Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisa Dunia Islam

“Permainan Cantik” dan Kejutan Libya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Juli 2012 21:57
Bagikan
umumnya publik Arab yang menilai Mesir sebagai pemimpin perubahan di Arab.
Bagikan

Oleh: Musthafa Luthfi

SELAIN pembantaian biadab yang terus berlanjut di Suriah, perkembangan menarik terkait dengan “musim semi Arab“ yang masih menggelinding, dalam sepekan atau dua pekan belakangan ini adalah “jidaal dustuuri“ (polemik  konstitusi) di Mesir dan hasil Pemilu di Libya. Perkembangan di kedua negara Arab di utara benoa Afrika itu cukup melegakan hati publik Arab, setelah sempat menimbulkan rasa was-was.

Terkait dengan polemik konstitusi di Mesir, sempat mencuat kembali dibarengi kekhawatiran akan terjadinya benturan antara militer dengan Presiden menyusul dikeluarkannya dekrit oleh Presiden  terpilih Mohammad Mursy Ahad (08/07/2012),  yang menolak keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membubarkan parlemen yang didominasi kubu al- Ikhawanul al-Muslimun (IM) dan Salafy. Presiden Mursy telah menggunakan hak preogatifnya dengan mengeluarkan keputusan membatalkan keputusan MK pada 14 Juni lalu untuk membubarkan parlemen yang sekitar 75 % anggotanya dari kubu IM dan Salafy.

Sebenarnya isu ini sudah mulai mencuat sebelum Pilpres putaran kedua berlangsung, namun tidak begitu mendapat perhatian besar dikarenakan rakyat dan para tokoh negeri Lembah Nil itu sedang disibukkan dengan Pilpres yang berlangsung seru. Dengan perbedaan tipis, Mursy yang menjadi tumpuan kubu revolusi akhirnya dinyatakan menang sehingga setidaknya dapat “mengobati“ kekecewaan kubu revolusi atas keputusan MK yang membubarkan parlemen dan mengembalikan kekuasaan legislatif ke junta militer.

Namun sekitar sepekan setelah dilantik, Presiden Mursy selain ingin berusaha melepas satu demi satu “belenggu“ yang mengerdilkan kekuasaannya akibat putusan MK itu, juga berusaha mengakomodasi tuntutan kubu revolusi yang menolak putusan MK mengenai pembubaran parlemen dan pengumuman perampungan konstitusi, dengan cara mengeluarkan dekrit. Di lain pihak, Mursy juga tidak ingin dikatakan menentang keputusan lembaga yudikatif yang independen sehingga mencantumkannya juga dalam dekritnya agar pemilu baru dilaksanakan setelah 60 hari dari sidang perdana parlemen yang sedianya pada Selasa (10/07/2012).

Baca Juga

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?
Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan
Amerika Serikat dan Proyek Genosida di Gaza
Kebijakan Politik Iran dan Dilema Amerika
Muslim Tajikistan: Ditekan Penguasa, Diincar ISIS

“Jadi pada perinsipnya Presiden justeru melaksanakan keputusan MK karena meminta parlemen bersidang kembali dan pelaksanaan pemilu baru setelah 60 hari. Bukan sekedar menolak pembubaran secara mutlak,“ papar sejumlah tokoh Mesir pendukung keputusan Mursy. Sementara yang menolak dekrit menilainya sebagai preseden atas sikap yang tidak menghormati keputusan hukum pada saat semua pihak menginginkan terlaksananya supremasi hukum pasca kejatuhan rezim Mubarak.

Terlepas dari polemik tersebut sebenarnya yang sangat dikhawatirkan adalah benturan yang mungkin terjadi antara Presiden dan pendukungnya dengan militer akibat dekrit itu mengingat  hubungan antara presiden dan militer yang kurang mesra, bahkan banyak kalangan menyebutnya hubungan yang mengandung “bom waktu“ yang setiap saat bisa meledak yang dapat menggugurkan revolusi rakyat di negeri itu.

Memang terbukti pimpinan militer  menegaskan keputusannya untuk membekukan parlemen harus tetap dilaksanakan sehingga dianggap sebagai sinyal bahwa militer tidak akan tunduk begitu saja kepada Presiden Mursy, sekaligus untuk kesekian kalinya, siap membuka front antara rakyat dengan militer. Sikap militer tersebut mendapat reaksi keras dari rakyat, terutama pendukung utama Mursy menyebabkan puluhan ribu warga kembali berkumpul di lapangan Tahrir menentang penegasan militer tersebut.

