Oleh Musthafa Luthfi*hidayatullah.com–Tidak ada yang berubah dari Ramadhan tahun ini dengan tahun sebelumnya bagi kalangan kaum Muslimin di dunia Arab, dan bahkan mungkin di tanah air. Bulan suci ini disambut meriah dengan tradisi baru yang tidak dikenal sebelumnya oleh para salaf saleh ataupun kaum Muslimin, sebelum masa internet dan saluran TV satelit.
Tradisi menyambut bulan puasa, khususnya di dunia Arab, telah berubah terutama sejak maraknya stasiun-stasiun TV satelit dalam rentang waktu dua dekade belakangan ini yang lebih menonjolkan hiburan-hiburan di layar kaca untuk menunggu waktu sahur.
Tradisi lainnya yang hampir menyeluruh di seluruh dunia Islam adalah meningkatnya kebiasaan komsumtifisme yang terkesan berlebihan. Stasiun-stasiun TV satelit menjadi sarana iklan besar-besaran bagi produk makanan menjelang bulan Ramadhan tiba.
Karena itu, biasanya sebelum Ramadhan tiba, bau puasa demikian terasa di negara-negara Arab dengan maraknya iklan-iklan sinetron terbaru dan menarik yang siap ditayangkan, terutama di malam Ramadhan hingga menjelang sahur agar mata siap melek sepanjang malam sehingga seolah-olah waktu ditukar, malam menjadi siang dan siang menjadi malam (karena harus tidur pulas hingga siang hari).
Demikianlah, tradisi yang makin sulit untuk dihilangkan, bahkan cenderung makin “meriah” yang menyebabkan tujuan puasa la’allakum tattaquun (menjadi hamba-hamba yang bertakwa) makin sulit tercapai. Puasa akhirnya tak lebih sebatas menahan lapar dan dahaga, seperti anak sekolah yang sedang belajar berpuasa.
Pada awal Ramadhan tahun ini kebetulan bertepatan dengan peringatan 40 tahun pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh ektremis Yahudi. Suasana gebyar penyambutan puasa yang tak sejalan dengan tradisi yang telah disunnahkan Rasulullah SAW tersebut, makin menghilangkan ingatan sebagian besar kaum Muslimin tentang nasib kiblat pertama itu.
Tidak banyak umat Islam, terutama generasi muda, mengetahui salah satu tembok di areal Masjid Al-Aqsa pernah menjadi saksi ketika Nabi Muhammad SAW melaksanakan mi`raj dari Masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha di atas langit ke tujuh. Untuk mengabadikan peristiwa penting dalam sejarah Islam itu, maka salah satu tembok di bagian barat daya dari kiblat pertama umat Islam seluruh dunia itu diberi nama Tembok Buraq (kilat), nama kendaraan yang ditumpangi Nabi bersama malaikat Jibril untuk menembus langit.
Tembok tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari areal tanah suci Al-Quds, yang hingga saat ini masih terus dikotori dan dilecehkan oleh kaum Zionis Yahudi. Barangkali tak banyak pula dari kaum Muslimin yang mengetahui dengan pasti bahwa Buraq tersebut telah diganti menjadi Tembok Ratapan oleh kelompok ekstremis Yahudi sejak 1967, tepatnya pada 11 Juni 1967. Tembok suci umat Islam tersebut diganti menjadi Tembok Ratapan sebagai tempat ritual, yang diduga oleh sebagian kelompok ekstremis Yahudi sebagai tempat puing Haikal Sulaiman (King Solomon Temple).
Dalam suasana penyambutan bulan suci puasa yang serba mengedepankan hal-hal yang berbau duniawi saat ini, makna HUT ke-40 pembakaran Masjid Al-Aqsa itu pun makin terkikis dari lubuk hati kaum Muslimin. Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan ekstremis Yahudi pun atas simbol kiblat pertama tersebut makin terlupakan, sehingga negeri Zionis itu, baik melalui badan-badan ekstremis maupun badan resmi, dengan leluasa melanjutkan strategi untuk mengambrukkan Masjid Al-Aqsa yang mencapai puncaknya pada 2009, tepat pada peringatan 40 tahun pembakaran tersebut.
Peringatan tahun ini (2009) berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena bertepatan dengan kampanye yahudisasi Al-Quds yang sangat sengit dan menyeramkan, karena dibarengi pelaksanaan di lapangan “Yahudisasi” terhadap sisa dari kota Al-Quds, dengan mengubah demografi dan geografinya. Otoritas Zionis misalnya selama tahun ini mengeluarkan 1.500 buah instruksi penghancuran rumah penduduk Arab, di antaranya 80 rumah di dalam kota lama Al-Quds dan 300 rumah di sekitar kota lama.
