Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Embun Hikmah

Menyiapkan Bekal Perjalanan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 September 2021 06:38 6:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 September 2021 06:38
Bagikan
Bagikan

Bila kita hendak pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar terdekat, seperti apakah persiapan yang kita buat? Perlukah membawa baju ganti satu koper penuh? Atau mengucapkan salam perpisahan serta mohon doa keselamatan dari segenap kerabat dan kawan? Apakah kita memerlukan peta dan kompas agar tidak tersesat?  

Oleh: Alimin Mukhtar

Hidayatullah.com | KITA tahu semua itu tidak diperlukan. Bahkan, memikirkan persiapan sedetail itu adalah gagasan paranoid dan kurang waras. Sebab, jarak yang kita tempuh dekat, waktu yang kita habiskan di sana sekejap, dan keperluan kita pun sangat sederhana.

Bisa jadi, kita hanya berpakaian asal-asalan dan membawa uang sekedarnya. Naik kendaraan apa saja juga tidak masalah, bahkan jalan kaki pun oke. Bukankah demikian?

Sekarang, mari beralih kepada perjalanan kita yang sesungguhnya, yakni perjalanan hidup sebagai hamba Allah. Kita tahu, Allah menciptakan manusia untuk dua kehidupan: dunia dan akhirat.

Baca Juga

Ibrahim bin Adham Tanggalkan Baju Istana
Rahasia Di Balik Berkah Hujan
Ciri Ulama Akhirat Menurut Ihya’ Ulumuddin
Harga Mencari Bahagia Itu Mahal?
Mengapa Terjadi Kesalahpahaman?

Kita juga tahu, bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal, sebagaimana diceritakan oleh banyak ayat Al-Qur’an. Sebaliknya, dunia ini tidak abadi dan pasti ditinggalkan. Bila kita mau berpikir secara adil dan obyektif, manakah yang seharusnya dipersiapkan lebih terperinci?

Sepanjang-panjangnya usia manusia di dunia ini, suatu saat nanti pasti berujung pada kematian. Di zaman para Nabi terdahulu, walaupun manusia diberi umur sampai ratusan tahun, ternyata sekarang tidak tersisa seorang pun diantara mereka.

Terlebih-lebih lagi dewasa ini, ketika menemukan orang yang hidup diatas 100 tahun sudah menjadi kejadian langka. Dunia adalah perjalanan yang sangat singkat dan cepat berlalu.

Sepertinya, belum hilang dari ingatan masa-masa dimana kita bermain sebagai bocah kecil, berlarian mengejar layang-layang putus atau bermain petak umpet. Namun, sekarang kita bahkan telah menjadi orangtua yang mengasuh anak-anak pula.

Sepertinya, belum lama berselang kita menimang anak-anak itu dan mengganti popoknya. Sekarang, tiba-tiba saja mereka telah memberi kita cucu yang lucu-lucu. Sedemikian cepatnya semua ini bergerak, sehingga tanpa terasa uban dan kerutan sudah menyebar rata.

Bila selalu demikian kenyataan hidup di dunia, mengapa kita justru jauh lebih sibuk menyiapkan bekalnya dibanding perjalanan menuju akhirat yang abadi? Bertahun-tahun kita habiskan usia, energi, sumberdaya, kreatifitas, produktifitas, untuk menyongsong kesejahteraan duniawi.

Sejak kecil kita sangat fokus menyiapkan karir-karir duniawi. Bahkan, anak-anak kita pun telah belajar melafalkan aneka rupa cita-cita duniawi sejak mereka belajar bicara.

Banyak orang bersedia “menyumbang” ratusan juta agar bisa masuk fakultas tertentu atau untuk menjadi pegawai negeri, demi menyongsong kesejahteraan duniawinya.

Tetapi, bagaimana dengan akhirat? Sesibuk apa kita mempersiapkan bekalnya? Sebanyak apa yang telah kita “belanjakan” untuknya? Sejak kapan kita telah merencanakannya? Misalnya, berapakah ayat Al-Qur’an yang sudah kita pelajari, sebagai petunjuk jalan keselamatan, pengobat hati yang gelisah, dan peneguh jiwa menghadapi guncangan hidup?

Seberapa waktu yang kita alokasikan untuk mendengar hadits-hadits Rasulullah, agar hidup ini lurus dan terarah dengan benar? Apakah shalat dan puasa kita terpelihara dengan baik? Bagaimana dengan nikmat-nikmat Allah lainnya: harta, kekuatan fisik, waktu, kesehatan, dsb; kemana kita habiskan?

