Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Mengabadikan Kesementaraan Cara Nabawiyah dan Quraniyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 April 2022 10:34 10:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 April 2022 10:15
Bagikan
Bagikan

Banyak manusia akhir zaman hobi mengabadikan semua kegiatan dan momen. Kamun kita bisa mengambil cara ‘mengabadikan kesementaraan’ yang benar sesuai tuntunan Nabawi

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidayatullah.com | MAU diakui atau tidak, di zaman serba digital ini kian banyak manusia yang mulai mencari cara untuk melampaui batasan diri dan zamannya. Kita dapati manusia berlomba-lomba menerobos batasan ilmu pengetahuan dan imajinasi lewat berbagai karya teknologi canggih mereka.

Bahkan kini ada istilah Artificial Intelegence (AI) alias kecerdasan buatan yang semakin menambah kedigdayaan manusia sebagai makhluk berakal. Berbagai inovasi yang dikebut dan tercipta begitu cepat bahkan dalam hitungan detik semakin memberi gambaran bahwa apapun  hasil karya manusia di dunia ini selalu bersifat sementara alias tidak akan mencapai sebuah kebakuan (tetap abadi).

Karena selalu diperbaharui dengan cepatnya. Artinya kondisi kesementaraan di tiap waktunya akan selalu diperbaharui menjadi kesementaraan selanjutnya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Maka dari realitas kehidupan manusia inilah kemungkinan tercipta sebuah istilah yang jarang sekali direnungkan maknanya yakni sebuah ungkapan khas berbunyi, ‘mengabadikan momen’ yang sering kita dengar.

Di era sosial media dimana batasan geografis sudah kian terkikis, manusia cenderung hobi membagikan apapun aktifitas mereka kepada khalayak umum. Bahkan terkadang masalah paling pribadi (privacy) sekalipun.

Hampir tidak ada lini kegiatan manusia yang kini tidak dibagi ke publik di media sosial. Dari urusan sosial hingga urusan personal bahkan tidak jarang kebablasan sampai perkara yang paling pribadi (aib) sekalipun.

Unggahan berbagai kegiatan itu bisa berupa foto maupun video yang bisa disaksikan oleh  banyak mata, diunduh, dibagi ulang bahkan dikomentari. Ini semua secara tidak langsung akan bermuara pada pemenuhan sebuah syahwat tersembunyi dari manusia yakni ingin dilihat dan dikenang secara abadi.

Marcus Aurelius, Kaisar Romawi, dalam bukunya yang berjudul Meditationes yang disusun dari tahun 161 hingga 180 M yang berisikan catatan pribadi serta gagasannya mengenai filsafat Stoisisme mengatakan, “Orang-orang yang sangat menginginkan dikenang sesudah mati lupa bahwa mereka yang akan  mengenangnya pun akan mati juga. Dan begitu juga orang-orang sesudahnya lagi. Sampai kenangan tentang kita diteruskan dari satu orang ke yang lain bagaikan nyala lilin, akhirnya meredup dan padam.” -Marcus Aurelius (Meditations).

Seseorang memang akan dikenang oleh orang lain dengan apa yang ia tinggalkan setelah meninggalnya. Atau dengan kata lain karya dan kisah apa yang telah mereka buat selama hidupnya.

Ada manusia yang dikenang abadi sebagai orang baik. Sebaliknya ada yang diingat sebagai orang jahat belaka.

Sebenarnya prasasti terkuat yang bisa mengingatkan seseorang kepada orang yang telah mendahuluinya bukanlah berupa candi dan bangunan lainnya belaka. Karena bangunan-bangunan itu hanyalah salah satu media pengingat yang jika kelak mengalami kehancuran maka cerita di dalamnya pun akan ikut terkubur.

Prasasti pengingat terkuat adalah apa yang tergores dalam hati dan otak manusia kepada mereka yang dikenangnya. Apa yang tergores tersebut, tidak lain adalah ilmu dan teladan yang baik yang mereka wariskan kepada orang-orang yang mengingatnya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah bersabda, “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR: Muslim).

Dr. H. Abdul Majid Khon dalam bukunya “Hadis Tarbawi Hadis-Hadis Pendidikan”, menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran tentang perlunya manusia mencari amal yang berkualitas, kekal dan bermanfaat baik selama di dunia maupun setelah meninggal dunia yang mana kualitas amal itu tidak terputus pahalanya meskipun dia telah meninggal dunia, selama amalnya masih dimanfaatkan oleh manusia. 

Beliau menjelaskan bahwa saat manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya. Karena tidak bisa bekerja, tidak bisa beramal, tidak bisa berkarya, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Jika pekerjaannya terputus konsekuensinya adalah upahnya juga terputus, dan honor (pahala) terputus. Kecuali anak adam itu memiliki tiga perkara yang tidak terputus baik pekerjaannya maupun upah atau pahalanya, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak yang saleh.

Kehidupan dunia yang merupakan kesementaraan memang tidak akan bisa diabadikan namun bagi orang beriman yang terdidik oleh kalamullah dan sunah Rasulullah ﷺ, kesementaraan itu bisa diambil manfaatnya dan diabadikan untuk kehidupan yang abadi kelak (akhirat) yakni dengan cara beramal sholeh.

