SEORANG muslim tidak mengabaikan upaya pembebasan kebosanan atas rutinitas kehidupan bersama istrinya. Untuk itu ia menghiasi hari-hari kehidupan mereka dengan humor-humor lembut dan permainan-permainan kecil dari waktu ke waktu.
Dalam melakukannya, ia mesti mengikuti contoh keteladanan Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam. Meskipun Nabi senantiasa sibuk dengan sebagian besar tugas membangun fondasi Islam, membangun umat Muslim, memimpin pasukan dalam jihad, dan sejumlah hal lainnya, beliau tidak pernah lalai menjaga diri menjadi seorang suami ideal bagi para istri beliau.
Nabi memperlakukan para istrinya sebaik mungkin, dengan selalu memberikan wajah tersenyum dan sesekali memberikan sentuhan humor lembut. Sebuah contoh diriwayatkan dari Aisyah r.a. yang mengatakan:
“Aku mendatangi Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dengan beberapa harirah (makanan yang dibuat dengan tepung dan susu) untuk beliau, dan berkata kepada Saudah r.a. –karena Nabi duduk di antara aku dan ia– makanlah. Ia menolak, maka aku berkata, ‘Engkau makan atau aku akan memenuhi wajahmu (dengannya)!’
Ia tetap menolak, maka aku letakkan tanganku di harirah dan memulas wajahnya. Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tertawa, mengambil beberapa harirah dan meletakkan di tangan Saudah, dan berkata kepadanya: Lakukan hal yang sama padanya! Dalam riwayat lain: Beliau menurunkan lututnya (berpindah dari tempat itu) sehingga ia dapat membalas kepadaku, kemudian ia mengambil beberapa dari nampan dan menaburi wajahku dengannya, dan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tertawa.”
Ini merupakan contoh toleransi dan tindakan mudah secara natural yang membuat seorang istri gembira melalui sebuah humor dan sikap berhati lapang.
Aisyah r.a. juga meriwayatkan bahwa suatu waktu ia dalam perjalanan bersama Nabi. Ia menantang beliau untuk berlomba lari dan menang. Selanjutnya, ketika ia bertambah berat (gemuk), ia berlomba lari kembali, namun pada waktu ini beliau menang, dan berkata kepadanya, “Ini balasan untuk yang itu.”
Nabi juga sering membuat istri tercintanya merasa gembira untuk menikmati beberapa jenis hiburan tak berdosa, yang akan membuat hatinya gembira. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa pada satu kesempatan:
“Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam sedang duduk, dan beliau mendengar suara beberapa orang dan anak-anak di luar. Ada sekelompok orang mengelilingi beberapa orang Abbasiah yang menari. Beliau berkata: ‘Hai Aisyah, kemarilah dan lihatlah!’ Aku meletakkan pipiku di bahu beliau dan melihat melalui celah. Kemudian beliau berkata: ‘Hai Aisyah, apakah kamu sudah puas, apakah kamu sudah puas?’ Aku berkata: ‘Belum’ hanya untuk mengetahui berapa besar arti diriku bagi beliau, dan aku melihat beliau mengubah tumpuan berat beliau dari satu kaki ke yang lain (yaitu beliau lelah, namun beliau tetap berdiri selama ia [Aisyah] ingin melihat tontonan tersebut).”
Dalam riwayat lain Aisyah berkata:
“Demi Allah, aku melihat Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berdiri di pintu kamarku, ketika beberapa orang Abbasiah memainkan lembing di masjid. Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menutupiku dengan jubah beliau, sehingga aku dapat melihat permainan lembing di belakang punggung beliau. Beliau tetap di sana karena diriku, sehingga aku merasa puas. Maka berikan perhatian kepada kebutuhan gadis mudamu akan hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim).* [Tulisan selanjutnya]
Dari buku It’s My Life karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.