Oleh: Alwi Alatas
PADA tulisan sebelumnya sempat dibahas bahwa bangsa Arab pada masabi’tsah (munculnya kenabian) bukan satu-satunya yang mengalami kerusakan dan kejahiliyahan. Bangsa-bangsa lainnya di dunia juga mengalami hal yang sama. Kenabian akhir zaman muncul di Jazirah Arab, menurut penulis, bukan disebabkan oleh kejahiliyahan bangsa Arab pada masa itu, melainkan karena adanya beberapa keutamaan yang mereka miliki. Walaupun mereka ketika itu terjatuh dalam kejahiliyahan, tetapi mereka juga memiliki beberapa kelebihan yang memungkinkan mereka mendapatkan kemuliaan sebagai tempat munculnya Nubuwah.
Dalam tulisan ini akan dibahas setidaknya empat keutamaan yang dimiliki oleh bangsa Arab di Makkah-Madinah dan sekitarnya pada masa itu:
1. Mereka belum pernah dijajah bangsa asing.
Bangsa Arab di Hijaz (Makkah-Madinah dan sekitarnya) merupakan bangsa yang belum pernah dijajah oleh bangsa asing, baik bangsa Romawi, Persia, ataupun bangsa-bangsa lainnya. Hal ini menyebabkan mereka terhindar dari mentalitas negatif yang sering menimpa bangsa terjajah, seperti rendah diri (inferior) dan sikap mengekor bangsa lain yang dipandang lebih tinggi.
Hijaz merupakan negeri yang gersang dan relative miskin dari sumberdaya alam.Penduduknya hidup bersuku-suku dan sering berperang satu sama lain. Hal ini menyebabkan bangsa-bangsa besar di sekitarnya tidak merasa tertarik untuk menguasainya. Bangsa Arab di Syam (Suriah-Palestina) yang terletak di Utara Hijaz dikuasai oleh Romawi dan Persia secara bergantian.Wilayah itu termasuk subur dan dulunya memiliki peradaban besar seperti Sumeria, Babilonia, dan lainnya. Selain itu, al-Quds yang dimuliakan oleh orang-orang Kristen Romawi juga berada di wilayah ini. Syam juga terletak di perbatasan antara Asia dan Afrika, dan posisinya dengan Eropa tidak terlalu jauh.
Yaman yang terletak di Selatan Hijaz juga merupakan negeri yang subur dan strategis. Dahulunya wilayah ini memiliki peradaban penting. Pelabuhannya merupakan penghubung perdagangan di Samudera Hindia yang dapat membawa kapal-kapal hingga ke India dan Asia Tenggara, bahkan China. Wilayah ini juga sangat menarik bagi bangsa yang lebih kuat untuk menguasainya. Menjelang munculnya Kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, wilayah ini sempat dikuasai oleh Ethiopia (Habsyah), dan juga Persia.
Satu-satunya yang pernah berusaha untuk masuk dan menguasai Makkah dan sekitarnya hanya Abrahah, penguasa Habsyah di Yaman. Motivasinya pun bersifat keagamaan, bukan ekonomi, yaitu ingin menghancurkan Ka’bah sebagai pusat ritual tahunan agar orang-orang berdatangan ke gereja yang dibangunnya di Yaman.
Upaya Abrahah ini gagal dan Hijaz tak jadi dijajah bangsa asing. Menariknya, upaya Abrahah ini terjadi bertepatan dengan lahirnya Nabi Muhammad saw. Yang nan tinya muncul sebagai pembawa risalah dan peradaban baru.
2. Adanya Masjid tertua di muka bumi
Hijaz memang bukan negeri yang strategis dari segi ekonomi, politik, ataupun geografi. Namun, ia memiliki nilai penting dari sisi keagamaan, karena di wilayah itu ada masjid tertua yang pernah dibangun oleh para Nabi, yaitu Ka’bah. Walaupun ibadah haji yang disyariatkan pada masa Nabi Ibrahim dan Ismail as. Telah disimpangkan oleh masyarakat Arab pada masa itu dan Ka’bah banyak diisi dengan patung-patung berhala, tetapi ibadah tersebut masih tetap berjalan hingga kemasa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Orang-orang dari berbagai wilayah, termasuk Afrika, berdatangan ke Makkah setiap musim haji. Hal ini membuat kota ini memiliki nilai strategis secara keagamaan. Allah telah memerintahkan dihijrahkannya nenek moyang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, yaitu Hajar dan Ismail, ke lembah Makkah ketika tempat itu masih kosong dari manusia. Kota ini telah disiapkan sebagai tempat kemunculan risalah akhir zaman.
