Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Arab Spring antara Ilmu, Ulama dan Kebangkitan Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Agustus 2013 07:49 7:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Agustus 2013 07:49
Bagikan
kembali ke ilmu: kunci pembebasan al-Quds, kawasan Timur Tengah dan dunia Islam
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

BERBICARA ilmu di tengah kecamuknya adu senjata perang, seperti akhir-akhir ini terjadi di Timur Tengah, mungkin dianggap tidak bermanfaat, sia-sia, dan bahkan dicemooh sebagian orang sebagai tindakan meninggalkan jihad.

Itulah yang pernah dialami Imam al-Ghazali. Kenyataannya sekarang, kualitas kaum Muslimin turun dikarenakan ilmu yang rusak. Padahal, ilmu adalah modal dasar kebangkitan sebuah peradaban. Harap diingat, sejarah tidak bisa berbohong, bahwa generasi kader-kader didikan Imam al-Ghazali yang mengusung bendera kemenangan merebut al-Quds. Karena itu, tidak salah mengambil ibrah dari strategi jihad al-Ghazali ini.

Nidzamul Muluk, seorang menteri dari Dinasti Saljuk, selama 30 tahun menjabat, mencurahkan segala kekuasaan dan kemampuannya untuk menyokong para ulama. Tidak lain untuk menghidupkan kembali ilmu. Meski ia tidak memegang jabatan puncak dalam kesultanan, namun kekuasaan berada ditangannya. Ia memiliki pemikiran yang lurus. Tidak fanatik pada madzhab tertentu, berusaha mengakomodasi seluruh madzhab yang ada dan menghormatinya. Salah satu keunikannya, majelis Nidzamul Muluk tidak pernah sepi dari ulama dan fuqaha (ahli fikih).

Ada seseorang yang mempertanyakan kebiasaan ini kepadanya: “Sesungguhnya para ulama tersebut telah menyibukkanmu dari banyak urusan kenegaraan”. Namun, Nidzamul Muluk menjawab: “Mereka (para ulama) itulah perhiasaan dunia dan akhirat. Sekiranya mereka duduk di atas kepalaku, maka aku tidak akan menganggapnya berlebihan”(Majid Irsan al-Kilani, “Hakadza Dzahara Jil Shalhuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds” (Beginilah Generasi Shalahuddin Lahir dan Beginilah Palestina. Direbut kembali hal. 69).

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Nidzamul Muluk adalah contoh penguasa yang mencintai ilmu dan menghormati ulama. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali diangkat olehnya menjadi Guru Besar di Madrasah Nidzamiyah, Madrasah milik pemerintahan Nidzamul Muluk. Imam al-Ghazali diberi gelar kehormatan, Zainuddin Syaraf al-Aimmah. Kedudukan al-Ghazali sangat dihormati dan berpengaruh di kesultanan.

Imam al-Ghazali tidak segan-segan nahi munkar di dalam pemerintahan. Ia pernah menolak secara terbuka dan tegas rencana pelantikan Malik Mahmud sebagai sultan. Al-Ghazali melihat Malik Mahmud tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin Negara. Ketika, pemerintahan telah berbelok dari syariat, al-Ghazali menarik diri. Bagaimanapun, kedudukan tinggi tidak menghalangi Imam al-Ghazali mengkritisi fenomena formalitas di pemerintahan, kejahatan Negara ia buka, dan melakukan islah. Ia pernah menulis kitab al-Tibr al-Masluk fi Nasihati Muluk, dihadiahkan kepada sultan berisi nasihat dan kritikan.

Antara Nidzamul Muluk dan Imam al-Ghazali adalah gambaran baik tentang adab seorang penguasa dan tugas seorang ulama. Seorang kepala Negara harus mencintai ilmu dan menempatkan ulama sebagai poros utama dalam melakukan perbaikan masyarakat. Seorang ulama haruslah memiliki visi amar ma’ruf nahi munkar, tidak menjual agama, tidak penjilat, dan berani berkata ‘tidak’ pada kebijakan Negara yang  menyalahi syariat. Sebuah kolaborasi yang porosnya adalah tradisi ilmu. Dan ternyata, kolaborasi dua komponen  inilah menjadi penentu kebangkitan Islam.

Al-Ghazali mengingatkan seorang khalifah tidak boleh meninggalkan Ulama. Namun, seorang sultan juga harus cermat, tidak sembarang ulama yang harus diminta nasihat. Ulama Suu’ (ulama jahat) justru menjerumuskan negara pada kerusakan. Cirinya, mereka selalu memuji-muji raja secara tidak wajar, tujuan dakwahnya selalu mengarah pada duniawi. Sebalikanya seorang ulama sejati (ulama al-akhirah) ia sama sekali tidak mengharapkan balasan uang dari tangan seorang raja, ia memberi nasihat murni ikhlas karena meminginginkan perbaikan dalam diri raja, negara dan masyarakat.