Al- Ikhwanul al-Muslimun, organisasi paling berpengaruh di Mesir di lain pihak menyatakan siap mengerahkan jutaan massa untuk kembali turun ke jalan melawan kekuasaan militer. Selama ini, militer berdalih membekukan parlemen untuk menegakkan undang-undang sebab parlemen saat ini yang terbentuk dari hasil pemilu tahun lalu tidak sah dan melanggar undang-undang sehingga, militer layak mengambil alih untuk sementara waktu.

Pemandangan yang mendebarkan tersebut sempat mengundang kekhawatiran besar mayoritas rakyat negeri Piramida itu bahkan umumnya publik Arab yang menilai Mesir sebagai pemimpin perubahan di Arab. Namun kekhawatiran negeri terbesar Arab itu akan mengalami pergolakan berdarah akibat polemik konstitusi itu akhirnya tidak terbukti setelah Presiden Mursy dengan sikap “legowo“ menerima keputusan MK, Rabu lalu ( 11/07/2012).

Sebenarnya Presiden Mursy memiliki sedikitnya dua “kartu“ menghadapi militer, ungkap sejumlah pengamat yakni pertama merangkul semua kekuatan revolusi dan kedua rakyat Mesir yang sudah tidak menerima lagi peran militer dalam politik negara. Namun Presiden lebih memilih “tahdiah“ (cooling down) yang dianggap banyak pihak sebagai “permainan cantik“ sang Presiden untuk mendapatkan simpati banyak pihak atau dengan kata lain “mengalah untuk menang“.

Sikap legowo tersebut justeru akan meningkatkan citra sang Presiden menghadapi upaya militer yang terkesan masih sulit memutuskan untuk kembali ke barak mereka. “Penting untuk ditegaskan bahwa Mesir telah memasuki jalan baru yang tidak akan kembali ke belakang lagi. Proses (reformasi) setelah suasana polemik yang mendebarkan itu cukup menenangkan dan lebih menenangkan lagi bahwa Mesir telah kembali kepada jati dirinya untuk berperan lagi di tingkat regional dan internasional,“ papar sejumlah analis.

Pemilu Libya

Sedangkan perkembangan di Libya yang sempat menimbulkan rasa was-was menjelang Pemilu tentang kemungkinan terjadinya bentrokan bersenjata disebabkan sebagian wilayah ingin pisah dan sebagian lainnya menginginkan bentuk negara federasi, juga berakhir melegakan. Pemilu jurdil pertama sejak sekitar setengah abad terakhir ini pasca 42 tahun kekuasaan tangan besi rezim Qadhafi akhirnya berjalan lancar.

Pada Sabtu (07/07/2012) lalu, sekitar 1,8 juta penduduk negeri kaya minyak di Afrika itu ikut serta dalam Pemilu multipartai pertama setelah sekitar setengah abad berada dalam tekanan rezim yang melarang keberadaan multipartai dan selalu menutup rapat ruang gerak para aktivis Islam. Jumlah tersebut sekitar 70 persen dari total pemilih yang terdaftar untuk Pemilu dalam suasana tenang meskipun kondisi keamanan belum kondusif dengan banyaknya senjata api yang menyebar di tangan warga sipil.

Pemilu yang berjalan tenang dan lancar tersebut tidak seperti dugaan banyak pihak sebelumnya yang menilai pelaksanaan Pemilu  itu terlalu cepat dalam kondisi keamanan yang tidak kondusif yang dikhawatirkan dapat menimbulkan bentrokan bersenjata besar. Tapi secara mengejutkan rakyat Libya telah membuktikan kepada masyarakat internasional bahwa mereka memang sudah siap membuka lembaran baru pasca krisis yang memporakporandakan negeri itu.

Memang keberhasilan Pemilu itu tidak bisa dijadikan indikasi satu-satunya bahwa negeri asal pejuang Omar Mukhtar itu sudah benar-benar aman mengingat jalan menuju stabilitas masih cukup panjang dan berliku. Namun, sedikitnya, proses pelaksanaan Pemilu yang berjalan aman tersebut membersitkan harapan bahwa negeri itu berada pada jalur yang tepat menuju pemulihan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang mungkin dianggap lebih mengejutkan dari Pemilu tersebut adalah keberhasilan kubu liberal meraih suara terbanyak mengalahkan kubu Islamis yang sejauh ini kemenangan kubu Islamis mewarnai perubahan di negara-negara “Arab Spring“ yang telah melangsungkan Pemilu seperti di Mesir dan Tunisia. Aliansi Kekuatan Nasional (NFA) yang merupakan gabungan 60 partai kecil non idiologi pimpinan mantan PM pada masa rezim Qadhafi, Mahmoud Jibril yang membangkang mengungguli kubu Islamis.