Sebab dunia adalah ladang akhirat. Imam Ghazali Rahimahullah menyatakan di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin,

الدنيا مزرعة الآخرة فكل ما خلق في الدنيا فيمكن أن يتزود منه للآخرة.

(إحياء علوم الدين ٢٩٣/٦)

“Dunia adalah ladang akhirat. Maka setiap yang diciptakan Allah di dunia, bisa untuk dijadikan bekal menuju akhirat”

Dengan memandang bahwa dunia adalah ladang akhirat maka orang-orang beriman akan berlomba-lomba untuk beramal saleh dengan berbagai cara terutama yang bisa menjadi rekening mereka kelak selama berada di alam barzakh dimana jasad mereka terkubur namun pahala tetap lancar tertransfer kepada mereka dari dunia.

Nabi Ibrahim Alaihi Salam pernah berdoa dengan redaksi doa,

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83) وَاجْعَلْ لِي لِسانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (84) وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85)

Al-Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut berkata,

وَقَوْله : ” وَاجْعَلْ لِي لِسَان صِدْق فِي الْآخِرِينَ ” أَيْ وَاجْعَلْ لِي ذِكْرًا جَمِيلًا بَعْدِي أُذْكَرُ بِهِ وَيُقْتَدَى بِي فِي الْخَيْر

Maksud firman Allah ta’ala tentang doa Ibrahim ‘alaihissalam “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” Ialah : Jadikan bagiku penyebutan yang indah, yang aku diingat dengan kebaikan kemudian orang-orang mengikuti aku dalam kebaikan tersebut”. (Tafsir Ibnu Katsir : 1375).

Demikian pula Ikrimah berkata menerangkan maksud doa ini:

أنعم علي في الدنيا ببقاء الذكر الجميل بعدي ، وفي الآخرة بأن تجعلني من ورثة جنة النعيم .

“Anugerahkan kepadaku di dunia ini penyebutan yang baik setelah aku wafat, dan kelak di akhirat jadikanlah aku penghuni surga Naim.” (Tafsir Ibnu Katsir :1375).

Dan Allah SWT mengabulkan doa sang Khalilullah itu di dalam ayat Al Qur’an yang berbunyi,

عَلَيْهِ فِي الآَخِرِينَ * سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ * كَذَلِكَ نَجْزِي المُحْسِنِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ‘(Yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat:108–110).

Dari gambaran ini kita bisa mengambil pelajaran bagaimana cara ‘mengabadikan kesementaraan’ yang benar sesuai tuntunan Nabawi dan Qurani. Jika banyak manusia akhir zaman ‘mengabadikan kesementaraan’ dalam momentum kehidupan duniawi mereka dalam bentuk dokumentasi foto dan video untuk konten belaka maka Islam mengajarkan lebih jauh dari hal remeh temeh semacam itu.

Islam mengajarkan agar manusia membuat dunia yang sementara ini menjadi abadi nilainya kelak di akhirat dengan memperbanyak amal Soleh sesuai tuntunan hadis Nabi di atas dan memohon (berdoa) kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Alaihi Salam.

Karena tanpa berharap agar dikenang oleh manusia sekalipun jika Allah yang berkehendak untuk menjadikan orang tersebut sebagai buah tutur yang baik maka namanya akan abadi di hati dan sejarah manusia hingga habisnya kehidupan duniawi.

Inilah yang terjadi kepada para orang Soleh seperti para Ulama yang karena amal dan ilmunya (lewat karya kitab dan kader dakwah nya), para dermawan lewat shodaqoh dan wakaf nya dll. Karena Allah telah ridho kepada mereka maka seluruh semesta akan mengenang mereka secara abadi sebagai teladan yang baik.

Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai seseorang, maka Allah akan memanggil Jibril , ‘(wahai Jibril) Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, sehingga Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil seluruh penghuni langit seraya berseru, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, sehingga orang tersebut diterima oleh penduduk bumi.” (HR: Al-Bukhari).

Hadis inilah alasan mengapa banyak para ulama dan sholihin yang hingga kini tetap dikenang baik oleh manusia setelahnya. Bahkan makamnya masih terus diziarahi.

Ribuan orang mendengarkan kisah keteladanan mereka saat masih hidup. Juga karya-karya kitabnya tetap dibaca dan diamalkan oleh manusia yang datang setelahnya meski semasa hidupnya tidak pernah mengunggah berjuta foto dan video ke sosial media demi tujuan agar dikenal apatah lagi demi viral.

Maka untuk meneladani para salaf shaleh, sebaiknya mulai detik ini mari kita ubah mindset, daripada berlomba ‘mengabadikan (momen) kesementaraan’ lebih baik kita pergiat beramal shaleh untuk menjadikan dunia yang sementara ini sebagai ladang akhirat yang produktif bagi kehidupan abadi kelak. Wallahu a’lam bis showab.*

Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kesementaraanmengabadikan momen
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Menteri dan 50 Anggota Parlemen Inggris Tersandung Kasus Pelanggaran Seksual
Tulisan selanjutnya Ksatria Hospitalaria: Ordo Santo Yohanes di Perang Salib Pertama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya

Terbaru

  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?