Hidayatullah.com | Perjuangan dimulai. Kita perjuangkan negara, kita letuskan revolusi pada 17 Agustus 1945. Tetapi perjuangan kemerdekaan bukan dimulai pada 17 Agustus 1945 itu.
Perjuangan mengadu tenaga politik dengan politik, antara rakyat Indonesia dengan pemerintah kolonial Belanda sudah berumur lebih dari 9 tahun itu. Di dalam rangkaian politik, perjuangan itu telah dimulai semenjak tahun 1905, dengan berdirinya Serikat Dagang Islam oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawannya. Serikat Dagang Islam diiringi oleh “Budi Oetomo” (1908). Pada tahun 1912 berdirilah Partai Serikat Islam, sebagai satu organisasi massa yang pertama kali. Itulah saatnya kita mulai mengadu tenaga politik dengan penjajah dengan mengumpulkan tenaga politik dari rakyat umum.
Adapun perjuangan memerdekakan Indonesia, atau sekurang-kurangnya mempertahankan diri dari penjajahan, sebenarnya sudah lebih dahulu dari pada itu.
Panggilan “Allahu Akbar”
Kita mendengar panggilan dan seruan di radio untuk mengerahkan tenaga yang terpendam itu. Berjuta-juta bangsa kita, laki-laki dan wanita, tua muda, masih ingat, seruan Bung Tomo dari Radio Surabaya. Ia memanggil para alim ulama, para kyai, di seluruh Indonesia dengan panggilan “Allahu Akbar”. Kita menghargai tinggi, karena ada seorang pemuda pahlawan sebagai Bung Tomo itu. Ia bukan saja berani tampil ke muka memimpin perjuangan, tetapi ia juga mempunyai suatu pengetahuan dimana terletaknya kunci dari pada kekuatan bangsa kita ini. Dibukanya kunci hati umat yang banyak itu dengan perkataan “Allahu Akbar”. Tahu dia mencari teman! Tahu pula dia siapa-siapa teman yang dapat membangunkan tenaga dan menggelorakan tenaga itu. Dicarinya teman itu di antara para penuntun rohani, yang tidak pernah kelihatan namanya di surat-surat kabar dan tidak pula pernah tercantum dalam daftar pemimpin partai-partai politik. Dicarinya penuntun-penuntun ruhani yang bernama ulama dan kyai di desa-desa. Dipanggilnya dan diserunya : “Mari kita sama-sama membuka kunci hati umat dengan kalimah “Allahu Akbar”. Dengan demikian bergelora dan membanjirlah segala tenaga yang dikehendaki, begitu pula alat-alat materi yang diperlukan.
Para pemuda, karena adanya seruan yang membuka kunci hatinya itu, tidak ragu-ragu menjadikan dirinya jadi pagar kampung halamannya dan peluru-peluru musuh. Banyak di antara mereka yang telah gugur sebagai pahlawan, ksatria, dan syuhada. Kaum wanita pun tidak hendak ketinggalan, bahkan sampai-sampai kepada yang tua-tua pun tidak sabar duduk di rumah. Untuk itu mereka bukan mendapat gaji dan upahan dan bukan pula di perintah-perintah. Mereka diperintah hanya oleh hatinya sendiri, yang sudah dibuka dengan seruan “Allahu Akbar” itu.
Tugas besar
Kita menghadapi satu pekerjaan dan tugas besar dalam riwayat bangsa kita. Bangsa kita sedang menulis sejarahnya dalam lingkungan sejarah dunia.
Pertanyaan tadi harus kita jawab bersama-sama. Mengisi kemerdekaan, bagi kita adalah satu tindakan di dalam rangkaian bersyukur dan berterima kasih. Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah mengaruniai kita hasil yang begitu hebat berupa Indonesia Merdeka dalam masa yang begitu pendek, yakni 5 tahun saja. Republik Indonesia yang sudah kita punyai ini, kita yakni bahwa ia adalah kurnia Tuhan yang harus kita syukuri.
Bersyukur nikmat
Banyak yang kurang dalam Republik kita ini. Banyak cacat-cacatnya. Banyak yang kita tidak puas melihatnya.
Akan tetapi dengan segala cacat yang melekat pada Republik ini, kita harus terima Republik ini dengan rasa syukur nikmat. Bagi umat Islam mensyukuri nikmat itu, adalah suatu kewajiban.
Tetapi harus diinsafi bahwa bersyukur atas nikmat itu, bukanlah semata-mata bergembira ria dengan melepaskan segala insting-insting untuk mencapai sebanyak-banyak kesenangan dan kemewahan. Bersyukur nikmat artinya, ialah menerima dengan insaf akan apa yang ada, dengan segala kandungannya berupa kelemahan dan kekuatan yang terpendam di dalamnya.
Diterima dengan niat untuk memperbaiki. Memperbaiki apa yang belum baik, memperkuat mana yang belum kuat serta menyempurnakan mana yang belum sempurna. Itulah artinya bersyukur nikmat.
Dan bukanlah bersyukur nikmat namanya, bila setelah melihat barang yang ada di tangan itu banyak cacat-cacatnya, lalu dilempar atau dibumi hanguskan kembali.
Orang yang kesal hatinya dan sesudah mendapat masih merasa kehilangan, bukanlah orang yang bersyukur nikmat. Satu-satunya ajaran dan petunjuk yang kita pegang adalah firman Ilahi, yang maksudnya : “Kalau kamu pandai bersyukur nikmat, Aku akan perlipat gandakan apa-apa yang telah engkau terima itu, akan tetapi kalau kamu bersikap kufur nikmat, tidak pandai menghargai dan menilai, menghabiskan waktu dengan menggerutu, akan melemparkan segalanya itu karena tidak cukup, ketahuilah bahwa sesungguhnya azabKu adalah azab yang pedih.” (Al Qur’an, Surat Ibrahim : 7)
Fanatik
Beliau (Rasulullah ﷺ) membawa satu ajaran untuk memberantas apa yang dinamakan ta’assub atau yang sering kali disebut orang dengan istilah “fanatik” meskipun tidak begitu tetap perkataan fanatik untuk pengganti ta’assub itu. Tetapi pakailah perkataan fanatik itu, yaitu fanatik di dalam segala lapangan.
Fanatik di dalam paham, fanatik di dalam membela kaum dan bangsa. Tentang ini barangkali baik saya kemukakan satu hal, karena sering kali orang menyangka, bahwa Islam bertentangan dengan adanya bangsa-bangsa.
Tegasnya, katanya, Islam memungkiri adanya bangsa, seolah-olah orang yang memeluk Islam itu tidak ada bangsanya lagi. Yang demikian adalah tidak betul! Kita dapat menjadi seorang muslim yang taat, yang dengan riang gembira pula menyanyikan Indonesia Tanah Airku! Bagaimana kita akan menghilangkan ke Indonesiaan kita, karena Tuhanlah yang menjadikan kita berbangsa-bangsa seperti yang tampak di muka bumi sekarang ini.
Kita harus dapat berbahagia dan bergembira memperlihatkan kepada dunia luar, inilah kami bangsa Indonesia, bahasa kami demikian, kebudayaan kami demikian, tulisan batik-batik kami demikian, ukiran kami demikian, musik kami demikian, dan sebagainya.*/Capita Selecta dari NatsirCorner