalam kamus politik kekuasaan. Namun terlepas dari pemikiran tersebut, penulis kira perlu dielaborasi secara lebih mendalam penilaian Fahry Hamzah tersebut, apa benar pemerintah yang sedang berkuasa sekarang sombong. Karena dinilai tidak mau bersikap lebih humble dalam membangun komunikasi politik maupun dalam mengelola konflik yang terjadi antar anak bangsa.
Penulis tidak akan masuk ke dalam penilaian hitam putih, benar salah. Namun dalam tulisan ini, akan dikupas tentang hakekat sombong dan kesombongan dalam konteks persfektif agama dan kekuasaan. Pada dasarnya, bentuk kesombongan itu ada dua kategori, yaitu kesombongan yang diujarkan secara verbal dan kesombongan yang tidak diujarkan secara verbal.
Kesombongan yang diujarkan adalah pikiran dan sikap yang merasa diri kita yang paling di antara yang lain, yang diungkapkan secara verbal. Seperti ucapan, “Kami yang paling benar, kami yang paling Pancasilais, kami yang paling agamis, kami yang paling mengerti tentang negeri ini, tanpa kami, kalian tidak ada apa-apanya.”
Demikian kira-kira contoh kongkrit dari pendirian dan sikap sombong. Biasanya setelah ujaran, disusul dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan pandangan tersebut.
Sementara ada kesombongan yang tidak diujarkan. Dan bahkan, secara verbal dikesankan humble dan penuh kelembutan. Namun, sikap dan perilakunya memperlihatkan sikap sebaliknya. Tidak mengucapkan kesombongan, akan tetapi tampak pada bahasa tubuh, sikap, tindakan dan kebijakan (policy).
Meminjam istilah David Runciman, “politik hipokrisi” (politik mendua atau muka dua), tak sama antara “halaman muka” dengan “halaman belakang”. Fenomena yang kedua jauh lebih buruk dari yang pertama. Karena dampaknya jelas dirasakan, sementara pelakunya belum tentu menyadari. Terlebih lagi, tidak ada yang akan menyatakan kesombongan secara verbal, meski ia bertindak arogan.
Sama halnya tidak ada pencuri yang men-declare dirinya pencuri. Bahkan ada kecenderungan, mereka yang sombong merasa dirinya “selalu benar”.
Makanya dalam al Quran, Allah berfirman
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Artinya: “jangan kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan menembus bumi, dan juga tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS: Al Isra’:37 ).
Kata “jangan berjalan” (wa la tamsyi), bukan berkata-kata dengan sombong. Ayat ini mengindikasikan, bahwa kesombongan yang berbahaya adalah kesombongan yang tampak dalam perilaku (atau derap langkah).
Sederhananya, kalau hanya diujarkan (lip service) tanpa ada sikap dan perilaku yang sombong, maka tidak terlalu berbahaya. Namun tidak jika sebaliknya, diujarkan dan dipraktekkan (atau tidak diujarkan secara verbal, tapi dilakukan secara praktikal), maka akan sangat berbahaya.
Ketika dengan ilmu pengetahuan manusia mengeksploitasi sumber daya alam, atas nama mandat khalifah fi al ardh, maka kita bisa mengkalkulasikan dampak kerugiannya. Kesemena-menaan kepada alam, sampai kemudian merusak keseimbangan ekosistemnya, meskipun tidak diujarkan, adalah bentuk kesombongan yang berbahaya.
Demikian halnya, jika dengan kekuasaan besar yang ada di tangan kita digunakan untuk melahirkan kebijakan yang diskriminatif atau tidak adil, meskipun hal ini tidak diujarkan dapat dikategorikan kesombongan yang berbahaya.
Atau kesewenang-wenangan memberi stigma buruk kepada pihak lain, tanpa dasar yang jelas dan terukur, sehingga menutup peluang pihak yang distigma “membela” diri. Seperti melabelkan orang atau kelompok tertentu dengan istilah radikal, fundamentalis, konservatif, intoleran dan lain sebagainya. Sehingga menjadi legitimasi pihak lain untuk bertindak refresif kepada mereka yang dilabelkan demikian. Ini bisa dikategorikan sebagai tindakan radikalisasi, dan sekaligus bentuk keangkuhan kekuasaan.
Kesombongan menjadi anarki dalam kekuasaan, meski tidak diucapkan secara verbal. Fenomena ini jamak terjadi kini, tampak pada komunikasi politik yang dipenuhi gimick keberadaban, kesantunan dan kerendahan hati. Namun pikiran, sikap dan tindakan memperlihatkan sebaliknya, seperti kesemena-menaan, kehendak untuk menafikan dan semangat hendak membungkamkan pihak lain.
