MATAHARI sebentar lagi terbenam. Tapi di Khartoum, Ibukota Republik Sudan, senja itu cuaca masih terik laksana siang.
Negara di timur laut benua Afrika ini memang sangat panas. Saat hidayatullah.com menyambanginya awal Maret lalu, suhu di Khartoum sempat mencapai 43 derajat celsius pada malam hari.
Tak heran, konsumsi air minum masyarakatnya sangat tinggi. Bagaimana rasanya berpuasa di negeri dua Sungai Nil ini?
“Berat sekali. Apalagi bagi orang Asia yang fisiknya berbeda dengan orang Afrika,” ungkap Faiz Ahmad Kholis, mahasiswa asal Indonesia di Universitas Afrika Internasional (UAI), Khartoum.
Mahasiswa semester 6 asal Dumai (Riau) ini merasakan betul betapa beratnya berpuasa di Sudan. Cuaca sangat panas membuatnya sering berkeringat. Tubuh mengalami dehidrasi. Apalagi kalau harus beraktivitas di luar ruangan.
Kawan Faiz, Abdurrahman, juga merasakan hal yang sama. “Ramadhan kali ini datang di saat musim panas pada puncaknya. Bisa sampai 50 derajat celcius,” ujar mahasiswa semester 4 asal Makassar (Sulawesi Selatan) ini.
Itu pula yang dirasa oleh Abdullah Qohar, mahasiswa UAI semester 2. Kata pria kelahiran Ternate (Maluku Utara) ini, cuaca panas jadi lebih ekstrem saat listrik padam di siang hari.
“Mayoritas dari kami dan orang-orang di sini mendinginkan diri di masjid-masjid. Selain bisa baca al-Qur’an, AC-nya juga kencang,” kisahnya.
Untuk mengatasi panas, selain berlindung di masjid, mereka kerap membasahi kepala terutama jika mau keluar ruangan. Bahkan ada yang membasahi kasur agar tidak kepanasan ketika tidur.
Namun mereka yang sudah lama tinggal di Sudan akan terbiasa dengan kondisi itu. “Cukup mengatasinya dengan mengurangi jam keluar,” kata Abdurrahman yang sudah 4 tahun di Khartoum.
Lebih berat lagi jika puasa Ramadhan bersamaan dengan ujian akhir semester. Fisik dan pikiran semua terkuras. Aktivitas ibadah mahdhah pun mau tak mau harus berkurang.
Abdurrahman sudah mengalami 3 kali Ramadhan sambil ujian di kampus. Begitulah memang yang sering dilakukan sebagian kampus dan universitas di Sudan. “Tahun kemarin ujiannya saat Syawal,” imbuhnya kepada hidayatullah.com.
Supaya nilai ujiannya optimal, sebelum bulan puasa, mahasiswa akan berusaha mempelajari semua mata kuliah. Pas Ramadhan tinggal baca sebagian materi ujian.
Ketika buka puasa pun diperlukan kesabaran ekstra. Habis Ashar para mahasiswa sudah harus antri di dapur. Kadang terjadi keributan kecil dengan mahasiswa asal Afrika yang memang berbeda kultur.
Agar tak ribut, selain bersabar, Faiz dan kawan-kawan berusaha selalu datang ke dapur lebih awal. Atau menaruh piring antrian sebelum shalat Ashar.
Menu buka puasa di asrama cukup beragam. Saat sahur biasanya makan roti dan minum teh. Buka puasanya sirup dan nasi. Makan malam roti dan kacang khas Sudan. Kadang ada pembagian ruthab (kurma muda). “Kalau sahur, usahakan banyak minum,” kata Faiz.
Jika ingin menu yang lain, maka mahasiswa harus masak sendiri. Kadang memang kangen masakan Indonesia. Pernah karena kebanyakan makan sambal pecel saat sahur, mereka jadi muntah dan mencret. “Sekitar 5 orang yang puasanya batal,” tuturnya.
Meski penuh tantangan, para mahasiswa asal Indonesia di Sudan berusaha sabar dan terus bertahan. Mereka bayangkan, apa yang dialami ini masih jauh lebih ringan daripada perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
“Ketika Perang Badar, Rasulullah dan para sahabat dalam kondisi puasa malah diperintahkan untuk berperang,” ujarnya.* Kisah ini dan yang lainnya silakan baca di majalah Suara Hidayatullah edisi Ramadhan 1437/Juni 2016, rubrik Reportase Khusus Ramadhan.