Oleh: Ahmad Rohim
Hidayatullah.com – Peradaban manusia sedang memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan, digitalisasi, dan ledakan informasi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dunia bergerak begitu cepat. Namun di tengah kecepatan itu, muncul pertanyaan mendasar: ke mana arah peradaban ini akan dibawa?
Teknologi mampu menunjukkan jalan tercepat menuju suatu tempat, tetapi tidak mampu menjawab apakah tujuan yang dituju itu benar atau salah. Kecerdasan buatan dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menggantikan hikmah yang lahir dari iman dan ketakwaan. Di sinilah manusia membutuhkan kompas peradaban.
Bagi umat Islam, kompas itu adalah Al-Qur’an, yang dipahami dan dijelaskan oleh para ulama, lalu diwariskan secara sistematis melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk ibadah ritual, melainkan petunjuk kehidupan yang mengarahkan manusia menuju jalan yang benar dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika dunia mengalami kebingungan moral, Al-Qur’an hadir sebagai sumber orientasi yang tidak berubah oleh zaman.
Sejarah membuktikan bahwa kemajuan peradaban Islam tidak lahir semata karena kekuatan ekonomi atau militer, melainkan karena kuatnya hubungan umat dengan sumber petunjuk wahyu. Generasi sahabat berhasil mengubah wajah dunia karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan berpikir, bertindak, dan membangun masyarakat.
Namun Al-Qur’an tidak dapat dipahami secara benar tanpa bimbingan ulama. Dalam tradisi Islam, ulama adalah penerima warisan para nabi. Mereka berperan menjelaskan ajaran agama, meluruskan pemahaman yang keliru, dan menjaga umat dari penyimpangan.
Di era digital, siapa pun dapat berbicara tentang agama melalui media sosial. Informasi keagamaan beredar tanpa batas. Sayangnya, tidak semua yang viral adalah benar, dan tidak semua yang populer memiliki dasar ilmu yang kuat. Muncul fenomena “ustaz algoritma”, yakni tokoh yang lebih dikenal karena popularitas digital daripada kedalaman ilmu.
Karena itu, keberadaan ulama yang berilmu, berakhlak, dan memiliki sanad keilmuan yang jelas menjadi semakin penting. Ulama berfungsi sebagai penjaga arah agar umat tidak tersesat dalam lautan informasi yang tak terbatas.
Selain Al-Qur’an dan ulama, lembaga pendidikan Islam memegang peranan strategis dalam menjaga kesinambungan peradaban. Pesantren, madrasah, sekolah Islam, perguruan tinggi Islam, serta berbagai majelis ilmu merupakan benteng yang melahirkan generasi penerus umat.
Lembaga pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan keterampilan hidup, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kesadaran ketuhanan. Di tengah arus materialisme yang semakin kuat, pendidikan Islam mengingatkan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT.
Krisis terbesar yang dihadapi dunia modern sesungguhnya bukanlah krisis teknologi, melainkan krisis makna. Banyak manusia memiliki akses terhadap berbagai kemudahan, tetapi kehilangan arah hidup. Banyak yang kaya informasi, tetapi miskin kebijaksanaan. Banyak yang terhubung secara digital, tetapi merasa hampa secara spiritual.
Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an memberikan makna, ulama memberikan penjelasan, dan lembaga pendidikan Islam menyiapkan generasi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan nyata.
Masa depan umat tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih semata, tetapi oleh siapa yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan petunjuk wahyu. Teknologi tanpa moral dapat melahirkan kerusakan, sementara moral yang kuat mampu mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan.
Oleh sebab itu, menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, menghormati ulama, dan memperkuat lembaga pendidikan Islam bukan sekadar tugas keagamaan, melainkan investasi peradaban. Ketiganya adalah kompas yang menjaga umat tetap berada di jalur yang benar ketika dunia terus berubah.
Ketika banyak penunjuk arah bermunculan dan saling bersaing memengaruhi manusia, umat Islam harus memastikan bahwa kompas (tujuan) utamanya tetap sama: wahyu Allah, bimbingan ulama, dan pendidikan yang menanamkan iman serta ilmu. Dengan itulah peradaban dapat berjalan maju tanpa kehilangan ruhnya, berkembang tanpa kehilangan nilai-nilainya, dan hidup modern tanpa tercerabut dari petunjuk Tuhan. Wallahu a’lam.*




