Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Ramadhan, Cinta dan Jihad

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 April 2020 20:38 8:38 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 22 April 2020 20:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PUASA Ramadhan, bagaimanapun tidak bisa dilepaskan dengan semangat jihad. Hal ini tidak ada hubungannya dengan narasi belakangan yang mereduksi jihad sebagai semangat brutal dan destruktif. Jihad hubungannya dengan Ramadhan adalah cara terbaik untuk mendapat pertolongan dan kemenangan besar dalam hidup.

Secara historis hal ini dapat ditemukan dalam dua sejarah besar. Pertama, berupa kemenangan spektakuler umat Islam atas orang kafir Quraisy dalam Perang Badar. Kedua, momentum dimana dakwah Islam sampai pada titik paripurna yang ditandai dengan fathu Makkah.

Oleh karena itu wajar jika sebagian kaum Muslimin menghubungkan Ramadhan dengan semangat jihad, setidaknya dalam jihad menahan hawa nafsu, jihad membaca Al-Quran, serta jihad dalam makna yang lebih luas lagi dalam segenap sisi kehidupan. Guru dengan etos keilmuannya, pedagang dengan etos usaha dan sedekahnya, dan lain sebagainya.

Nilai Puasa

Puasa Ramadhan, kata Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin adalah seperempat keimanan. Puasa juga pintu ibadah. Al-Ghazali kemudian mengutip hadits Nabi, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap sesuatu mempunyai pintu. Dan, pintu ibadah adalah puasa.” (HR. Ibn Al-Mubarak).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Hal itu menunjukkan bahwa puasa Ramadhan merupakan amalan penting, maka tidak heran jika teladan dari Nabi dan para sahabat kala Ramadhan adalah jihad, kesungguhan, etos perjuangan, keuletan, kegigihan, dan semua syarat penting untuk mencapai kemenangan, keberhasilan, dan kesuksesan gilang-gemilang.

Jika disebutkan bahwa puasa adalah seperempat keimanan, maka menjalankan ibadah, amal sholeh, apalagi jihad di bulan Ramadhan maka benar-benar akan melipatgandakan kekuatan diri seorang mukmin dalam mencapai kebaikan-kebaikan. Jadi, terbukti bahwa berpuasa di bulan Ramadhan lantas bersungguh-sungguh dalam perkara iman, maka semakin berkualitas puasa seseorang bahkan sangat mungkin ia akan memperoleh kemenangan nyata dalam hidupnya.

Dalam buku Kehidupan dalam Pandangan Al-Quran, Dr. Ahzami Samiun Jazuli menuliskan, “Siapapun yang memiliki keimanan di hatinya, maka ia akan mendapati cahaya dalam hidupnya. Dengan cahaya ini, maka ia akan memahami hakikat kehidupan, hakikat manusia dan segala hakikat atas semua peristiwa yang terjadi di dunia ini.

Dengan cahaya ini pula, maka seseorang pun akan memahami segala sesuatunya dengan bijak; memahami segala sesuatunya sesuai dengan prinsip sebab-akibat yang sesuai dengan hukum dan ketentuan umum yang telah ditetapkan-Nya. Dengan cahaya itulah, maka seseorang pun akan mampu mengenali semua tanda-tanda kekuasaan-Nya di balik semua peristiwa yang terjadi.”

Dalam kata yang lain, puasa di bulan Ramadhan memiliki nilai strategis dan menentukan. Dan, kapan puasa itu benar-benar sampai pada puncak tertingginya adalah ketika seseorang yang menjalani puasa menjelma menjadi pribadi bertaqwa.

Dilakukan dengan Cinta

Sebagian orang memandang jihad itu dengan otot, cenderung sangar, dan penuh emosi. Sekali lagi tidak.

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam sebuah artikelnya menuliskan bahwa para ulama mengartikan jihad sebagai mencurahkan kemampuan, tenaga dan usaha untuk menyebarkan dan membela dakwah Islam serta mengalahkan (musuh). Bisa juga berarti menanggung kesulitan. Artinya, puasa Ramadhan 1441 H secara faktual memang membutuhkan jihad, karena umat Islam harus puasa dalam kondisi pandemi.

Dari makna ini dapat diambil kesimpulan bahwa jihad, lebih sering membutuhkan cinta daripada selainnya.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh ﷺ tentang hari kiamat.

Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasulullah ﷺ balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’

Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ.’

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasulullah ﷺ yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasulullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Cinta akan memudahkan seseorang untuk berjihad, karena cinta berarti seseorang akan senang melakukan apa yang diridhoi oleh yang dicintai. Seperti seorang anak akan senang membantu orangtuanya karena cinta kepada orangtuanya. Dan, anak itu tidak mau melakukan apa yang dibenci oleh orangtuanya. Semua dilakukan tentu saja dengan kesungguhan terbaik.

Jadi, jika jihad ini dipahami sebagai manivestasi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dalam 24 jam dihabiskan semua untuk ibadah, itu tidak akan membuatnya keberatan. Bahkan jika harus dilakuan sebulan penuh. Bahkan pada 10 hari terakhir Ramadhan, sesuai dengan kapasitas dan tugasnya dalam kehidupan ia akan jadikan sebagai momentum kian dekat, kian akrab dengan yang dicintainya.

Masalah cinta ini, diterangkan juga di dalam Al-Quran. وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

Menurut Ibn Katsir cinta itu hadir karena kesempurnaan pengetahuan mengenai diri-Nya, serta penegasan mereka kepada-Nya, mereka tidak menyekutukan-Nya dengan seuatu apapun. Sebaliknya mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bertawakal kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya dalam segala urusan mereka.”

Oleh karena itu, keberhasilan Ramadhan kita sangat ditentukan oleh iman, ilmu, dan mujahadah di dalam mengenal Allah Ta’ala, sehingga lahir sebuah cinta dalam diri kita untuk bersungguh-sungguh alias berjihad di dalam melakukan apapun yang diridhai, dicintai, dan menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Allahu a’lam.*/Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintaInfaqjihadRamadhanSedekah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya khutbah jumat ramadhan Muhammadiyah Gencarkan Program Ramadhan di Rumah
Tulisan selanjutnya Peluang Dakwah Ditengah Wabah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?