Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Ramadhan Lebih Lengkap dengan Ibadah yang Berkualitas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2012 13:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: Nashirul Haq

BULAN Ramadhan adalah musim kebaikan karena berbagai bentuk ibadah ritual disyariatkan pada bulan ini.  Melalui ibadah tersebut hati orang beriman senantiasa dekat dengan Tuhannya, diproses untuk menjalani tazkiyah (penyucian jiwa). Pintu kebaikan terbuka lebar untuk mengantarkan ke pintu syurga, pintu kemaksiatan dipersempit agar dapat menjauhkan diri dari siksa neraka di akhirat kelak.

Kebaikan dan amal shaleh begitu mudah dan ringan dilakukan pada bulan ini dibandingkan di luar bulan Ramadhan. Semangat beribadah dan berbuat baik terus meningkat, disamping karena terkondisi oleh suasana Ramadhan di mana kaum muslimin pada umumnya menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih (qiyam Ramadhan), juga karena termotivasi dengan ganjaran kebaikan yang berlipat ganda sebagaimana dijanjikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Pada bulan Ramadhan kita menyaksikan betapa kaum Muslimin sangat antusias menjalankan ibadah, baik yang sifatnya fardhu seperti shalat lima waktu, puasa dan zakat maupun ibadah sunnah seperti tarawih, tadarrus al Qur’an, i’tikaf, sadaqah, infaq, umrah dan sebagainya. Semua ini adalah ibadah dan amal shaleh yang dianjurkan pada bulan Ramadhan. Namun yang perlu dipahami dan diperhatikan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya mementingkan jumlah atau kuantitas semata, tetapi justru kualitasnya yang perlu diutamakan. Allah Subhanahu Wata’ala. berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

“Allah lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Al-Mulk 67: 2)

Kata “ahsanu ‘amalan” yang berarti “yang paling baik amalnya” mengisyaratkan bahwa penilaian terhadap ibadah yang dilakukan oleh setiap hamba ditentukan oleh kualitasnya. Ada dua hal yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai kualitas suatu ibadah yaitu aspek keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS: Al-Bayyinah 98: 5)

Ikhlas artinya mentauhidkan dan memurnikan niat karena Allah Subahanahu wa Ta’ala dalam ketaatan mendekatkan diri kepada-Nya tanpa mengharapkan apapun dari makhluk berupa pujian dan sebagainya. Orang yang memiliki sifat ikhlas tidak akan menghiraukan penilaian manusia karena mereka selalu mengharapkan penilaian dan perhatian Sang Khaliq. Ikhlas juga merupakan kesesuaian antara amalan lahir dan bathin (hati) seorang hamba.

Setelah keikhlasan, faktor berikutnya yang menentukan kualitas suatu ibadah adalah aspek mutaba’ah, yaitu kesesuaian dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan tanpa didasari perintah kami, maka ia tidak diterima.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang yang rajin dan bersemangat melakukan ibadah ritual khususnya pada bulan Ramadhan ini seperti shalat sunnah dengan jumlah puluhan rakaat, namun sering mereka tidak mengindahkan tata cara shalat (kaifiyat) yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wassalam seperti tuma’ninah, gerakan dan bacaan yang sempurna. Mereka umumnya beranggapan bahwa yang penting dalam ibadah adalah keikhlasan, sedangkan kaifiyatnya apakah sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. tidak menjadi perhatian. Prinsip mereka bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan oleh hamban-Nya.

Tidak sedikit dari kaum muslimin yang sangat antusias menjalankan berbagai ibadah yang sebenarnya tidak jelas dasar syar’inya. Hanya bermodalkan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat, atau mungkin atas dasar petuah seorang guru yang diambil dari kitab tertentu tanpa mau tahu landasan dalilnya, haditsnya shahih atau lemah. Bahkan ketika ada orang lain yang melakukan hal berbeda dengan tradisi mereka, justru dianggap ajaran baru yang sesat. Fenomena ini sering kita saksikan di mana-mana, khususnya di kalangan orang awam, baik di tanah air maupun di negri jiran Malaysia di mana penulis sedang menyelesaikan pendidikan.

Pada saat yang sama ada segolongan umat Islam yang sangat ketat dalam menyikapi aspek mutaba’ah atau kesesuaian dengan sunnah. Bahkan dengan mudahnya memvonis  bid’ah ketika menemukan pelaksanaan ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami karena dianggap bertentangan dengan sunnah. Ada di antara mereka yang cenderung fanatik dengan fatwa ulama tertentu dan tidak berkenan menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama mu’tabar ahlus sunnah sekalipun.

Boleh jadi ada di antara kaum muslimin yang tidak terlalu mempersoalkan aspek keikhlasan, kekhusyu’an dan suasana hati. Yang penting bagi mereka tata cara pelaksanaannya sudah sesuai dengan sunnah, seolah-olah sudah dijamin diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah seperti ini tentu terasa hambar dan kering karena hanya memperhatikan sisi kaifiyat-nya saja dan mengabaikan aspek spritualnya.

Momen Ramadhan ini hendaknya kita maksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah wajib (fardhu) maupun sunnah (nawafil) dengan penuh kekhusyu’an, keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan-Nya. Kemudian terus mempelajari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam beribadah agar dapat meneladaninya dengan baik sehingga ibadah kita menjadi ahsanu amalan, yaitu amalan yang terbaik dan berkualitas yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala A’lam.*

Penulis adalah Mahasiswa PhD di International Islamic University Malaysia-IIUM

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ternyata Indonesia Impor Kurma Israel Sejak Januari
Tulisan selanjutnya JPRMI Desak Pemerintah Usir Dubes Myanmar dari Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?