Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
ArtikelNone

Fadli Zon di Antara Lorong Waktu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2023 22:41 10:41 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2023 22:12
Bagikan
Bagikan

Hidup seperti menyusuri lorong waktu. Di dalamnya banyak cerita dan peristiwa. Pada setiap jalan yang dilalui, pasti ada hikmah dan pelajaran

Hidayatullah.com | SAYA termasuk orang yang senang membaca buku otobiografi dan buku biografi, siapa pun tokohnya. Karena pada setiap orang, tentu ada kisah hidup yang beragam. Dengan kisah-kisah yang kita baca, kita bisa memetik pelajaran dan mengambil inspirasi.

Saya tidak sedang mempromosikan Fadli Zon, tetapi ingin berbagi cerita dari otobiorafi yang ditulisnya, yang saya tuntaskan baca pagi ini.

Era tahun 90-an, Fadli dikenal sebagai sosok anak muda yang cerdas, berprestasi, dan memiliki jaringan yang luas. Sejak SMA sudah aktif membantuk forum kajian ilmiah dan kajian keislaman, ikut dalam lingkar pengajian (liqo’) dengan mentor para aktivis dakwah, dan menulis di media massa nasional.

Di usia 20-an, Fadli juga mampu membangun jaringan yang luas ke berbagai kalangan; sipil atau pun militer. Ia anak muda yang akrab dengan orang-orang besar/senior dari kalangan para intelektual, sastrawan dan budayawan, ulama dan aktifis pergerakan, dan para petinggi militer.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Semua jaringan itu terjalin karena intelektualitas Fadli dan prestasinya. Dan,  karena orang mengapresiasi dua hal dari sosoknya tadi.

Nasab pergerakan Fadli sebenarnya lebih dekat ke gerakan Islam. Ia pernah aktif di Rohis SMA, pengurus Gerakan Pemuda Islam (GPI), wartawan Majalah Suara Hidayatullah, wartawan Harian Terbit, aktifis Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), salah seorang pendiri Partai Bulan Bintang (PBB), dan lain-lain.

Fadli memang dikenal dekat dengan para pentolan aktifis pergerakan Islam saat itu, seperti Anwar Harjono, Hussein Umar, KH A Cholil Ridwan, Abdul Qodir Djaelani, Ahmad Sumargono, KH Cholil Badawi, Hartono Mardjono, dan lain-lain. Ia juga bersahabat akrab dengan Dzikrullah, dan bergabung menjadi Wartawan Hidayatullah.

Fadli juga dikenal sebagai anak muda, yang berhasil membangun komunikasi antara tentara, pemerintah, dengan gerakan atau ormas Islam, khususnya  Dewan Dakwah, pada senja kala kekuasaan rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto.

Awalnya, banyak yang menduga bahwa Fadli dibesarkan oleh Prabowo. Ternyata tidak. Ia sudah besar dan memiliki jaringan yang luas, jauh sebelum kenal dengan Prabowo.

Bahkan, menurut keterangannya, tak pernah ia memanfaatkan Prabowo untuk kepentingan finansial pribadinya. Ide untuk membuat Partai Gerindra pun, bukan dari Prabowo, tetapi dari Fadli, dkk.

Setidaknya ada lebih dari tiga kali saya bertemu dan berbincang langsung dengan Fadli Zon. Pertama waktu ia menginisiasi untuk melakukan acara semacam daurah selama tiga hari kepada anak-anak muda tentang ideologi komunisme dan bahayanya, termasuk memetakan Komunisme Gaya Baru (KGB) yang saat itu sedang ramai.

Waktu itu kebanyakan pesertanya adalah anak-anak muda aktifis Islam dari Tanah Abang. Acaranya di Graha Insan Cita, Depok. Pembicaranya selain Fadli Zon adalah Taufiq Ismail (paman Fadli), dan Alfian Tanjung (Ketua Hammas), dll.

Sebelum acara itu, Saya bertemu dan ngobrol dengan Fadli di kantor Institute for Policy Studies (IPS) di kawasan Benhil, Jakarta Pusat, lembaga yang didirikan Fadli. Di kantor ini saya bertemu juga dengan Ricky, adik kandung Fadli, yang  tamat dari kuliah di Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Saya juga bertemu beberapa anak LIPIA, yang entah sedang bekerja di situ atau sedang berkunjung saja. Setelah itu, saya banyak ketemu dengan Fadli sebagai narasumber dari Majalah Sabili, tempat saya bekerja. Kesan Saya saat berbincang dengannya, bacaannya luas, dan analisanya cerdas.

Sekali lagi, ini bukan sedang mempromosikan sosok Fadli Zon. Tetapi berbagi cerita dari otobiografi yang ditulisnya.

Pelajarannya:

Pertama; dengan kapasitas keilmuan dan intelektualitas yang kita bangun, kita tidak akan canggung bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan para tokoh yang lebih senior dari kita.

Kedua; intelektualitas tak akan berguna jika kita tidak aktif terjun berkontribusi dalam persoalan-persoalan di lapangan dan kritis terhadap berbagai penyimpangan.

Antara intelektualisme dan aktifisme harus sejalan. Jangan seperti orang yang hidup di atas menara gading; kepala tidak bisa menyundul ke langit, kaki tak menapak ke bumi.

Ketiga; banyak-banyaklah membangun jaringan di saat muda.*/Arta Abu Azzam

  • Judul Buku    : Fadli Zon Menyusuri Lorong Waktu
  • Penerbit        :  Fadli Zon Library
  • Halaman       : 522
Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Fadli ZonHeadline
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Agama adalah Pandu
Tulisan selanjutnya Kematian Gempa Turki-Suriah melewati 28.000, Jutaan Membutuhkan Bantuan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump

Berita
11 Juli 2026 11:17
Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran
Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
BeritaNone

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial

17 Juni 2026 12:31
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?