Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ulama Nusantara dan Perang di Bulan Ramadhan [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Mei 2017 12:12 12:12 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Mei 2017 12:12
Bagikan
Pejuang Hizbullah
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh:  Muhammad Pizaro

 

Selain di Madura, gelora perlawanan melawan Agresi Militer Belanda I juga meletus di Aceh. Jelang bulan suci Ramadhan, ulama Aceh menggelar rapat umum di pekarangan Masjid Raya Baiturrahman. Dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, para ulama, menegaskan, puasa tidak boleh menghalangi seseorang untuk berjuang. Karena itu, sambil berpuasa berjuanglah, dan sambil berjuang berpuasalah! Demikian pesan para ulama yang memanfaatkan mimbar rapat umum tersebut untuk menyampaikan penerangan mengenai kewajiban berpuasa di tengah perjuangan kemerdekaan yang sedang memuncak.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Residen Aceh juga mengeluarkan seruan sama agar umat Islam di Aceh senantiasa siap-sedia menghadapi segala kemungkinan yang datang akibat keserakahan Belanda.

“Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan di mana saja,” demikian maklumat Residen Aceh dalam rapat umum yang ditutup lewat pembacaan do’a. Lihat: Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, Kronik revolusi Indonesia jilid III (1947), Jakarta: KPG, 1999]

Baca:  Kemerdekaan dalam Pandangan HAMKA

Kisah heroisme ulama Aceh melawan penjajah Belanda memang bukanlah barang baru. Pada 2 abad silam (dimulai 1873 M), Aceh pernah terlibat perang hebat melawan Belanda. Perang antar rakyat Aceh dengan Belanda terjadi setelah Traktat Sumatera (1871) ditandatangani, antara Belanda dan Inggris untuk mengganti Traktat London (1824) yang menghormati kedaulatan Aceh.

Namun apa dikata, Traktat yang baru justru memberikan peluang besar bagi Belanda untuk kembali menguasai Aceh sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1: Inggris menghapus perhatiannya atas perluasan Belanda dimanapun di Pulau Sumatera. [Lihat: Imran T. Abdullah, Ulama dan Hikayat Perang Sabil dalam Perang Belanda di Aceh, dalam Jurnal Humaniora UGM, Volume XII, No3/2000]

Guna memompa semangat juang masyarakat Aceh, para ulama menulis sajak-sajak yang dikenal sebagai Hikayat Perang Sabil (HPS). HPS adalah syair yang berisi anjuran untuk berkontribusi dalam perang melawan penjajahan Belanda yang disampaikan kepada masyarakat luas. Umumnya, HPS disampaikan di lingkungan Meunasah, Dayah, rumah, atau tempat persembunyian para pejuang.

Baca:  Ramadhan di Ayn Jalut

Kebanyakan HPS ditulis oleh ulama sebagai pemantapan dan perluasan dari khotbah-khotbah yang mereka sampaikan. Hal ini sengaja dilakukan untuk mempermudah masyarakat menghayati seruan ulama.

Tak sanggung-tanggung, Hikayat ini bahkan mengajak masyarakat untuk merenung apalah arti sholat dan puasa, jika tak turut melawan penjajah Belanda. Seruan ini kemudian dijawab oleh ribuan muslim Aceh yang turut berjihad mengusir penjajah Belanda. Berikut salah satu petikannya:

Waktu kafir menduduki negeri

Semua kita wajib berperang

Jangan diam bersunyi diri

Di dalam negeri bersenang-senang

Di waktu itu hukum fardhu ain

Harus yakin seperti sembahyang

Wajib kerjakan setiap waktu

Kalau tak begitu dosa hai abang

Tak sempurna sembahyang puasa

Jika tak mara ke medan perang

Fakir miskin, kecil dan besar

Tua, muda, pria dan wanita

Yang sanggup melawan kafir

Walaupun dia budaknya orang

Hukum fardhu ain di pundak kita

Meski tak sempat lunaskan hutang

Wajib harta disumbangkan

Kepada siapa yang mau berperang

[Lihat: Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987]

Dari sajak dan fakta-fakta di atas, kita dapat mengambil kesimpulan, para ulama Indonesia telah mengajarkan bahwa ibadah-ibadah mahdhoh haruslah berbanding lurus dengan semangat memperjuangkan agama Islam. Bulan puasa pun tidak menghalangi mereka untuk pergi berperang meski dalam kondisi lapar, sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan kaum muslimin saat perang Badar. Semoga sejarah emas ini kembali diingat pemerintah dan masyarakat pada umumnya atas pengorbanan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan.*

Wartawan dan penulis buku

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jihad fi sabilillahnusantaraperang kemerdekaantentara hizbullahulamaulama nusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jutaan Warga Yaman Kekurangan Makanan Selama Ramadhan
Tulisan selanjutnya Penetapan Habib Rizieq Tersangka Dinilai Indikasi Tirani, Pengacara Tempuh Praperadilan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia

Berita
11 Oktober 2026 20:48
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?