Hidayatullah.com | KEHIDUPAN ini layaknya sebuah perlombaan. Di dalamnya selalu ada pemenang dan juga pecundang. Dalam persfektif al-Qur’an, pemenang dalam perlombaan ini bukanlah mereka yang melimpah hartanya, luas dan mewah rumahnya atau tinggi pangkat dan kedudukannya. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang dijauhkan dari neraka.
Dalam konteks ini, setiap Muslim tentu bercita-cita menjadi pemenang. Dan cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Karena semua amalan yang akan menjauhkan kita dari neraka tertuang secara sempurna dalam al-Qur’an ataupun Hadits Nabi yang shahih. Kita tinggal mengkajinya (bagi yang mampu) dan mengamalkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قالت عَائِشَة إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَة وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَة فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ
”Aisyah berkata, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada satu hari pun yang di hari itu Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka daripada hari ‘Arafah, pada hari itu Dia turun kemudian membangga-banggakan mereka di depan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan? (Riwayat Imam Muslim)
Makna Hadits
Setiap mengkaji sejarah Islam, kita pasti akan terhenti pada tanggal sembilan Dzulhijjah atau hari Arafah. Pada hari itu terekam beberapa peristiwa penting. Sebut saja misalnya, penyempurnaan agama Islam yang ditandai dengan turunnya ayat ketiga surat al-Maidah.
Orang Yahudi yang mengetahui hal itu bahkan sempat berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, jika saja ayat itu turun kepada kami maka pasti kami akan menjadikan hari turunnya ayat itu (hari arafah) sebagai hari raya.” (Shahih Bukhari No 6726 dan Shahih Muslim No. 5334)
Namun yang membuat momentum Arafah begitu penting dan istimewa bukan saja karena nilai historis yang ada di dalamnya. Hari Arafah ini terasa sangat penting, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan memerdekakan sebanyak mungkin hamba-Nya dari neraka pada hari itu.
Karenanya, Imam Nawawi berkata ketika mengomentari Hadits ini, “Hadits ini secara gamblang menunjukkan keutamaan hari Arafah.” Beliau juga menyatakan bahwa hari paling afdhol dalam setahun adalah hari Arafah. (Lihat syarah Shahih Muslim, bab fi fadhllil haj wal umrah wa yaumi arafah).
Allah Membanggakan Orang Berhaji
Bagi kaum Muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji, wukuf di Arafah merupakan momentum yang sangat dinanti. Bukan saja karena hari itu yang menjadi inti pelaksanaan haji. Namun berdasarkan Hadits di atas, pada hari itulah Allah akan mendekat dan membangga-banggakan orang yang sedang wukuf di hadapan para malaikat-Nya.
Kenapa Allah membanggakan mereka? Jawabannya ada dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Abdurrazzaq dalam musnad-nya,
”Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia lalu membanggakan mereka (yang sedang wukuf di arafah) kepada para malaikat seraya berfirman, ‘Mereka adalah hamba-Ku, mereka datang dalam keadaan kumal dan berdebu karena mengharap rahmatku dan takut azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku lalu bagaimana jika saja mereka melihat-Ku.”
Kalau Allah sudah membanggakan sekolompok orang, itu pertanda bahwa orang tersebut telah diampuni dosanya. Ibnu Abdil Bar berkata ketika mengomentari Hadits di atas, “Ini menunjukkan bahwa mereka itu diampuni, sebab Allah tidak membanggakan orang yang berbuat salah dan dosa kecuali jika mereka sudah bertaubat dan mendapat pengampunan.” (Attamhid, 1/120)
Spesial untuk yang Tidak Berhaji
Keistimewaan hari Arafah tentu bukan milik para jamaah haji saja. Segenap kaum Muslimin pada hakikatnya memiliki peluang untuk meraih keutamaan hari Arafah.
Bahkan ada Hadits Nabi yang ditujukan secara khusus kepada mereka yang tidak menjalankan ibadah haji. Rasulullah pernah ditanya tentang puasa Arafah dan beliau menjawab, “(Puasa arafah) menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (Riwayat Muslim)
Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarkafuri berkata ketika menjelaskan Hadits di atas, “Disunnahkan mempuasainya (hari Arafah) bagi yang tidak sedang berada di Arafah, adapun bagi yang sedang di Arafah maka dimakruhkan atau tidak disunnhakan berpuasa.” (Lihat Ithafulkiram, Shafiyurrahman al -Mubarakfuri, Hal. 199)
Mudahnya Menghapus Dosa
Membaca Hadits di atas kembali menyadarkan kita betapa pemurahnya Allah kepada umat ini. Allah mensyariatkan banyak amalan yang secara fisik sangat ringan namun manfaatnya sangat luar biasa. Ini adalah karunia dan nikmat yang jauh lebih berharga dan sangat kita butuhkan daripada nikmat duniawi yang setiap hari kita mengejarnya tanpa kenal lelah.*/Ahmad Rifa’I