Prediksi sebelumnya, kubu Islamis bakal unggul mutlak pada Pemilu Libya ternyata tidak terbukti. Karenanya hasil mengejutkan tersebut membuat sebagian analis menyebutkan bahwa hasil Pemilu Libya sebagai awal penyusutan gelombang Islam di negara-negara “Arab Spring“ menyusul adanya kekhawatiran kemenangan demi kemenangan kubu Islamis dapat memunculkan negara agama.

Analisa semacam ini sah-sah saja dalam suasana keterbukaan yang sudah mulai merambah di banyak negara Arab. Namun untuk kasus Libya mungkin perlu dikaji lagi sebab utama, kubu Islamis tidak mampu menyamai keunggulan yang diperoleh saudara-saudaranya di Tunisia dan Mesir.

Hanya yang mungkin perlu dicatat bahwa kemenangan kubu liberal tidak secara otomatis akan menjadikan negeri itu negara liberal sebab umumnya negara-negara Arab masih tetap menjunjung syariah Islam sebagai sumber dari segala sumber hukum. Yang beda, adalah bila kubu Islamis yang menang, upaya negara (pemerintah) dalam penerapan syariah Islam yang dianut mayoritas bangsa Arab akan lebih diperhatikan.

Lima faktor

Kemenangan kubu liberal pimpinan Jibril lebih disebabkan oleh sedikitnya lima faktor. Pertama, mayoritas rakyat Libya adalah menganut aliran sufi yang belum sampai dalam benak mereka apa yang diistilahkan oleh kalangan Barat sebagai Islam politik. Islam politik baru dikenal di kalangan terbatas saja terutama di wilayah timur negeri tersebut.

Adapun faktor kedua adalah warisan bekas rezim Qadhafi yang masih membekas di benak banyak warga Libya. Selama lebih empat dekade masa kekuasaannya, Qadhafi menganggap para tokoh dan aktivis Islam sebagai musuh utama sehingga mereka diperangi Qadhafi dengan kejam disamping oposisi lain tentunya.

Sementara faktor ketiga adalah, gerakan-gerakan Islam yang telah mempersembahkan banyak korban jiwa saat berusaha menjatuhkan rezim Qadhafi secara politis kurang terorganisir sebagaimana halnya IM di Mesir. Gerakan IM Libya baru muncul sebagai kekuatan politik hanya beberapa bulan saja sebelum pelaksanaan Pemilu.

Sedangkan faktor keempat kemenangan kubu liberal diantaranya dikarenakan kubu ini lebih terorganisir dan lebih pengalaman sehingga mereka berhasil memanfaatkan kampanye pemilu dengan cerdik dan menarik berlandaskan sistem kampanye yang digunakan di Barat. Karena sebagian besar tokoh dari kubu ini alumni dari AS seperti pemimpin mereka, Mahmoud Jibril.

Faktor kelima yang tidak kalah pentingnya adalah propaganda media massa terutama media Barat yang terus menerus menyebarkan rasa khawatir terhadap gerakan Islam di kalangan penduduk Libya dan Arab pada umumnya. Propaganda tersebut cukup ampuh menggerakkan banyak warga negeri itu untuk memilih kubu liberal.

Libya dengan penduduk sedikit seharusnya rakyatnya sejak lama hidup sejahtera, mengingat negara ini tergolong kaya dengan penghasilan dari minyak sedikitnya 60 milyar dolar per tahun, namun mungkin termasuk salah satu rakyat Arab yang paling lama menderita dibawah kekuasaan otoriter rezim lama. Tuntutan mereka pun sederhana yakni tercukupkannya kebutuhan pokok mereka, pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai.

Karenanya, meskipun hasil Pemilu tersebut diluar prediksi, setidaknya tetap diharapkan sebagai pembuka jalan menuju pemulihan dan perubahan yang lebih baik. Berbagai kendala yang masih menghantui seperti kepemilikan senjata api oleh sipil dan kemungkinan terjadinya benturan antara kubu liberal sebagai pemenang dan kubu Islamis yang kalah dapat diatasi dengan bijaksana apalagi hasil akhir Pemilu tersebut diumumkan menjelang bulan suci Ramadhan, bulan untuk memantapkan kasih sayang.*/ Sana`a, 25 Sya`ban 1433 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yogyakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Umar Sulaiman Wafat Karena Penyakit Langka
Tulisan selanjutnya Stasiun TV Mesir Tampilkan Penyiar Bercadar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Analisa Dunia Islam

Al-Sisi dan Lelucon Kontra-Terorisme di Mesir

22 Mei 2022 10:55
Analisa Dunia Islam

Yahya Sinwar

4 Juni 2021 09:05
Analisa Dunia Islam

Pencaplokan De facto Tepi Barat dan Definisi Nyeleneh ‘Israel’

10 Juli 2020 16:28
Analisa Dunia Islam

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

25 Juni 2020 16:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?