APA hubungan antara tiga kata ini: compreng, doa, usaha? Masyarakat di perairan sini sudah lebih dulu “menjawab” pertanyaan tersebut.
Setidaknya hal itu tergambar dari jepretan hidayatullah.com di Segara Anakan Kecamatan Kampung Laut, Cilacap dan Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Tengah ini.
Compreng atau perahu merupakan salah satu moda transportasi utama di kedua kecamatan yang terhubung ke Pulau Nusakambangan tersebut.
Uniknya, di setiap lambung kebanyakan perahu itu terdapat tulisan yang berbeda-beda. Rata-rata bermuatan positif bahkan mengandung doa.
Misalnya saja, pada perahu seorang nelayan di dekat Dermaga Majingklak, Pangandaran, terdapat tulisan “Rejeki Ngalir”. Mungkin ia berharap rezekinya terus mengalir.
Compreng memang menjadi andalan masyarakat sekitar perairan itu untuk mencari nafkah sehari-hari. Misalnya dengan memanfaatkan perahu bermesin itu untuk menjala ikan atau mengantar barang dan orang.
Berbagai usaha yang mereka lakukan itu, mungkin dirasa tak cukup tanpa dukungan doa. Setiap tulisan di perahu itu pun bisa jadi menggambarkan harapan pemiliknya.
Lantas bagaimana dengan pemilik compreng yang satu ini? Pada bodi perahunya, tertoreh tulisan “Bule Masuk Kampung”. Apakah ia berharap kampungnya jadi ramai didatangi warga negara asing?
Di Kampung Laut memang rawan terjadi pemurtadan. Tapi, menilik tulisan pada perahu lain, rasa-rasanya warga kecamatan yang mayoritas Muslim itu akan tetap berpegang teguh dengan “Cinta Kasih Abadi” pada “Wahyu Ilahi”.
Foto-foto ini dijepret dari atas compreng besar dalam perjalanan di sepanjang Segara Anakan pada Jumat pagi-sore, 30 Oktober 2015.*
![[Foto: Syakur]](https://hidayatullah.com/engine/files/2015/12/3-4924-53911.jpg)