Ketiga kekalahan itu bisa menghampiri kita justru ketika kita merasa kuat dan besar sehingga kurang waspada. Dalam perang Hunain yang berjarak kurang dari tiga pekan setelah penaklukan kota Mekah, dan melibatkan 12,000 pasukan – pasukan umat ini sempat kocar-kacir.
Perang Hunain ini akhirnya bisa dimenangkan pasukan kaum muslimin setelah Allah mengabulkan do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menurunkan sakinah dan malaikat-malaikatNya.
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan sakinah kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS 9 : 25-26)
Keempat adalah ketika kita kalah atau gagal memimpin di berbagai bidang kehidupan, bisa jadi itu karena kurang kuatnya iman kita dan kurang banyaknya kita melakukan amal shaleh-amal shaleh yang terkait bidang kehidupan itu. Sebab janji Allah pasti berlaku, bahwa kepemimpinan itu diberikan kepada orang yang beriman dan beramal shaleh.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 24 :55).
Kelima adalah kita kalah dalam berbagai bidang kehidupan dan di berbagai medan perjuangan bisa jadi karena kita belum menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pelajaran. Umat ini dijanjikan untuk menjadi umat yang tertinggi, manakala kita sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pelajaran – di setiap urusan kita.
“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 3 : 138 -139).
Maka dengan lima pelajaran tersebut, insyaAllah kita bisa selalu dalam salah satu dari dua kebaikan. Kita sedang mensyukuri dan mensucikanNya dalam kemenangan kita, atau kita sedang belajar dari kekalahan saat ini untuk meraih kemenangan yang akan datang. InsyaAllah.*
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar