Oleh: Dr. Adian Husaini
DALAM berbagai kesempatan seminar atau kuliah umum, saya menyampaikan satu penyataan, bahwa dalam kurun waktu 25-30 tahun belakangan, telah terjadi kebangkitan sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Itu terjadi khususnya pada lembaga pendidikan tingkat TK, dasar, dan menengah.
Kini dapat disaksikan, di berbagai pelosok daerah, banyak kalangan menengah muslim tidak segan-segan menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah Islam, bahkan ke pondok-pondok pesantren. Tak jarang, mereka rela meninggalkan kesempatan untuk memasuki sekolah-sekolah negeri. Bagi sebagian orang, masuk ke sekolah Islam, dengan membayar mahal pun, tak jadi soal.
Tetapi kepercayaan seperti itu belum dinikmati Perguruan Tinggi Islam (PTI). Sejauh informasi yang saya terima, hingga kini, murid-murid pintar lulusan SMA sekolah-sekolah Islam unggulan, belum menjadikan Perguruan-perguruan Tinggi Islam, sebagai tujuan utama kuliah utama mereka.
Berbagai SMA Islam masih memasang ‘promosi’, bahwa sekian persen lulusan mereka diterima di berbagai Perguruan Tinggi Favorit. Yang dimaksud ‘favorit’ adalah semisal UI, ITB, UGM, IPB, Unair, Undip, Unpad, dan sebagainya. Sejumlah universitas Islam kini menduduki ‘peringkat atas’; masuk 50 besar universitas terbaik di Indonesia, versi sejumlah lembaga pemeringkat.
Dari segi pemilihan jurusan (Program Studi) belum ada pergeseran yang signifikan dalam hal minat calon mahasiswa. Kedokteran Umum masih menduduki peringkat tertinggi. Biasanya disusul Teknologi Informasi, Ekonomi, dan seterusnya. Hingga kini, bidang Keguruan dan Pendidikan belum menjadi tujuan utama para murid-murid SMA terbaik secara akademik. Mungkin ada pemenang olimpiade matematika internasional yang mendaftar menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyah di satu PTI, tetapi saya tidak tahu. Wallahu A’lam.
Padahal, jika dicermati, kini banyak sekali sarjana lulusan UI, ITB, IPB, dan sebagainya, yang memilih berprofesi sebagai guru. Bahkan tidak sedikit para insinyur dan pakar ekonomi yang aktif bergelut dalam bidang pendidikan. Dan mereka terbukti sukses mewujudkan dan mengelola berbagai lembaga pendidikan Islam terkenal.
Mengapa sekolah-sekolah Islam bangkit dan menjadi tujuan utama para murid muslim yang pintar-pintar? Jawabnya sederhaha. Sebab, sekolah-sekolah Islam itu berbenah dengan serius meningkatkan kualitasnya. Mereka bukan hanya memasang target kompetensi keunggulan akademik, tetapi juga kompetensi iman, taqwa, dan akhlak mulia. Sebagian sekolah, menambah dengan kompetensi hafalan al-Quran. Intinya, ada ‘nilai jual’, ada ‘distingsi’ atau ‘keunikan’, yang bersifat Islami, yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah Islam.
Urgensi Kebangkitan PTI
Kebangkitan sekolah-sekolah Islam itu kini telah meluluskan ribuan murid-murid SMA muslim yang berkualifikasi tinggi, baik secara akademik atau pun secara akhlak. Tidak sedikit dari mereka yang juga sudah hafal al-Quran 30 juz. Sepatutnya, para murid terbaik itu melanjutkan pendidikan mereka ke PTI, agar pembinaan intelektual, keimanan, ketaqwaan, seta akhlak mereka terus berjalan dengan baik.
Tetapi, realitasnya, hingga kini, di kalangan orang tua dan para murid lulusan SMA, masih banyak muncul pertanyaan: di kampus mana di Indonesia, kita bisa mendidik anak-anak kita untuk menjadi ahli Tafsir al-Quran, ahli ilmu fiqih, ahli sejarah Islam, ahli sains Islam, ahli psikologi Islam, dan sebagainya? Dimana kita mengirim anak-anak kita untuk dididik menjadi wartawan muslim yang tangguh? Kemana kuliahnya, seorang yang ingin menjadi pejuang profesional di bidang hukum? Bahkan, kemana kuliahnya, jika kita ingin mendidik anak-anak kita menjadi guru pejuang yang hebat?
Patut disyukuri, kini sejumlah universitas Islam telah menempati jajaran perguruan tinggi elite di Indonesia. Beberapa prodi mereka diserbu calon mahasiswa. Beberapa universitas Islam kini memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 20 ribu orang. Jumlah yang fantastis!
Semua prestasi dan kepercayaan itu patut disyukuri. Itu amanah! Namun, tantangan tidak berhenti sampai disitu. Sebab, tujuan terpenting pendidikan dalam Islam, dan juga dalam ketentuan UUD 1945 serta UU Pendidikan Tinggi (UU No 12 tahun 2012) adalah pengembangan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.
UUD 1945 pasal 31 (c) pun menegaskan: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
Jadi, merujuk kepada UUD 1945 dan UU Pendidikan Tinggi, aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia sepatutnya menjadi tekanan utama proses pendidikan di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia, khususnya di PTI. Itu tataran normatifnya. Maka, sepatutnya, tujuan pendidikan itu dijabarkan dalam kurikulum, program pendidikan, dan evaluasi pendidikan. PTI sepatutnya menjadi pelopor dalam hal ini.
Mahasiswa muslim PTI yang akan ujian skripsi, misalnya, harus diuji aspek iman, taqwa, dan akhlaknya. Bukan hanya diuji kualitas akademiknya. Lucu, jika ada mahasiswa muslim lulus sarjana dari suatu PTI, tetapi tidak bisa membaca al-Quran dengan baik. Lebih parah, jika ia lulus sarjana, tetapi tidak disiplin dalam menjalankan salat lima waktu, atau jahat akhlaknya. Padahal, PTI tersebut memasang slogan-slogan indah dalam bentuk perumusan visi-misi kampus yang ideal.
Peringatan Allah Subhanahu Wata’ala dalam al-Quran sangat keras: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah, jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan!” (QS 61:2-3).
Era 25 tahun kedua
Menyusul era 25 tahun pertama, berupa Kebangkitan Pendidikan Islam di peringkat dasar dan menengah, maka saya pikir, perlu dicanangkan sebuah tekad mulia untuk mencanangkan 2020-2045 sebagai era Kebangkitan Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Indonesia. Itulah era 25 Tahun Kedua Kebangkitan Pendidikan Indonesia.
Kebangkitan itu harus berpijak pada landasan dan konsep yang kokoh dalam pendidikan Islam, yakni penanaman adab dan pencapaian ilmu yang gemilang. Proses penanaman nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia, dalam tradisi pendidikan Islam disebut sebagai proses penanaman adab (inculcation of adab). Itulah hakikat dan inti pendidikan dalam Islam, sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Konferensi Pendidikan Islam Internasional pertama di Makkah, 1977. * klik >>> BERSAMBUNG