80 ribu kartu identitas penduduk Arab dicabut, dan perintah untuk mengusir 20% penduduk Arab dalam tempo lima tahun mendatang pun sudah dikeluarkan. Dengan serta merta warga Yahudi ekstremis menyambutnya dengan menyerobot 49 rumah penduduk Arab, berikut penyitaan sekitar 800 hektar pertanian milik warga Arab.
Di tengah gebyar dan hirup pikuk hiburan yang menemani berpuasa tahun ini, umat Islam harus menyadari bahwa sejatinya Al-Aqsa masih terbakar. Kita harus menempatkan masalah Al-Quds sebagai skala prioritas di atas segala kepentingan, baik pribadi ataupun umum.
Terlepas dari suasana Ramadhan yang makjn menjauhkan kaum Muslimin dari inti ajaran agamanya, umat Islam mulai dari para ulama, pemerintah dan rakyat, dewasa ini dituntut melanjutkan upaya secara terencana dan strategis dalam membela Al-Aqsa yang terluka makin parah. Tidak wajar membiarkan kiblat pertama tersebut terus diinjak-injak oleh kaki kotor Zionisme.
Makar berkelanjutan
Setiap 21 Agustus, umat Islam di seluruh dunia, terutama yang bermukim di sekitar areal tanah suci Al-Quds, tidak akan pernah melupakan makar kaum Zionis yang mencoba memusnahkan Masjidil Aqsa sekitar 40 tahun lalu.
Pada 21 Agustus 1969, seorang ekstremis Yahudi Israel asal Australia, Michael Danis Rohen membakar simbol kiblat pertama umat Islam tersebut, menyebabkan sebagian masjid yang diagungkan kaum Muslimin seluruh dunia itu hangus terbakar.
Tingkah Danis bersama anggota mafianya yang saat itu mendapat peluang dari aparat keamanan negeri Zionis, berhasil memusnahkan seluruh bagian timur masjid dan menghancurkan atap bagian selatan. Selain itu mimbar Sulthan Nereddin dan Salahuddin Al-Ayyubi, pahlawan yang sukses merebut kembali tanah suci Al-Quds dari pasukan Salib Eropa, juga ikut dilalap jago merah.
Peristiwa memilukan yang tidak hanya melanggar norma agama samawi, namun juga norma kemanusiaan itulah yang mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sekarang beranggotakan 56 negara berpenduduk Muslim seluruh dunia.
Namun sangat disayangkan respon para pemimpin dunia saat itu, terutama pemimpin Arab dan Islam, tidak sebanding dengan nilai kesucian masjid kiblat pertama tersebut yang diabadikan sendiri oleh Sang Pencipta di dalam kitab suci-Nya Al-Qur`anul Karim.
Padahal para pemimpin Zionis Israel saat itu demikian kecut akan kemungkinan amarah besar kaum Muslimin dunia, yang dapat sebagai pertanda berakhirnya eksistensi negeri Zionis yang didirikan negara-negara besar pada bulan Mei 1948.
PM Israel Golda Meir saat ditanya tentang hari yang paling menakutkan bagi dirinya dan eksistensi Israel, ia menjawab, “hari pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh ekstremis Yahudi.” Lalu saat ditanya lagi hari yang paling membahagiakan, ia menjawab, “respon para pemimpin Islam dan kaum Muslimin setelah pembakaran tersebut yang tidak seseram yang dibayangkan sebelumnya.”
Telah empat dekade umur dari usaha pemusnahan simbol kiblat pertama kaum Musilimin ini, namun bahaya pemusnahan dari kelompok ekstremis Yahudi terus mengancam, bahkan pada tahun 2009 ini mereka makin buas karena penggalian sisa-sisa terowongan yang dicanangkan dibarengi dengan yahudisasi kota Al-Quds secara tegas di hadapan kesaksian publik dunia, khususnya kaum Muslimin yang sedang terlena.
Setidaknya dalam rentang waktu lima tahun bekalangan ini, pemerintah negeri penjajah Zionis tersebut tanpa tedeng aling-aling “menantang” PBB dan masyarakat internasional dengan melakukan serangkaian kebijakan yang melanggar keputusan Majelis Umum (MU) PBB tentang perlindungan kota suci Al-Quds, yang disebut sebagai daerah pendudukan. Bahkan pelanggaran ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok ekstrem, namun secara rapi dilakukan secara resmi dengan rekayasa pemerintah.