Atau ada kelompok mengaku toleran, namun sikap dan perilakunya tidak toleran. Ada orang mengaku menghormati pihak lain, namun tindak tanduknya berupaya menghancurkan pihak lain.
Gejala seperti ini, yang disinyalir dari ayat al quran di atas. Quran tegas menyalahkan sikap tersebut sebagai tindakan yang salah, dekaden dan dhzalim. Ancamannya tidak main-main, “tidak akan mencium bau Surga”.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan masuk ke dalam Surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongam.” (HR: Muslim)
Pertanyaan berikut, faktor apa yang mendorong manusia cenderung bersikap sombong. Diantara penyebab sikap sombong manusia adalah;
Pertama, karena manusia merasa dengan segala “kekuasaan” dirinya, maka ia dapat berbuat apa saja. Manifestasi kekuasaannya bisa berbentuk kedudukan, pengetahuan, keahlian maupun materi yang berlimpah.
Kedua, karena manusia lupa tentang siapa dirinya, yang tidak lain dan tidak bukan hanya seorang hamba yang lemah. Semua yang ada pada dirinya adalah titipan dari Tuhan YME. Kedudukan, pangkat, pengetahuan dan kekayaan hanyalah semata titipan Tuhan. Penyakit lupa diri ini sering menjadi sebab penyakit akut pada manusia, dan paling sering menjadi biang kerok penyebab berbagai problem kehidupan.
Ketiga, karena manusia merasa dapat mengendalikan semua yang ada di bawah kekuasaannya. Dengan kekuasaan yang besar di tangan dapat digunakan untuk mencapai segala kepentingannya.
Keempat, karena rasa takut (phobia) yang berlebihan, sebagai akibat rasa inferioritas (rasa rendah diri) diri sendiri. Sehingga keberadaan pihak yang berbeda cenderung dianggap “ancaman”. Sehingga butuh ruang untuk menunjukkan bahwa diri lebih dari pihak tersebut. Butuh ruang agar diakui legitimasinya. Karena boleh jadi karena mereka defisit legitimasi. Orang dengan surplus pengakuan atau legitimasi, tidak perlu menunjukkan dirinya, karena publik sudah dengan sendirinya mengakui.
Kelima, karena ingin dianggap dominan. Sehingga tidak merasa perlu dukungan dari pihak lain, yang dinilai lebih lemah. Dominannya diperlihatkan dari sikap dan perilaku yang ingin selalu tampil di muka. Meskipun senyatanya, kapasitas dan kapabilitas tidak cukup mumpuni untuk berada di muka.
Dapat disimpulkan, kesombongan lahir dari hati yang “lemah” atau jiwa kekuasaan yang kerdil. Sehingga lahir perilaku yang berupaya menutupi kelemahan tersebut. Buahnya adalah sikap ketertutupan (eksklusifitas), baik dalam menerima kebenaran, kemungkinan peluang alternatif terbaik, hingga kekerasan.
Artinya, jika kekuasaan mempraktekkan politik kesombombongan, berarti kekuasaan tersebut sedang mempertontonkan sikap tertutupnya, menolak kebebasan untuk berbeda (sehingga argumen dapat diuji) dan pada gilirannya bisa saja kekerasan digunakan untuk meneguhkan keyakinan dan pendapatnya tentang apa yang diyakini “benar”.
Manakala situasi ini terjadi, maka tertutuplah ruang dialektika, kebebasan berpendapat (ruh demokrasi) dan keberadaban bernegara. Semestinya, penguasa bersikap lebih humble dengan rakyatnya (tanpa harus kehilangan keseimbangan antara sikap adil dan ketegasan). Termasuk mereka yang berseberangan dengan penguasa, karena keberadaan pihak tersebut dapat menjadi bagian dari upaya “menguji” dan “menilai” kinerja kita.
Melalui dialektika tersebut, penguasa dapat mengetahui baik buruk kebijakan yang dihasilkan. Dengan demikian, dapat meningkatkan dan memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.
Maka dapatlah kita pahami, mengapa Allah sangat membenci sikap jumawa. Ternyata kemaslahatan terhindar dari kesombongan besar bagi manusia (termasuk juga bagi negara). Wallah a’lam bi shawab. */Eka Hendry Ar, dosen IAIN Pontianak