KEBUTUHAN anak akan penghargaan dan penghormatan dapat menjadikannya merasa bernilai, bermanfaat, dan mendapat posisi di antara orang yang lebih dewasa. Perasaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri ketika sedang berada di antara orang-orang sekelilingnya.
Kita jangan terlalu banyak mencaci dan mencelanya. Kita harus memujinya ketika dia berbuat baik, tetapi jangan sampai berlebih-lebihan. Kita juga dapat mengikutsertakan dirinya dalam mengatur sebagian kegiatan rumah tangga, seperti memberikan tanggung jawab kepadanya untuk menerima salah satu kerabat ketika mereka berkunjung, menyuruhnya untuk berbelanja di pasar (jika pasarnya dekat), menemani saudara perempuannya ke madrasah, atau membantu saudaranya yang kecil, dan kegiatan lainnya.
Orang tua juga dapat menyertakan anaknya ketika mereka melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan mengikutsertakannya di ruangan tamu, serta kegiatan dan aktivitas lainnya yang dapat menunjukkan kemampuan, penghormatan, penghargaan pada dirinya, dan menunjukkan adanya perasaan diterima oleh masyarakat yang berada di sekitarnya.
Seorang anak setelah berusia lima tahun akan sangat membutuhkan seorang sahabat. Pada masa ini perhatian sang anak akan berpindah dari hal-hal yang dulunya hanya terpusat pada dirinya, seperti perasaan ingin berlomba dengan temannya, lebih menunjukkan rasa permusuhan, rasa tidak ingin bergabung untuk bermain dengan anak lain, dan hal-hal lain yang merupakan ciri khas tersendiri bagi anak-anak yang masih dalam tahap awal pertumbuhan, menuju pada fase saling berhubungan (yaitu pada tahap selanjutnya).
Pada fase selanjutnya, akan tumbuh rasa saling memahami, saling tolong-menolong, rasa senang membentuk tali persahabatan di luar rumah dan timbulnya keinginan untuk berkumpul dengan anak-anak lainnya dalam bermain. Dengan kata lain, saat-saat seperti itu adalah saat ketika seorang anak sudah menjadi makhluk sosial yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan berusaha menerima perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Pada fase ini juga timbul keinginan untuk tidak menentang perubahan, walaupun perubahan-perubahan tersebut berada di luar kemampuannya, seperti adanya keinginan untuk melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan (karena lingkungannya memang seperti itu). Walaupun-dilihat dari segi usia-dia masih kecil dan tentunya akan merasa kesulitan untuk melaksanakan puasa tersebut, namun karena adanya kondisi yang memengaruhinya, dia berusaha untuk melakukannya. Lingkungan seperti ini dianggap sebagai media yang paling berhasil untuk pendidikan akhlak sang anak. Selain itu, juga sebagai media untuk mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan sosial yang lebih besar lagi, khususnya ketika sang anak menginjak usia sepuluh tahun.
Pada umumnya, sejak berusia enam tahun, sang anak sudah mulai menjalin hubungan batin dengan sesamanya. Hubungan tersebut tidak mungkin dilepaskan begitu saja. Karena itu, jika sang anak dipaksa untuk tidak menjalin hubungan persahabatan dengan anak yang lain, maka akan menyebabkan terjadinya tekanan jiwa dan mental fatal. Oleh karena itulah, persahabatan di antara anak-anak pada usia-usia seperti ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada diri mereka. Seorang anak biasanya akan mengikuti jalan yang telah ditentukan oleh rasa persahabatan tadi.
Sekelompok anak pada usia-usia seperti ini adalah kelompok biasa yang sangat berbeda dengan kumpulan anak-anak yang sudah baligh (lebih dewasa darinya). Sebagian dari mereka terkadang sudah ada yang melakukan perbuatan tercela. Perbuatan tersebut sudah keluar dari aturan undang-undang yang berlaku. Namun meskipun begitu, kelompok ini (yaitu anak-anak yang belum baligh) masih tetap harus dilindungi dan diawasi secara terus-menerus, walaupun secara tidak langsung supaya kita tidak terkejut jika tiba-tiba mereka melakukan sesuatu yang keluar dari koridor hukum dan aturan yang berlaku.
Akan tetapi, hendaknya pengawasan ini pun dilakukan dengan cara bijaksana dan bersih dari sifat menghakimi yang justru akan menimbulkan benturan antara kita dengan mereka. Sebab, jika benturan ini sampai terjadi maka mereka akan lebih menentang dan keluar dari apa yang telah ditetapkan. Biasanya, dalam memilih teman, seorang anak lebih mengutamakan untuk memilihnya sendiri, tanpa campur tangan dari orang tua. Padahal, pada usia seperti ini, dia belum sepenuhnya dapat memilih teman-temannya dengan baik. Karena itulah, orang tua harus dapat dengan cepat memilihkan teman-teman baginya secara tidak langsung.*/Jamal Abdul Hadi, Ali Ahmad Laban, Samiyah Ali Laban, dari bukunya Menuntun Buah Hati Menuju Surga. [Tulisan berikutnya]