Sebagai contoh adalah kunjungan provokatif mantan PM/Ketua Partai Likud, kemudian menjadi Partai Kadima, Ariel Sharon pada 28 September 2000 ke areal Masjid Al-Aqsa yang memancing meletusnya intifadha Palestina kedua. Sejak saat itu hingga kini, berbagai kunjungan provokatif pejabat tinggi negeri Yahudi tersebut terus berlangsung sebagai bentuk persetujuan kelanjutan penggalian terowongan bawah Masjid Al-Aqsa oleh kelompok ekstremis Yahudi.
Makar negeri Zionis tersebut akan terus berlanjut sampai masjid Al-Aqsa ambruk, yang selanjutnya akan digantikan oleh Temple Solomon yang mereka asumsikan berada di bawah masjid. Makar ini tak lebih hanya didasari khurafat dan legenda tanpa dasar, sebagaimana yang diungkapkan sejumlah pakar arkeologi negeri Zionis itu sendiri bahwa temple yang dimaksud tidak pernah ada.
Profesor Zaif Hertzogh, pakar arkeologi dari Universitas Tel Aviv misalnya, mengingatkan dengan mengatakan, “setelah bertahun-tahun negara Israel berdiri, sudah waktunya mengubah budaya agar orang-orang Israel sudah sepantasnya mencari bukti-bukti dengan kritis, bukan sekadar menerima dongeng-dongeng yang tercantum dalam Taurat, lalu menganggapnya sebagai hakikat sejarah.”
Kementerian Wakaf Palestina misalnya, mencatat bahwa sebanyak 100 lebih pelanggaran atas Masjid Al-Aqsa yang dilakukan kelompok ekstremis Yahudi dan otoritas Zionis sejak pembakaran hingga tahun 2005. Bila data tersebut direntang lagi hingga tahun 2009, angka pelanggaran tersebut bisa mencapai dua kali lipat dengan kualitas yang jauh lebih dahsyat karena mengancam secara serius akan ambruknya masjid ini.
Sepuluh fase penggalian:
Sejak kota suci Al-Quds diduduki negara Zionis itu, menyusul kekalahan negara-negara Arab dalam perang kilat enam hari Juni 1967, setidaknya ada 10 fase penting penggalian yang telah dilakukan kelompok ekstremis Yahudi, hingga tahun 2009 ini.
Penggalian pertama terjadi pada Juni 1967, dan menghancurkan 135 rumah penduduk Palestina, dua masjid, dan sebuah pabrik pembuatan plastik. Waktu itulah Tembok Buraq diganti dengan Tembok Ratapan, yang antara lain diiringai dengan penggalian tahap awal sedalam 14 meter di bawah Masjid Al-Aqsa.
Yang kedua dilakukan pada 1969 pascapembakaran Masjid Al-Aqsa, dengan menghancurkan beberapa rumah lainnya. Peninggalan sejarah Islam yang lalu, diganti dengan pembangunan kasino. Pada fase ini berhasil digali sebuah terowongan sepanjang 80 meter di bawah masjid.
Pada fase ketiga, 1970-1972, berhasil dibuat terowongan di tembok sebelah selatan dan barat sehingga menembus ke halaman masjid. Pada fase keempat pada tahun 1973, terowongan ini diperluas lagi ke arah barat, dengan kedalaman 13 meter.
Pada 1974 sebagai fase kelima, terowongan di tembok sebelah barat kembali diperluas. Pada fase keenam, 1975-76, upaya perluasan selanjutnya disertai dengan penghilangan kuburan kaum Muslimin, di antaranya dua kuburan sahabat Rasulullah, yakni Ubadah bin Somit dan Syaada Bin Ous.
Pada 1977 sebagai fase ketujuh berhasil dibuat terowongan di bawah Tembok Buraq hingga menembus arah timur Masjid Al-Aqsa. Saat ini berhasil dibangun candi (temple) Yahudi yang dibuka langsung oleh PM Israel saat itu, Menachem Begin. Pada awal tahun 80-an, berhasil digali terowongan hingga menembus tempat salat kaum wanita di Masjid Al-Aqsa. Pada fase kedelapan ini, komisi tingkat menteri Israel mengesahkan kelanjutan penggalian terowongan.
Pada 1986 sebagai fase kesembilan, pemerintah Israel memutuskan untuk mengizinkan penggalian dari segala arah. Ratusan rumah pendudukan Palestina digusur dan di salah satu areal yang luas dibangun rumah PM Israel, untuk memudahkan koordinasi penggalian.
