Hidayatullah.com– Tahun ini Allah mentakdirkan kami mengecap nikmatnya Ramadhan di kota Tilburg, Belanda. Pengalaman pertama bagi kami berpuasa dengan durasi waktu yang lumayan panjang, sekitar 19 jam karena bertepatan dengan musim panas.
Selain panjangnya waktu puasa, tantangan lain bagi kami adalah pemandangan “luar biasa” dari penduduk negeri ini dengan gaya berpakaian musim panasnya.
Bagi mereka, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanjakan diri dengan sinar matahari serta udara yang menghangat setelah 3 bulan lebih harus bersahabat dengan dingin.
Saat ini jeda antara selesai shalat tarawih dengan waktu sahur hanya sekitar 3 jam, sehingga saya dan suami sering memutuskan untuk tetap terjaga dan mengganti waktu istirahat setelah shalat subuh.
Sebelumnya, sulit bagi kami membayangkan berpuasa sepanjang ini. Namun diluar dugaan kami, Allah memberikan kemudahan dengan kondisi fisik yang kami rasa jauh lebih baik dibandingkan ketika berpuasa di tanah air.
Mungkin faktor udara sejuk yang mempengaruhi tubuh tidak mengalami dehidrasi. Hanya sesekali udara Tilburg di atas 32o celcius. Secara pribadi kami tidak mengalami kendala berarti.
Berbeda halnya dengan anak-anak kami yang masih berusia pra-baligh. Kami harus memahamkan sejak awal bahwa puasa di sini tidak sama dengan ketika berpuasa di Indonesia. Jika saat di Indonesia, anak-anak akan selalu dikondisikan dengan lingkungan yang menghargai bulan puasa. Sekolah akan meniadakan istirahat makan siang dan mengganti dengan kegiatan Ramadhan yang bermanfaat.
Sedangkan di sini, semua akan berjalan seperti biasa. Tak ada pengecualian bagi yang berpuasa, termasuk saat di sekolah. Mereka tetap harus mengikuti pelajaran olah raga maupun kegiatan fisik lainnya.
Bahkan ketika sekolah merayakan datangnya musim panas dengan mendatangkan truk es krim dan membaginya secara gratis kepada para siswa, anak-anak kami sempat diminta untuk membatalkan puasa pada hari itu agar tidak kehilangan momentum perayaan.
Alhamdulillah, anak-anak kami tetap pada pendirian untuk melanjutkan puasa walaupun teman-teman di sekolah menikmati lelehan es krim yang sangat menggoda ketika udara memanas.
Kami bersyukur karena anak-anak kami tak sendiri ketika harus tinggal di ruang kelas saat anak-anak yang lain berpindah ke ruang makan untuk makan siang. Ada beberapa siswa Muslim yang juga menjalankan puasa Ramadhan.
Ramadhan 1438 H ini masjid hanya menyediakan kurma dan kue khas Maroko sebagai menu pembatal puasa bagi para jamaah. Mungkin hal ini dikarenakan jeda waktu maghrib dan isya yang begitu pendek.
Saat ini masjid juga sedang berkonsentrasi pada pengumpulan donasi untuk pembangunan gedung masjid yang baru. Penggalangan dana ini dilakukan selama 7 hari pada bulan Ramadhan dalam 3 sesi.
Di bulan Ramadhan jadwal kelas mengaji tetap sama, kecuali untuk kelas akhwat diubah waktunya menjadi hari Ahad dengan materi pengulangan (muroja’ah) hafalan. Rata-rata masing orang menyetorkan 3-5 halaman.
Shalat tarawih langsung dimulai setelah shalat isya dengan 8 rakaat dan 3 rakaat shalat witir. Bacaan surat dimulai dari Al-Baqarah. Lama waktu shalat tarawih relatif sama dengan di Indonesia tetapi tidak disertai kultum.
Rata-rata jamaah langsung bergegas pulang untuk persiapan sahur. Walaupun waktu shoalat tarawih yang sangat larut, tidak menghalangi antusiame jamaah wanita untuk ikut serta. Sampai saat ini belum terlihat ada jamaah yang beriktikaf di masjid.* Kiriman Faried Mariya (Tilburg, Belanda) untuk hidayatullah.com