Imam al-Ghazali hidup di masa Perang Salib. Beliau hidup antara tahun 1058 M-1111 M. Ketika kesultanan mengalami kekacauan, baik politik maupun akhlak, al-Ghazali menarik diri dan melepas jabatan dari guru besar madrasah Nidzamiyah. Al-Ghazali mengamati segenap tujuan dan perilaku pejabat dan ulama. Dan mendapati bahwa agama menjadi sekedar simbol kosong yang digunakan untuk mendapatkan kedudukan terhormat. Sementara afiliasi kepada madzhab tidak lebih dari alat untuk memperoleh jabatan politis dan keuntungan duniawi. Dua faktor ini dilihat sebagai penyebab, matinya ilmu. Dan matinya ilmu merupakan tanda matinya peradaban Islam. Matinya peradaban zaman itu salah satunya, ditandai dengan kekalahan dalam Perang Salib I dan perang saudara antar penguasa Muslim.

Selain aliran Mu’tazilah dan Syiah Batihiniyah, permusuhan dan fanatisme madzhab termasuk yang diperangi sehinga melahirkan hasud dan pertikaian antar pengikut madzhab fikih. Masyarakat terpecah sehingga melupakan persoalan genting yang sedang dihadapi. Penyakit jiwa ini berlanjut pada pengkafiran terhadap pengikut madzhab lainnya. Kitab Al-Fashlu al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah mendeskripsikan pengkafiran terhadap pengikut madzhab lain. Ia mengajukan kritik terhadap pengikut Hanbaliyah dan Asy’ariyah yang saling mengkafirkan dalam persoalan furu’. Kelompok utama yang ia kritik adalah para ulama. Terutama yang menjual agama demi merapup keuntungan duniawi dan pribadi.

Imam al-Ghazali menulis kitab Ihya’ Ulumuddin, artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama. Dalam kitab tersebut, Imam al-Ghazali melakukan reformasi intelektual dan moral kaum Muslim dalam perspektif yang luas dan lengkap.  Ia menemukan, kelemahan kaum Muslimin ternyata bermuara kepada kelemahan moral dan jiwa. Krisis politik dan militer disebabkan rusaknya jiwa kaum Muslimin. Dan kehancuran jiwa diakibatkan kekacauan ilmu.

Upaya al-Ghazali tersebut ternyata diakui oleh penulis Barat, Nikita Elissef. Elissef mengatakan, kelemahan spiritual kaum Muslimin pada Perang Salib I berhasil diberbaiki oleh al-Ghazali yang ketika itu mengajar di Damaskus. Ia menekankan jihad melawan nafsu untuk mereformasi jiwa. Ternyata, kata Elissef,  50 tahun kemudian, yaitu di masa Sultan Nuruddin Zanki, kaum Muslimin mampu bangkit dan melakukan jihad melawan Salib secara efektif. Satu persatu kota kunci berhasil ditaklukkan. Zanki membuka kota Edessia dan Aleppo, kota kunci menuju al-Quds. Diceritakan, Nuruddin Zanki juga membangun rumah-rumah sufi dan madrasah di sekitar negeri Syam.

Strategi Imam al-Ghazali untuk kebangkitan Islam tidak lepas dari poros perbaikan ilmu dan ulama. Ia fokus pada dua tugas; Pertama, melahirkan generasi baru ulama dan elit pemimpin yang mampu berbuat dengan pemikiran yang bersatu dan tidak terpecah-pecah, usaha mereka saling melengkapi dan tidak saling menjegal. Kedua, memfokuskan perhatian untuk mengatasi penyakit-penyakir krusial yang menggerogoti umat dari dalam dari pada sibuk dengan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut, yang di antaranya adalah ancama agresi militer musuh yang datang dari luar.

Kembali kepada ilmu dan ulama adalah kuci utamanya. Pejuang-pejuang yang jiwanya rusak dan kotor dikarenakan ilmu yang tidak mapan. Terhadap kelompok ini tentu Allah tidak ridha memberi amanah Islam. Allah swt hanya memberi amanah kepada kaum Muslimin yang jiwanya dan ridha atas ketentuan Allah swt. Persudaran Muslim hanya ditegakkan atas dasar tradisi ilmu.*

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya, Wakil Sekretaris MIUMI Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al-Ghazalial-Qudsarab springilmujihadulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya perjuangan Penjajah Zionis Manipulasi Kurikulum Pendidikan di Al-Quds
Tulisan selanjutnya Zionis Yahudi Bersih-Bersih Tembok Ratapan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?