Fase kesepuluh, pada awal tahun 90-an hingga tahun 2000, merupakan yang paling berbahaya karena dilakukan penggalian secara besar-besar di bawah masjid, yang dapat mengancam runtuhnya masjid setiap saat. Penggalian besar-besar dalam dua tahun bekalangan ini merupakan bagian terakhir dari fase kesepuluh tersebut dengan harapan Masjid Al-Aqsa runtuh dengan sendirinya.
Hanya mu`jizat-lah yang menyebabkan simbol kiblat pertama umat Islam ini masih tegak berdiri sampai saat ini. TV Aljazeera, Qatar, yang melaporkan secara khusus peringatan 40 tahun pembakaran masjid tersebut dalam paket berita internasionalnya, lengkap dengan bukti film tentang terowongan tersebut pada Jum`at (21/8/09), antara lain menyebutkan data dari pihak otoritas Palestina bahwa dari sekitar 24 terowongan terakhir yang dicanangkan untuk digali, lebih separonya sudah rampung sehingga apabila sisanya dirampungkan besar kemungkinan simbol kiblat pertama itu akan ambruk.
Kementerian Wakaf Palestina telah berusaha mengawasi kelompok Yahudi ekstrim untuk menerobos masuk ke bawah areal masjid dengan membangun tembok kawat berduri di sekitar lokasi masjid hingga saat ini. Namun usaha itu kelihatannya tidak banyak hasilnya karena setiap saat warga ekstremis Yahudi dengan perlindungan aparat keamanan Zionis setiap saat dapat menembus masuk.
Meskipun demikian, respon para pemimpin dan umat Islam dingin-dingin saja. Kenyataan inilah yang mendorong sejumlah ulama Muslim terkemuka di seluruh dunia mendirikan Lajnah Al-Difaa `Anil Aquds (Komisi Pembela Tanah Suci Al-Quds) pada akhir 2000 yang diketuai ulama kontemporer terkemuka, Sheikh Dr. Yusuf Al-Qardawi.
Organisasi non-pemerintah yang didirikan di Libanon ini, tugas utamanya antara lain menyadarkan para pemuda Muslim seluruh dunia akan tangung jawab membela kota suci Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa. Diharapkan, badan ini mampu menggerakkan para pemuda Muslim seluruh dunia untuk membela Al-Aqsa yang masih diinjak kaki-kaki kotor Zionis.
Syeikh Solah Raed, salah seorang ulama Palestina di Israel tak henti-hentinya merekrut para pemuda Muslim di dalam Israel dan Palestina untuk menjadi fidha (siap sebagai korban) dalam membela Masjid Al-Aqsa. Karena kenyataan saat ini sangat sulit untuk menyatukan sikap para pemimpin dan kaum Muslimin dunia dalam membela kiblat pertama mereka.
“Untuk sementara ini, saya yakin kita yang berada di sekitar Al-Quds lebih utama dan mampu membela masjid ini dari ancaman runtuh oleh penggalian kaum ekstremis Yahudi. Ini sudah cukup membantu dan lebih baik ketimbang menunggu aksi nyata Liga Arab dan OKI,” katanya kepada TV Aljazeera dengan suara serak pada HUT 40 tahun pembakaran Masjid Al-Aqsa, Jumat, pekan lalu.
Gebyar Ramadhan dengan berbagai hiburan yang “mengasyikan” yang jauh dari tradisi salaf saleh tersebut tentulah makin membuat kaum Muslimin terlena, sehingga Al-Aqsa hanya menjerit dalam kesendirian karena telinga, mata, dan hati kaum Muslimin telah demikian tertutup oleh gebyar-gebyar dunia, termasuk di bulan Ramadhan yang agung ini.
Badan yang dananya pas-pasan itu pun makin kesulitan melaksanakan aktivitasnya dalam menyadarkan kaula muda Muslimin yang makin gandrung “dicekoki” hiburan-hiburan mengasyikkan, termasuk di bulan puasa yang agung ini. Suara serak Syeikh Solah pun makin tenggelam oleh gebyar-gebyar Ramadhan yang penuh dengan aneka hiburan layar kaca tersebut, sehingga Al-Aqsa makin menjerit dalam kesendirian di tengah kaum Muslimin yang melupakannya dan terlena dengan hiasan dunia yang menggiurkan. [Sana`a, 2 Ramadhan 1430 H/hidayatullah.com]
Penulis kolumnis hidayatullah.com. Sekarang berdomisili di Yaman