SEORANG muslim juga tidak seharusnya bersikap keterlaluan dan menjadi marah karena alasan sepele, dengan menciptakan kegaduhan, antara lain, ketika istri memberi makanan yang tidak mereka sukai, sedikit telat, atau beberapa alasan lain. Dengan mengikuti keteladanan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, seorang suami dapat bersikap lapang dada, baik, dan toleran kepada istrinya.
Salah satu karakter Nabi adalah beliau tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka, beliau memakannya, dan jika beliau tidak suka, beliau hanya membiarkannya. (Muttafaqun `alaih).
Pernah Nabi meminta kepada keluarganya beberapa makanan sederhana yang hendak beliau makan dengan rati. Mereka berkata kepada beliau: “Kami tidak memiliki apa pun kecuali sedikit cuka.” Beliau meminta mereka untuk membawanya dan berkata: “Betapa bagus makanan sederhana adalah cuka.” (HR. Muslim).
Dan boleh jadi seorang istri mungkin menjadi marah karena beberapa hal, kemudian ia `pergi’ dari suaminya untuk menunjukkan kemarahannya. Dalam masalah ini, suami muslim mesti menanggapinya dengan toleransi dan kebaikan, yang didasarkan pada pandangan mendalam atas psikologi dan sifat perempuan, sebagaimana Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam memperlakukan istri-istrinya setiap kali mereka marah terhadap beliau dan `berpaling’ dari beliau sepanjang hari hingga malam datang.
Umar bin Khattab r.a. berkata:
“Kami kaum Quraisy memiliki kendali atas perempuan (istri-istri) kami. Ketika kami datang ke Madinah kami menemukan seseorang yang perempuannya mengendalikan (mengontrol) mereka, dan istri-istri kami mulai belajar dari perempuan-perempuan mereka. Aku tinggal di Al-Awali di antara Banu Umayah bin Zayd. Suatu hari istriku marah denganku dan mendebatku. Aku tidak suka hal ini, namun ia mengatakan kepadaku, ‘Apakah engkau tidak suka aku mendebatmu? Demi Allah, para istri Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berdebat dengan beliau. Mereka marah dan berpaling dari beliau sepanjang hari hingga malam tiba! Maka aku pergi untuk menemui Hafsah dan bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau berdebat dengan Nabi?’ Ia menjawab. ‘Ya’. Aku bertanya padanya, ‘Apakah engkau marah dan berpaling dari beliau sepanjang hari hingga malam menjelang?’ Ia menjawab, ‘Ya’. Aku berkata: ‘Orang yang melakukan hal itu akan mati dengan celaka! Apakah engkau tidak takut murka Allah akibat kemarahan Nabi-Nya? Segera engkau akan dikutuk! Jangan berdebat dengan Rasulullah, dan jangan minta apa pun dari beliau. Minta kepadaku apapun yang kamu butuhkan.’” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Al-Nasa’i). Umar datang kepada Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dan berkata kepada beliau tentang apa yang terjadi di rumahnya, dan percakapannya dengan Hafsah, dan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tersenyum.
Maka setiap muslim hendaknya mengembangkan sikap toleran ini, yakni mengikuti contoh keteladanan Nabi dalam perilaku dan tindakannya. Jika prinsip utama ini dilaksanakan oleh suami, maka akan mengakhiri percekcokan dan ‘perpecahan’ dalam kehidupan keluarga, dan akan memberikan kedamaian, stabilitas, kebahagiaan, dan keamanan dalam rumah tangga.*
Dari buku It’s My Life karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.