3. Kesusastraan yang tinggi
Bangsa Arab di Hijaz ketika itu tidak memiliki peradaban fisik yang tinggi sebagaimana yang dimiki oleh bangsa-bangsa besar di sekitarnya, seperti Romawi dan Persia. Mereka tidak memiliki bangunan-bangunan besar dan megah, atau barang-barang produksi yang hebat.Namun mereka memiliki satu bentuk kebudayaan yang sangat penting dan bernilai tinggi, yaitu bahasa Arab dan kesusasteraan. Bahasa dan kesusasteraan Arab justru mencapai puncaknya pada masyarakat Arab menjelang dan pada masa munculnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Orang-orang Arab ketika itu sangat suka bersyair dan nilai keindahan syair mereka sangat tinggi. Mereka mengabadikan kisah-kisah dan peperangan yang mereka lewati dengan syair-syair. Mereka memuji dan mencela dengan syair-syair. Mereka bersyair ketika merasa bahagia, ketika sedang marah, ketika sedih, dan dalam berbagai keadaan yang merekajalani. Kepekaan mereka yang tinggi terhadap keindahan bahasa memungkinkan mereka untuk lebih cepat tersentuh dengan keindahan wahyu al-Qur’an. Kemampuan dan penilaian yang tinggi terhadap bahasa juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan peradaban yang besar pada masa-masa setelahnya, karena peradaban dan kebudayaan berkembang bersama pengetahuan dan pengetahuan tersebar melalui bahasa.
4. Penghargaan terhadap kemuliaan diri
Bangsa Arab menjelang kenabian sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan diri. Hal ini berkaitan erat dengan keadaan mereka yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Mereka sangat menghargai kemuliaan diri dan tidak suka dihinakan, apalagi sampai menghinakan diri kepada orang atau bangsa lain. Kemiskinan tidak menyebabkan mereka rendah diri, sebagaimana kemuliaan juga tidak menjadikan mereka sombong.
Penghargaan terhadap kemuliaan ini juga yang menyebabkan mereka begitu mudah berperang antar kabilah. Mereka tidak rela jika ada saudara mereka yang diganggu dan direndahkan. Hal ini pula yang menyebabkan mereka berlomba-lomba dalam bersedekah, menyantuni anak yatim, menentang kezaliman, dan melayani jamaah haji, karena semua itu dipandang sebagai bentuk-bentuk kemuliaan. Ketika Ka’bah dibangun kembali dan Hajar Aswad hendak diletakkan di bangunan Ka’bah, beberapa suku bersikeras untuk menjadi pihak yang membawa dan meletakkan batuhitam itu di Ka’bah. Hal itu dilihat oleh mereka sebagai kemuliaan yang tinggi, dan mereka siap menumpahkan darah untuk mendapatkannya. Untunglah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang ketika itu belum diangkat jadi Nabi muncul dan member jalan keluar. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassalam merentangkan kainnya, meletakkan Hajar Aswad di tengah kain, dan meminta setiap kabilah membawa batu itu bersama-sama dengan memegangi kain tersebut. Pemuda agung itu mengajarkan kepada mereka bahwa kemuliaan bias didapatkan oleh semua orang secara bersama-sama, tanpa harus mengorbankan pihak lain.
Adanya kecintaan dan rasa kemuliaan yang tinggi ini menyebabkan mereka lebih siap untuk mengemban risalah serta membangun dan memimpin peradaban yang besar. Karena mereka tidak pernah menganggap dirinya inferior terhadap bangsa-bangsa lainnya, walaupun sebelum itu mereka tidak memiliki peradaban yang lebih tinggi.
Karena kemuliaan itu bukan terletak pada harta benda dan bangunan-bangunan yang megah, melainkan terletak di dalam jiwa manusia. Wallahua’lambis showab.*/Jakarta, 27 Muharram 1435/ 1 Desember 2013
Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia