Sambungan artikel PERTAMA
oleh: Muhammad Cheng Ho
DUKUNGAN TKNM juga datang dari H. Misbach, seorang muballigh yang juga pimpinan majalah Medan Moeslimin. Ia menyebarkan pamflet yang mengecam ulah Martodarsono dan Djojodikoro, serta meminta diorganisirnya vergadering protes dan dibentuknya subkomite TNKM. Lebih dari itu, ia bersama pedagang batik muslim menyumbang paling banyak kepada TNKM dan juga mempercayakan kepemimpinan TKNM pada pegawai keagamaan, kiai, dan guru ngaji.
Permintaan H. Misbach dikabulkan. Vergadering lalu diselenggarakan di Sriwedari,Surakarta, dan dihadiri oleh lebih dari 20.000 umat Islam. Sumbangan kemudian dikumpulkan, dan pendirian subkomite TKNM diputuskan. Hisamzainijnie terpilih sebagai ketua, Poerwodihardjo menjadi sekretaris, dan orang Arab, Kiai, serta pegawai keagamaan kesunanan menjadi bendahara, komisaris dan penasihat.
Mencaci Ibadah Haji
Masih di masa kolonial Belanda.Dan masih kembali terjadi penistaan agama lewat media massa. Sekitar bulan Desember tahun 1930, seperti diceritakan Ajip Rosidi, surat kabar Soeara Oemoem yang diterbitkan oleh Studieclub Indonesia dan dipimpin oleh Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang merendahkan ibadah haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya “menyembah berhala Arab”, serta menganjurkan orang Islam untuk pergi keDemak saja daripada ke Makkah. [dalam Ajip Rosidi, M.Natsir Sebuah Biografi, Girimukti Pasaka:Jakarta, 1990, hlm. 116]
Maka gegerlah umat Islam. Ormas Islam yang bergerak di bidang politik, sosial, dan keagamaan lalu mengadakan rapat-rapat umum yang menyerang penulis, Dr. Soetomo, dan Studieclub Indonesia. Di berbagai kota dibentuklah panitia-panitia untuk membentuk opini publik dalam menghadapi serangan orang-orang “kebangsaan”.
Setelah melihat reaksi umat Islam, Dr. Soetomo berusaha berdandan dengan mengatakan kepada pers bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. Pernyataan itu oleh Tokoh Persis, M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘sahadat model baru’.
Kehebohan Soeara Oemom habis terbenam, terbitlah tulisan nista lainnya yang dikarang oleh seorang berinisial Tj. W. di surat kabar Soeara Indonesia. Dalam tulisan itu, ia menghina rukun dan perintah agama Islam. Salah satu rukun Islam yang dihina, masih sama dengan yang sebelumnya, yaitu ibadah haji.Tulisan itu lalu dikritisi oleh M. Natsir dengan tulisannya di Majalah Pembela Islam.
“Tuan Tj. W. yang katanya mementingkan ‘Ichonomie’ amat pandai menghitung ‘beberapa kerugian’ Indonesia karena ada orang naik haji tiap-tiap tahun, tidak pernah berlaku jujur dan mempertimbangkan keluar uang itu dengan kemanfaatan yang diterima oleh orang Indonesia, dalam penghidupan politik dan ekonomi, yang nyata-nyata kelihatan tiap-tiap hari.
Apakah ini karena kebenciannya kepada Islam? Tuan Tj. W. c.s. yang amat pandai dan rajin menghitung dengan jarinya ‘kekayaan Indonesia’ yang katanya ‘hanyut’ ke tanah Arab itu, tapi tak pernah mau menghitung berapa kekayaan Indonesia yang hanyut ke tanah Eropa karena pemuda-pemuda Indonesia yang pergi ke sana beberapa tahun supaya sesudah kembalinya jadi buruh pemerintah atau kapital asing.”
Dua tulisan yang merendahkan haji ituseperti mendukung kebijakan haji pada masa Hindia Belanda. Sebab pada masa itu, Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan bermacam-macam aturan yang membatasi dan menghambat pelaksanaan ibadah haji. Alasannya karena pemerintah Belanda trauma dengan perlawanan ummat Islam di Hindia-Belanda banyak digerakkan oleh para haji dan ulama. [Hanibal Wijayanta, Kebijakan Haji di Hindia Belanda, http://jejakislam.net/?p=227, diakses pada 15 September 2015]
Teror PKI di Orde Sang Proklamator
Meski mendapat kecaman yang keras, namun penistaan agama masih saja berlanjut di masa orde lama. Sejak pemilu 1955, posisi Partai Komunis Indonesia (PKI) Surabaya semakin menguat, terlebih didukung aparat tentara. Dengan kekuatan itu, maka pada tahun 1962 segerombolan Pemuda Rakyat didukung kawanan Gerwani yang garang, menyerbu Masjid Agung Kembangkuning Surabaya.
Mereka lalu menginjak-injak tempat suci itu sambil bernyanyi Genjer-genjer dan menari-nari. Lebih dari itu, mereka juga menginjak-injak dan membakar Al-Qur’anserta kitab-kitab lainnya.Mereka juga bermaksud mengubah masjid tersebut menjadi markas Gerwani. Terjadilah benturan antara warga Nahdiyyin dan pendukung PKI. Pasukan NU berhasil menang dan akhirnya PKI diseret ke pengadilan. [H.Abdul Mun’im DZ, Benturan NU PKI 1948-1965, Depok:Langgar Swadaya Nusantara, 2014, hlm.96]
Dasar PKI, tak kapok-kapok juga, setahun kemudian, PKI kembali berulah.Pada tahun 1962, mereka menghina Islam dengan pementasan reog, ludruk, dan ketoprak dengan lakon matinya Tuhan. Akibatnya, perkelahian antara NU dan mereka pun tak terhindarkan. */Penulis Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) Bersambung Hinaan Kasar untuk Nabi Muhammad