Hidayatullah.com– Tahun ini pertama kali kami mendapat kesempatan menjalani puasa di Birmingham, Inggris, United Kingdom (UK) dengan rentang waktu puasa selama 18-19 jam.
Sebagai pengalaman pertama, tentu banyak hal yang saya khawatirkan terkait lamanya waktu berpuasa serta pendeknya jarak antara buka puasa-shalat tarawih-sahur-shalat subuh.
Terutama untuk anak pertama saya yang berusia 7 tahun. Sebenarnya, saat di Indonesia tahun lalu, Alhamdulillah ia sudah bisa puasa sampai maghrib.
Namun, saya sebagai orangtua khawatir dengan waktu yang lama. Di sini sahur jam 03.00, dan baru berbuka pukul 21.30. Belum lagi di sekolah dengan teman-teman yang kebanyakan non-Muslim.
Baca: Umat Islam Pakistan Berpuasa di Bawah Suhu 46 Derajat Celsius
Namun kekhawatiran tersebut perlahan berkurang. Sebab memasuki pekan kedua Ramadhan, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Anak saya tetap bisa melakukan puasa. Saya rasakan betul ternyata menjalani puasa dalam rentang waktu yang lebih panjang dari biasanya waktu di Indonesia tidak seberat yang dibayangkan.
Malah yang saya rasa berat adalah sahur. Karena harus sudah bangun pukul 01.30, karena subuh jatuh pukul 02.43 waktu Inggris. Sedangkan waktu isya dan tarawih antara pukul 23.00-23.30.
Terhitung kurang lebih saya, suami dan anak-anak hanya tidur 1,5 jam-2 jam. Berat memang apalagi untuk anak saya, terlebih ia tetap harus sekolah. Beruntung waktu sekolah di sini dimulai pukul 09.00, jadi anak saya bisa tidur kembali setelah subuh.
Sebagian dari teman-teman kami di sini memilih untuk tidak tidur setelah tarawih, supaya tidak kesiangan bangun sahurnya. Mereka baru tidur setelah shalat subuh, hingga siang hari.
Pasalnya, jika tidak sahur maka harus menunggu hampir 24 jam lagi untuk bisa makan dan minum.

Berpuasa Sendirian di Kelas
Anak saya bukan satu-satunya Muslim di kelasnya. Ada beberapa temannya yang Muslim asal Indonesia, Pakistan, Malaysia, India, dan Jamaica. Namun hanya anak saya yang menjalani puasa di kelas.
Ternyata hal tersebut menjadi perhatian khusus dari sekolah. Saya dan suami sempat “ditegur” perihal berpuasa. Anak saya menolak saat diberi makanan ringan rutin sebelum waktu makan siang. Dia bilang, “No! Thank you, I am fasting.” (Tidak! Terima kasih, saya sedang berpuasa. Red)
Pihak sekolah mengatakan, anak saya masih di bawah umur artinya masih terlalu kecil untuk menjalani puasa. Jadi disarankan untuk tidak berpuasa, karena bisa berpengaruh saat mengikuti pelajaran dan kegiatan sekolah dengan baik.
Saya sempat menjelaskan bahwa anak saya masih dalam proses belajar, dan ini bukan kali pertama ia berpuasa. Selain itu saya dan suami sebenarnya tidak mengharuskan dia tahan sampai maghrib. Apabila ia merasa tidak kuat, ia boleh membatalkan puasanya.
Bahkan setiap hari, tiap pukul 12.00 siang anak saya membatalkan puasanya baik di rumah maupun di sekolah lalu kembali melanjutkan puasanya. Begitu pula saat di sekolah, ia ikut makan bersama teman-teman di waktu jam makan siang yaitu pukul 12.00 waktu setempat.
Setelah beberapa penjelasan, meski sempat ditentang pihak sekolah, beruntung akhirnya mereka mau memahami. Maklum, Islam sebagai minoritas di sini jadi mereka tidak terbiasa melihat anak-anak belajar berpuasa sejak usia dini.
Hingga saat ini kami masih terus menjalani puasa dengan antusiasme yang luar biasa. Betapa kami bersyukur diberi kesempatan mendapat pengalaman Ramadhan yang berbeda dan tentunya istimewa.
Bagaimana tidak, baru kali ini saya merasakan buka puasa dalam keadaan kantuk luar biasa.* Kiriman Cici M dari Birmingham, Inggris, untuk hidayatullah.com