DALAM hal memilih teman, masjid dapat dianggap sebagai lingkungan yang bagus bagi sang anak untuk memilih sekumpulan teman yang bersih dan baik baginya. Di masjid, dia dapat bertemu dengan mereka lima kali dalam sehari. Belum lagi, ditambah dengan kedatangannya untuk menghadiri berbagai kegiatan yang diadakan oleh pengurus masjid itu sendiri, seperti mempelajari keislaman, mempelajari dan menghafal Al-Quran, dan berbagai kegiatan lain yang di dalamnya berkumpul anak-anak yang memiliki prestasi terbaik.
Dengan demikian, anak-anak akan merasa beruntung dan bahagia karena dapat keluar dari rumah seperti layaknya orang-orang besar lainnya. Mereka juga memiliki teman yang dapat ditemui setiap hari dan dapat memilih anak-di antara sekian banyak anak yang ada-yang memiliki keserupaan dalam selera dan hasrat dengannya untuk menjadi sahabat karibnya.
Dalam hal ini Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara yang dipersenjatai. Barangsiapa yang dapat saling berkenalan maka ia akan saling bersahabat. Dan barangsiapa saling masa mengingkari (masa bodoh) maka ia akan saling berselisih.” (HR Muslim).
Hadits ini menjelaskan adanya persahabatan yang dibangun atas dasar saling mengenal di antara jiwa dan adanya kesesuaian hati. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa hendaknya kita tidak boleh memaksakan teman tertentu bagi sang anak.
Hal paling penting yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah hendaknya orang yang membimbing mereka adalah orang yang berakhlak dan mempunyai pemahaman agama yang baik. Selain itu, orang tersebut hendaknya mengenal baik ilmu yang membahas tentang perkembangan jiwa anak-anak dan ilmu syariat. Alangkah lebih bagusnya lagi, jika mereka juga adalah orang-orang yang dapat menyelami jiwa anak muda supaya mereka dapat lebih dekat dengan anak-anak tersebut.
Untuk itu, hendaknya sang ayah dapat menyertakan anaknya pergi ke masjid sejak dia berusia enam tahun. Selain itu, juga ke tempat-tempat lain, yaitu tempat anak-anak yang mempunyai tingkah laku baik.
Dengan penanganan yang baik, orang tua dapat mengembalikan bentuk akhlak sang anak. Sebab, hal yang biasa terjadi, akhlak buruk sang anak akan kembali membaik ketika dia mempunyai teman-teman yang lebih baik darinya. Sebagaimana halnya anak yang mempunyai akhlak buruk, mereka akan mempunyai akhlak yang lebih buruk lagi jika dia mempunyai teman-teman berakhlak buruk. Karena itu, jika seorang ayah menemukan teman-temannya mempunyai akhlak buruk, dia harus cepat-cepat melakukan intervensi untuk memotong keadaan tersebut, yaitu membebaskan anaknya dari pengaruh mereka, baik dengan cara pindah dari sekolah semula atau pindah dari desanya, jika memang hal tersebut diperlukan demi menjaga masa depan anaknya.
Dalam memilih teman untuk anaknya, sebisa mungkin orang tua harus memilih teman yang mempunyai sifat-sifat dan kepribadian sempurna. Biasanya, anak yang memiliki sifat-sifat seperti ini jumlahnya sangat sedikit. Dalam hal ini, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Manusia itu bagaikan sekumpulan unta yang sekarat, hampir saja engkau tidak menemukan unta yang dapat digunakan untuk bepergian.”
Orang tua juga harus mau melatih anaknya dengan berbagai cara, seperti melatihnya memiliki sifat mulia, mau berkorban untuk temannya, dan mau memprioritaskan mereka demi menguatkan atau menyelamatkan persahabatan antara dirinya dengan teman-temannya.
Orang tuanya harus memenuhi kebutuhan sang anak untuk bisa tertawa dan bersenda gurau. Tetapi, dengan beberapa syarat, seperti hendaknya dalam bersenda gurau tersebut tidak boleh ada kebohongan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah terhadap para sahabatnya. Sebab, beliau pun mau tertawa dan bersenda gurau dengan mereka. Tetapi, dalam senda guraunya, beliau tidak mengatakan sesuatu, kecuali sesuatu tersebut memang benar. Selain itu, hendaknya tidak boleh bersenda gurau dengan suatu hal yang dapat menyebabkan perselisihan dan pertengkaran.
Telah diriwayatkan bahwa suatu hari para sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam melakukan perjalanan dengan beliau. Ada salah seorang dari mereka yang tertidur. Melihat hal tersebut, sebagian dari mereka mengambil panah yang ada di tubuhnya. Ketika terbangun, laki-laki tersebut terkejut karena panahnya telah hilang. Tertawalah para sahabat. Rasulullah bertanya, “Apa yang membuat kalian tertawa?”
Mereka berkata, “Tidak, tidak. Kami tertawa karena kami mengambil panahnya lalu dia terkejut.”
Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim menakut-nakuti Muslim lainnya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Telah diriwayatkan juga bahwa ketika anak Rasulullah yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kedua mata beliau berlinang. Beliau bersabda, “Air mata ini adalah rahmat yang dijadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hati orang-orang yang dikasihinya. Hati bersedih dan mata mencucurkan air matanya. Namun, kita jangan sampai mengatakan sesuatu yang menyebabkan Tuhan murka.” (Ibnu Majah).*/Jamal Abdul Hadi, Ali Ahmad Laban, Samiyah Ali Laban, dari bukunya Menuntun Buah Hati Menuju Surga.