Sungguh, Allah dan Rasul-Nya banyak menegur kita dengan sangat keras atas kelalaian-kelalaian ini.

Dengarkanlah apa yang difirmankan-Nya dalam Surat an-Najm: 29-31, “Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah batas terjauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. Hanya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”

Demikian juga firman-Nya dalam surah al-A’la: 14-17

قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ تَزَكّٰىۙ

وَذَكَرَ اسۡمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى‌

بَلۡ تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا

وَالۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ وَّ اَبۡقٰىؕ‏

“Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia mengingat nama Tuhannya, lalu dia mengerjakan shalat. Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Rasulullah pun bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang keras-kasar-angkuh tabiatnya, gemar mengumpulkan harta namun pelit, suka berteriak-teriak di pasar-pasar, seperti bangkai di malam hari dan seperti keledai di siang hari, sangat mengerti urusan dunia tetapi tidak tahu-menahu urusan akhirat.” (Riwayat Ibnu Hibban dan al-Baihaqi. Sanad-nya shahih ‘ala syarthi muslim).

Beliau bahkan tidak khawatir jika kita menjadi fakir. Beliau justru cemas jika dunia ini dihamparkan seluas-luasnya bagi kita. Beliau bersabda:

“فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Bergembiralah, dan harapkanlah apa saja yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kemelaratan yang aku khawatirkan atas kalian. Namun, aku khawatir jika dunia ini dihamparkan seluas-luasnya untuk kalian, sebagaimana dulu pernah dihamparkan kepada umat-umat sebelum kalian. Lalu, kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka dulu memperebutkannya, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia dulu membinasakan mereka.” (Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih).

Kekhawatiran beliau terbukti di zaman ini. Mengapa ada korupsi, suap-menyuap, dan penyelewengan anggaran?

Mengapa para penipu dan maling tega memakan harta orang lain secara batil? Mengapa ada kelicikan dalam pembagian warisan dan pengelolaan harta anak yatim? Dari mana benih money politics dan black campaign dalam Pemilu dan Pilkada?

Ayat-ayat dan hadits diatas telah menunjukkannya: “kerakusan pada dunia dan kecintaan yang berlebihan terhadapnya”. Inilah yang disebut ghurur (ketertipuan).

Karena ghurur-lah manusia salah memilih. Maka, sebaiknya kita lebih berhati-hati dan bijak dalam menentukan prioritas.

Yahya bin Mu’adz ar-Razi (w. 258 H) berkata, “Seandainya dunia adalah bijih emas yang fana sedangkan akhirat adalah keramik yang kekal, maka sudah sepantasnya bagi orang yang berakal untuk lebih memilih keramik yang kekal dibanding bijih emas yang fana. Bagaimana jika kenyataannya dunia adalah keramik yang fana sedangkan akhirat adalah bijih emas yang kekal?” (Dikutip dari: Adabul ‘Ulama’ wal Muta’allimin).

Maka, sangat wajar jika Rasulullah ﷺ pernah mengajari ‘Ali bin Abi Thalib sebuah doa;

“قُلِ اللهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي، وَاذْكُرْ، بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ، سَدَادَ السَّهْمِ”

“Ya Allah karuniakan kepadaku hidayah dan tepatkanlah aku (memilih) pada kebenaran,” beliau berkata, “permisalan petunjuk adalah yang menunjukimu jalan dan permisalan tepat pada kebenaran seperti tepatnya anak panah mengenai sasaran.” (HR. Muslim).

Semoga kita pun diberi-Nya hidayah dan ketepatan, dalam menyiapkan bekal perjalanan ini. Amin. Wallahu a’lam. *

Pengasuh PP Arrahmah-Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalbekalhidupperjalanan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Akhir Zaman: Ketika Parameter Menilai Kebenaran Telah Berubah
Tulisan selanjutnya Pelarian Palestina yang Ditangkap Kembali: ‘Saya akan Mencari Kebebasan Lagi’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Embun Hikmah

Antara Fitrah Iman dan Tabiat Kekafiran

28 Agustus 2021 10:38
Embun Hikmah

Kecurangan dalam Muamalah

25 Agustus 2021 17:19
Embun Hikmah

Engkau akan Bersama yang Kau Cintai

23 Agustus 2021 20:22
Embun Hikmah

Antara Luasnya Islam dan Sempitnya Kotak Kecil

21 Agustus 2021 09:38
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?